Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 19 April 2026 | Iran kembali menutup akses Selat Hormuz pada hari Senin (13/4/2026) dengan menuduh Amerika Serikat melakukan blokade serta menuduh perompakan laut di wilayah tersebut. Penutupan ini menambah ketegangan pada jalur laut yang sudah menjadi titik rawan geopolitik global. Sementara itu, sorotan dunia beralih ke Selat Malaka, arteri maritim utama di Asia Tenggara, yang kini menghadapi tekanan serupa akibat usulan izin militer Amerika Serikat untuk melintasi wilayah udara Indonesia.
Kementerian Luar Negeri Indonesia mengonfirmasi bahwa proposal akses udara militer AS masih dalam proses pertimbangan. Permintaan tersebut muncul setelah penandatanganan kesepakatan pertahanan antara kedua negara pada 13 April 2026. Para pakar menilai bahwa langkah ini dapat mengubah dinamika keamanan di kawasan, khususnya bila terjadi eskalasi di Selat Hormuz yang berdampak pada aliran energi dan perdagangan internasional.
Selat Malaka, dengan lebar paling sempit hanya 2,8 kilometer di Selat Phillips dekat Singapura, merupakan jalur pelayaran terpendek yang menghubungkan Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Menurut data Energy Information Administration (EIA), sekitar 23,2 juta barel minyak per hari melintasi selat ini pada paruh pertama 2025, setara dengan hampir 29 persen perdagangan minyak global melalui laut. Selain itu, selat ini menangani sekitar 260 juta meter kubik gas alam cair (LNG) per hari, serta menjadi rute utama bagi pengiriman barang elektronik, mobil, dan komoditas pertanian.
- 25% perdagangan mobil dunia melewati Selat Malaka.
- Kurang lebih 108 insiden perompakan laut tercatat pada tahun 2025, angka tertinggi sejak 200.
- Selat Malaka menghubungkan langsung ke Laut China Selatan, jalur yang dilalui sepertiga total perdagangan global.
Para pakar wilayah, termasuk Azifah Astrina, kandidat doktor di University of Illinois Urbana‑Champaign, menekankan bahwa peran Selat Malaka melampaui sektor energi. “Jika menggabungkan faktor geografis, ketergantungan energi, volume barang, serta keberagaman jenis muatan, Selat Malaka memiliki karakter yang berbeda dibandingkan Selat Hormuz,” ujarnya. “Hormuz memang sangat penting bagi perdagangan global, namun tidak berperan sebesar Selat Malaka sebagai pusat transshipment.”
Ketegangan di Selat Hormuz berawal dari tuduhan Iran bahwa Amerika Serikat telah memblokir kapal-kapal Iran secara sepihak, termasuk penutupan pelabuhan. Iran menuding AS melakukan aksi “blak-blakan” yang mengganggu aliran minyak dunia. Sementara itu, pihak AS tetap menegaskan kebijakan keamanan maritimnya, meski belum mengumumkan perubahan signifikan terkait blokade tersebut.
Pengaruh penutupan Hormuz terasa langsung pada pasar energi global, dengan lonjakan harga minyak mentah dan ketidakpastian pasokan. Dampaknya juga menambah beban pada negara‑negara pengimpor energi yang kini harus mencari rute alternatif, termasuk meningkatkan ketergantungan pada Selat Malaka. Namun, peningkatan lalu lintas di Selat Malaka menimbulkan kekhawatiran baru terkait keamanan maritim, terutama mengingat tingginya insiden perompakan pada 2025.
ReCAAP Information Sharing Centre mencatat bahwa 108 kasus perompakan laut terjadi di Selat Malaka dan Selat Singapura pada tahun 2025, angka tertinggi dalam dua dekade terakhir. Sebagian besar insiden melibatkan pembajakan kapal kargo dan kapal penumpang, dengan modus yang beragam mulai dari penembakan hingga penahanan sandera. Pemerintah Indonesia bersama dengan negara‑negara tetangga telah meningkatkan patroli gabungan, namun tantangan logistik dan wilayah yang luas tetap menjadi kendala.
Di tengah situasi ini, pemerintah Indonesia menegaskan komitmen untuk menjaga keamanan Selat Malaka tanpa mengorbankan kedaulatan wilayah udara. Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Mahfud MD, menyatakan bahwa setiap keputusan terkait akses militer AS akan melalui proses evaluasi menyeluruh, termasuk mempertimbangkan implikasi terhadap hubungan bilateral dan stabilitas regional.
Dengan ketegangan yang terus memanas di Selat Hormuz dan potensi eskalasi di Selat Malaka, para analis memperingatkan bahwa Asia Tenggara dapat menjadi arena persaingan geopolitik baru antara kekuatan Barat dan Timur. Kestabilan jalur perdagangan global sangat bergantung pada kemampuan negara‑negara kawasan dalam menyeimbangkan kepentingan keamanan nasional dengan kebutuhan ekonomi.
Kesimpulannya, penutupan kembali Selat Hormuz oleh Iran dan usulan akses udara militer AS menimbulkan rangkaian efek domino yang memperkuat posisi strategis Selat Malaka. Jika tidak ditangani dengan koordinasi multinasional, risiko peningkatan perompakan, gangguan perdagangan, dan ketegangan politik dapat mengancam keamanan maritim regional serta stabilitas ekonomi global.









