Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 27 Juni 2026 | Serangkaian serangan udara yang dilancarkan oleh Amerika Serikat (AS) terhadap target-target Iran pada hari Jumat merupakan balasan atas serangan drone yang menargetkan kapal kargo di Selat Hormuz sehari sebelumnya. Insiden ini memicu ketegangan dalam kerangka gencatan senjata yang rapuh antara AS, Iran, Israel, dan Lebanon.
Menurut laporan, drone yang dikendalikan oleh Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) Iran telah menyerang kapal kargo bendera Singapura, M/V Ever Lovely, yang sedang keluar dari Selat Hormuz di sepanjang pantai Oman. AS langsung menanggapi serangan ini dengan melancarkan serangan udara terhadap lokasi penyimpanan misil dan drone serta situs radar pesisir Iran.
Dalam pernyataannya, Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan bahwa serangan-serangan tersebut merupakan respon kuat atas agresi Iran yang tidak diprovokasi terhadap kapal kargo. AS menegaskan bahwa tindakan Iran telah melanggar gencatan senjata dan mengancam kebebasan navigasi di koridor perdagangan internasional yang vital.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya telah mengancam akan mengambil tindakan militer terhadap Iran jika serangan-serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz berlanjut. Ia menyatakan bahwa AS akan memastikan keamanan kapal-kapal yang melintasi selat tersebut dan menegaskan bahwa AS tidak akan mentolerir agresi Iran.
Sementara itu, perundingan perdamaian antara Israel dan Lebanon telah memasuki hari keempat di Washington, D.C. Presiden Trump juga mengumumkan bahwa aset-aset Iran yang dibekukan akan digunakan untuk membeli produk-produk pertanian AS untuk rakyat Iran. Namun, pejabat Iran membantah klaim tersebut dan menegaskan bahwa Iran tidak memerlukan bantuan AS.
Ketegangan antara AS dan Iran telah meningkat sejak serangan drone Iran terhadap kapal kargo di Selat Hormuz. AS telah meningkatkan kehadiran militer di wilayah tersebut untuk melindungi kapal-kapal yang melintas. Sementara itu, Iran terus mempertahankan posisinya dan menegaskan bahwa ia akan melawan setiap agresi terhadap wilayahnya.
Dalam menghadapi situasi yang semakin kompleks ini, masyarakat internasional terus memantau perkembangan dan menyerukan penyelesaian damai atas konflik ini. Gencatan senjata yang rapuh antara AS dan Iran masih berlangsung, tetapi ketegangan terus meningkat. Apakah situasi ini akan memburuk atau membaik, hanya waktu yang akan menjawabnya.











