Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 13 Mei 2026 | Krisis utang negara dan krisis iklim menjadi ancaman serius bagi masa depan perempuan di seluruh dunia. Berdasarkan laporan terbaru dari Program Pembangunan PBB (UNDP), beban utang negara yang semakin meningkat memberikan dampak yang lebih buruk bagi perempuan di negara-negara berkembang. Laporan tersebut menunjukkan bahwa utang ini mengancam pekerjaan perempuan, menurunkan pendapatan mereka, dan memperburuk kondisi kesehatan.
Menurut laporan UNDP, meningkatnya pembayaran utang dapat menyebabkan hilangnya 55 juta pekerjaan perempuan dalam jangka pendek, dan hingga 92,5 juta pekerjaan dalam jangka panjang saat beban utang negara berubah dari tingkat sedang ke tingkat yang tinggi. Pendapatan rata-rata perempuan diperkirakan akan turun sebesar 17 persen, sementara pendapatan laki-laki cenderung tidak berubah.
Krisis iklim juga menjadi ancaman serius bagi perempuan. Data Children’s Climate Risk Index 2026 mengungkapkan bahwa Indonesia berada di urutan ke 46 dari 163 negara, yang mencerminkan tingginya paparan terhadap guncangan krisis iklim. Anak perempuan menghadapi kerentanan yang lebih kompleks karena meningkatnya risiko putus sekolah, keterbatasan akses informasi, hingga risiko kekerasan dalam situasi krisis.
Di sisi lain, krisis energi yang dipicu oleh konflik antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel memberikan hantaman keras bagi perekonomian Bangladesh. Sektor garmen, yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi Bangladesh, berada dalam posisi terjepit. Kelangkaan energi mengakibatkan pemadaman listrik yang semakin sering terjadi di kawasan-kawasan industri.
Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Utama Tanjung Priok juga menginisiasi Joint Exercise Business Continuity Management System (BCMS) Tumpahan Minyak yang melibatkan lebih dari 30 stakeholder strategis pelabuhan dalam satu sistem penanganan krisis terintegrasi di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok.
Untuk mengatasi krisis ini, diperlukan upaya adaptasi yang efektif. Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia) bersama PREDIKT secara resmi meluncurkan program CERIA (Climate Education, Resilience, Innovation, and Action) untuk meningkatkan ketahanan iklim dan pembangunan berkelanjutan.
Kesimpulan, krisis utang negara dan krisis iklim menjadi ancaman serius bagi masa depan perempuan di seluruh dunia. Diperlukan upaya adaptasi yang efektif untuk mengatasi krisis ini dan meningkatkan ketahanan iklim dan pembangunan berkelanjutan.











