Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 04 Mei 2026 | Di wilayah selatan Afghanistan, kota Kandahar kembali menjadi sorotan beragam dinamika. Pada Agustus 2006, sebuah serangan mortir menimpa sebuah pos militer internasional, melukai seorang prajurit Kanada. Insiden itu menegaskan betapa rapuhnya situasi keamanan di daerah perbatasan yang selama ini menjadi titik tumpu operasi koalisi.
Keamanan yang tidak menentu berdampak langsung pada kehidupan sipil. Di pinggir kota, ribuan warga mencari cara mengatasi penyakit kritis, terutama kanker, yang menjadi penyebab kematian utama. Pada sebuah rumah sederhana, Neda Mohammad Qadri—seorang pria bersorban putih yang mengaku perpanjangan tangan Tuhan—menawarkan “penyembuhan spiritual” dengan menyemprotkan air ke tubuh pasien. Praktik tanpa dasar medis ini menarik kerumunan, meski banyak korban mengaku tidak memperoleh perbaikan dan bahkan mengalami penurunan kondisi.
Data Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan lebih dari 24.000 kasus kanker setiap tahun di Afghanistan, dengan hampir 17.000 kematian. Keterbatasan fasilitas medis memperparah situasi. Rumah Sakit Mirwais di Kandahar, yang dulunya dikelola oleh Komite Palang Merah Internasional, terpaksa dihentikan operasi karena kekurangan dana setelah Taliban mengambil alih pada 2021. Bahkan rumah sakit khusus kanker yang baru dibangun di Kabul mengharuskan biaya tinggi, tak terjangkau bagi kebanyakan warga Kandahar.
Ketergantungan pada layanan kesehatan lintas batas Pakistan semakin menghilang. Selama lebih dari satu tahun, warga Kandahar dapat menyeberang tanpa visa ke Chaman–Spin Boldak untuk mendapatkan perawatan di rumah sakit Pakistan yang lebih lengkap. Namun, penutupan perbatasan setelah bentrokan bilateral menghambat aliran obat‑obatan penting, memperburuk krisis kesehatan yang sudah melanda.
Di tengah tantangan tersebut, pemerintah Afghanistan berupaya menghidupkan kembali perekonomian melalui proyek pembangunan. Komisi Ekonomi Afghanistan baru‑baru ini menyetujui dua belas proyek besar yang mencakup sektor energi, transportasi, dan pertanian. Meskipun detail alokasi dana masih terbatas, inisiatif ini diharapkan dapat membuka lapangan kerja dan meningkatkan akses layanan publik, termasuk fasilitas kesehatan.
Namun, potensi ekonomi wilayah tidak hanya bergantung pada kebijakan dalam negeri. Kota pelabuhan Gwadar di Pakistan—yang berada tidak jauh dari perbatasan—menjadi contoh ambisi regional. Meskipun pertumbuhan pelabuhan tersebut dianggap “sebuah ilusi” oleh sejumlah analis karena ketergantungan pada investasi asing dan keamanan, keberadaannya tetap memengaruhi dinamika perdagangan lintas batas. Jika hubungan Afghanistan‑Pakistan stabil, jalur logistik melalui Gwadar dapat menjadi pintu keluar barang dan bantuan kemanusiaan ke Kandahar.
Situasi ini menegaskan bahwa keamanan, kesehatan, dan pembangunan di Kandahar saling terkait. Tanpa stabilitas keamanan, upaya medis dan ekonomi akan terus terhambat. Di sisi lain, peningkatan layanan kesehatan yang terjangkau dan transparansi dalam proyek pembangunan dapat memperkuat kepercayaan publik, mengurangi ruang bagi praktik pseudomedis yang merugikan.
Ke depan, tantangan utama bagi Kandahar adalah memadukan upaya keamanan yang konsisten dengan kebijakan kesehatan yang inklusif serta pelaksanaan proyek pembangunan yang dapat memberikan manfaat nyata bagi penduduk. Kolaborasi antara otoritas lokal, pemerintah pusat, dan komunitas internasional akan menjadi kunci untuk mengubah narasi daerah ini dari konflik berkelanjutan menjadi contoh pemulihan yang berkelanjutan.











