Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 17 April 2026 | Wiranto, tokoh militer yang pernah menjabat sebagai Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) pada era Reformasi, kini kembali menjadi sorotan publik setelah resmi bergabung dengan Partai Rakyat Indonesia (PRI) dan mengisi posisi menteri senior dalam kabinet pemerintahan. Perjalanan kariernya mencakup fase-fase penting dalam sejarah politik dan keamanan Indonesia, mulai dari masa Orde Baru hingga dinamika politik masa kini.
Karier militer Wiranto dimulai pada awal 1970-an setelah lulus dari Akademi Militer di Magelang. Ia menapaki jenjang pangkat secara cepat, mengemban tugas penting di medan operasi di Timor Timur, Aceh, dan Papua. Pada tahun 1998, tepat ketika Indonesia mengalami krisis politik pasca kejatuhan Presiden Soeharto, Wiranto diangkat menjadi Panglima ABRI, menggantikan Soehardjo. Penunjukan tersebut menandai puncak karier militer beliau, sekaligus menempatkannya di tengah gejolak reformasi yang menuntut perubahan struktural dalam institusi pertahanan.
Selama masa kepemimpinannya, Wiranto memprakarsai sejumlah reformasi internal, termasuk upaya profesionalisasi TNI, penguatan hubungan sipil-militer, serta penataan kembali peran ABRI dalam konteks demokrasi. Namun, masa jabatan tersebut tidak lepas dari kontroversi, terutama terkait penanganan kerusuhan pada Mei 1998 dan operasi militer di Timor Timur yang menuai kecaman internasional. Beberapa organisasi hak asasi manusia menuduh keterlibatan pasukannya dalam pelanggaran hak asasi, meski Wiranto selalu membantah tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa operasi dilaksanakan sesuai prosedur militer.
Setelah pensiun dari militer pada tahun 1999, Wiranto mengalihkan fokusnya ke dunia politik. Pada tahun 2004, ia mencalonkan diri sebagai calon presiden bersama pasangan running mate, namun hasil pemilu tidak menguntungkan. Selanjutnya, Wiranto bergabung dengan Partai Golkar, menjadi Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan pada Kabinet Indonesia Bersatu II (2009-2014) di bawah kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dalam jabatan tersebut, ia berperan dalam mengkoordinasikan kebijakan keamanan nasional, penegakan hukum, dan hubungan politik internasional, sekaligus memfasilitasi dialog antara lembaga legislatif dan eksekutif.
Pergeseran politik terbaru terjadi pada awal 2024, ketika Wiranto resmi diterima sebagai anggota Partai Rakyat Indonesia (PRI). Keputusan tersebut dilaporkan sebagai langkah strategis PRI untuk memperkuat basis militernya dan menambah kredibilitas dalam kebijakan pertahanan. Pada konferensi pers di Jakarta, Wiranto menyatakan komitmennya untuk mengedepankan kebijakan pertahanan yang modern, transparan, dan berorientasi pada kepentingan rakyat. Ia menekankan pentingnya sinergi antara TNI, Polri, dan lembaga sipil dalam menjaga kedaulatan negara.
- Jabatan militer: Panglima ABRI (1998-1999)
- Jabatan politik: Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (2009-2014)
- Partai politik: Golkar (2004-2023), PRI (2024-sekarang)
- Posisi terkini: Menteri Pertahanan dalam Kabinet Persatuan Indonesia (2024-)
Penunjukan Wiranto sebagai Menteri Pertahanan dalam kabinet yang didominasi partai-partai koalisi menimbulkan spekulasi tentang arah kebijakan pertahanan Indonesia ke depan. Analis politik menilai bahwa pengalaman militernya dapat mempercepat reformasi alutsista, memperkuat kerjasama pertahanan regional, serta meningkatkan profesionalisme TNI. Di sisi lain, kelompok masyarakat sipil mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara otoritas militer dan kontrol sipil, guna mencegah potensi penyalahgunaan kekuasaan.
Selama masa jabatan sebelumnya, Wiranto dikenal memiliki jaringan luas di kalangan militer senior, pejabat pemerintah, serta tokoh bisnis. Hubungan tersebut diperkirakan akan menjadi aset strategis dalam negosiasi pembelian alutsista, kerjasama keamanan maritim, serta penanganan konflik internal. Namun, ia juga harus menghadapi tantangan berupa skeptisisme publik terkait masa lalunya yang masih dipertanyakan oleh sebagian kalangan.
Secara keseluruhan, rekam jejak Wiranto mencerminkan perpaduan antara kepemimpinan militer yang kuat dan pengalaman politik yang luas. Keputusan bergabung dengan PRI serta penunjukan ke posisi menteri menandai babak baru dalam kariernya, sekaligus menjadi indikator dinamika politik Indonesia yang semakin melibatkan tokoh-tokoh militer dalam arena pemerintahan. Bagaimana Wiranto akan menyeimbangkan peranannya sebagai politikus dan mantan pemimpin militer akan menjadi sorotan utama dalam beberapa bulan ke depan, mengingat implikasi kebijakan pertahanan bagi keamanan nasional dan stabilitas regional.











