Ekonomi

Menkeu Purbaya Ungkap ‘survival mode’ Pemerintah: Fokus pada Pajak dan Cukai untuk Jaga APBN

×

Menkeu Purbaya Ungkap ‘survival mode’ Pemerintah: Fokus pada Pajak dan Cukai untuk Jaga APBN

Share this article
Menkeu Purbaya Ungkap 'survival mode' Pemerintah: Fokus pada Pajak dan Cukai untuk Jaga APBN
Menkeu Purbaya Ungkap 'survival mode' Pemerintah: Fokus pada Pajak dan Cukai untuk Jaga APBN

Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 28 April 2026 | JAKARTA, 24 April 2026 – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa Indonesia telah memasuki apa yang disebutnya “survival mode” dalam rangka menstabilkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di tengah tekanan fiskal global. Dalam media briefing di Jakarta, Purbaya menekankan bahwa prioritas utama pemerintah kini berada pada peningkatan penerimaan pajak dan cukai, sekaligus memanfaatkan Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebagai bantalan likuiditas.

Purbaya menolak keras isu yang beredar bahwa kas negara hanya tersisa Rp 120 triliun, yang konon hanya cukup untuk dua minggu operasional. Menurutnya, angka tersebut merupakan bagian kecil dari total SAL pemerintah yang mencapai sekitar Rp 420 triliun. Dari total tersebut, Rp 300 triliun ditempatkan dalam bentuk deposito likuid di perbankan, sementara sisanya berada di rekening Bank Indonesia.

“Kas negara masih berlimpah dan dapat mendanai seluruh program prioritas, termasuk bantuan sosial, belanja wajib, dan investasi infrastruktur,” ujar Purbaya. Ia menambahkan bahwa penempatan dana di perbankan tidak hanya meningkatkan likuiditas sistem keuangan, tetapi juga menghasilkan imbal hasil berupa bunga yang dapat dialokasikan kembali ke pembiayaan pemerintah.

Dalam konteks “survival mode”, pemerintah mengalihkan strategi fiskal menjadi lebih agresif dalam mengumpulkan pajak dan cukai. Kebijakan ini dirancang untuk menutup defisit yang diproyeksikan mencapai Rp 689 triliun pada tahun ini. Purbaya menegaskan bahwa tanpa peningkatan penerimaan, risiko tekanan pada neraca fiskal akan meningkat, terutama mengingat beban belanja wajib yang terus bertambah.

  • Target Pajak: Memperluas basis pajak, meningkatkan kepatuhan, dan memperketat pengawasan atas penghindaran pajak.
  • Target Cukai: Menaikkan tarif cukai pada barang konsumsi tertentu serta memperkuat mekanisme pemungutan.
  • Pengelolaan SAL: Menjaga likuiditas melalui deposito bank, sambil memanfaatkan bunga sebagai pendapatan tambahan.

Para ekonom dan pengamat menilai langkah ini sebagai upaya yang logis. Yusuf Rendy Manilet, ekonom CORE Indonesia, mencatat bahwa SAL sebesar Rp 420 triliun memberikan ruang manuver yang signifikan untuk menghadapi guncangan moderat. Namun, ia memperingatkan bahwa dalam jangka menengah, defisit yang terus melebar dapat menimbulkan beban bunga yang lebih tinggi jika tidak diimbangi dengan peningkatan penerimaan.

Wakil Ketua Komisi XI DPR RI, Hanif Dhakiri, menyuarakan dukungan terhadap transparansi pemerintah dalam mengomunikasikan kondisi fiskal. Ia menekankan pentingnya penyampaian data secara utuh agar pasar keuangan tidak terkejut oleh persepsi negatif. “APBN tidak dalam kondisi darurat, tetapi tetap memerlukan kewaspadaan dan disiplin dalam pengelolaan,” kata Dhakiri.

Di tingkat internasional, persepsi investor terhadap fiskal Indonesia menunjukkan perbaikan. Purbaya melaporkan bahwa kunjungan delegasi ke Amerika Serikat memperoleh respons positif, dengan lembaga keuangan global seperti IMF dan Bank Dunia tidak lagi menyoroti risiko defisit yang tinggi.

Meski demikian, pemerintah tetap menghadapi tantangan struktural, termasuk meningkatnya belanja wajib (mandatory spending) dan sensitivitas terhadap kebijakan moneter global. Oleh karena itu, strategi “survival mode” tidak hanya berfokus pada peningkatan penerimaan, tetapi juga pada pengendalian pengeluaran dan optimalisasi penggunaan SAL.

Dengan menitikberatkan pada pajak dan cukai, Purbaya berharap dapat menyeimbangkan kembali neraca fiskal, menjaga kepercayaan investor, serta memastikan keberlanjutan program-program pembangunan nasional. Kebijakan ini diharapkan menjadi landasan bagi Indonesia untuk melewati masa ketidakpastian ekonomi global dengan tetap menjaga stabilitas makroekonomi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *