Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 06 Mei 2026 | T’way Air resmi memulai layanan baru pada 29 April 2026, menghubungkan Bandara Soekarno‑Hatta dengan Bandara Incheon, Korea Selatan, dengan tarif di bawah Rp3 juta. Langkah ini dianggap sebagai upaya strategis untuk memanfaatkan celah pasar di tengah tekanan harga bahan bakar avtur yang terus meningkat, sekaligus memberikan alternatif harga kompetitif bagi penumpang Indonesia.
Lonjakan harga avtur sejak awal April 2026 telah menekan profitabilitas maskapai domestik. Di Bandara Soekarno‑Hatta, harga avtur tercatat Rp27.357,54 per liter, naik 16,16% dibandingkan bulan sebelumnya dan hampir dua kali lipat dibandingkan Maret 2026. Situasi serupa terjadi di Denpasar (Rp29.149,47) dan Bandara Pattimura di Maluku (Rp29.438,85). Kenaikan ini langsung berdampak pada Indeks Harga Konsumen (IHK), dengan kelompok transportasi menyumbang inflasi bulanan sebesar 0,99%.
| Bandara | Harga Avtur per Liter (Rp) |
|---|---|
| Soekarno‑Hatta (CGK) | 27.357,54 |
| Denpasar (DPS) | 29.149,47 |
| Pattimura (AMQ) | 29.438,85 |
Menanggapi situasi tersebut, Indonesia National Air Carriers Association (INACA) melalui Sekretaris Jenderal Bayu Sutanto memperkirakan inflasi transportasi masih akan berlanjut hingga Mei 2026. Karena tarif batas atas (TBA), fuel surcharge, dan harga avtur masih diatur pemerintah, maskapai domestik terpaksa mengandalkan efisiensi operasional, termasuk pemotongan frekuensi penerbangan.
Data BPS menunjukkan bahwa tarif angkutan udara kini menjadi penyumbang utama inflasi transportasi dengan andil 0,11%. Sementara itu, nilai tukar rupiah yang melemah hingga Rp17.409 per dolar AS menambah beban biaya operasional, mengingat sebagian besar komponen biaya maskapai berdenominasi dolar.
Pengurangan frekuensi penerbangan telah terlihat pada sekitar 117 rute domestik, mencakup 615 jadwal yang terdampak. Contohnya, Citilink mengurangi layanan Semarang‑Jakarta dari tiga kali menjadi satu kali sehari. AirAsia Indonesia melaporkan pertumbuhan penumpang Januari‑April 2026 sebesar 5,6% year‑on‑year, namun tetap harus meninjau kembali rute dengan load factor rendah.
Berbeda dengan maskapai domestik, T’way Air memanfaatkan kebijakan tarif internasional yang lebih fleksibel. Karena fuel surcharge pada penerbangan internasional ditentukan oleh mekanisme pasar, T’way Air dapat menawarkan harga kompetitif tanpa harus menunggu revisi TBA. Harga tiket yang lebih murah dibandingkan rute domestik ke wilayah timur Indonesia diharapkan dapat menarik wisatawan dan pelaku bisnis, sekaligus menambah volume penumpang pada bandara utama.
Alvin Lie, Ketua Asosiasi Pengguna Jasa Penerbangan Indonesia (APJAPI), menegaskan bahwa fuel surcharge diperkirakan naik dari 38% menjadi 50% dari TBA. Sementara Direktur Jenderal Perhubungan Udara Lukman F. Laisa mengakui kenaikan avtur sebagai fokus pemerintah, meski belum ada keputusan pasti tentang penyesuaian kembali fuel surcharge. Pemerintah diharapkan mempercepat revisi TBA dan menciptakan mekanisme surcharge yang lebih responsif.
Secara keseluruhan, peluncuran rute baru oleh T’way Air menjadi sinyal bahwa maskapai internasional masih melihat peluang pertumbuhan di pasar Indonesia, meski tekanan biaya terus menguji ketahanan maskapai domestik. Kebijakan pemerintah terkait tarif dan subsidi bahan bakar akan menjadi faktor penentu apakah industri penerbangan domestik dapat tetap kompetitif dan melayani kebutuhan mobilitas masyarakat.











