Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 13 Juni 2026 | Dony Oskaria, Chief Operating Officer (COO) Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, menyatakan bahwa Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) hanya bertugas untuk memastikan harga jual komoditas strategis Indonesia. DSI merupakan BUMN ekspor yang menangani tiga komoditas strategis, yakni batu bara, kelapa sawit, dan ferroalloys. Ekspor melalui DSI mulai dilakukan sejak 1 Juni 2026.
Menurut Dony, DSI dibentuk untuk meningkatkan pendapatan negara melalui pemberantasan praktik transfer pricing dan under invoicing. Praktik transfer pricing adalah penjualan ekspor dengan harga lebih rendah kepada perusahaan afiliasi milik eksportir, sedangkan under invoicing adalah pelaporan nilai ekspor yang lebih rendah dari nilai sebenarnya.
Dony menjelaskan bahwa DSI akan melakukan kajian setiap 3 bulan untuk memastikan bahwa tidak terjadi transfer pricing dan under invoicing. Ia juga menyebut bahwa dengan adanya DSI, para pemegang saham seharusnya lebih percaya diri karena memperoleh keuntungan lebih besar jika tidak terjadi transfer pricing.
Implementasi kebijakan ini akan berlaku mulai 1 Juni 2026, yang merupakan periode transisi. Pada masa ini, ekspor masih dilakukan seperti biasa melalui perusahaan masing-masing. Namun, terdapat kewajiban untuk melaporkan kegiatan ekspornya kepada DSI sebagai BUMN ekspor.
Kebijakan ini bertujuan untuk memperkuat penerimaan negara, meningkatkan keuntungan pelaku usaha, dan menciptakan tata kelola ekspor yang lebih sehat. Dony juga meminta pelaku usaha untuk tidak khawatir terhadap implementasi kebijakan ini karena pemerintah tetap menghormati kontrak yang sudah berjalan.
Di sisi lain, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI menyambut positif dukungan berbagai pemangku kepentingan terhadap penguatan pasar modal nasional. Dukungan tersebut mengemuka dalam pertemuan yang dihadiri Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, COO BPI Danantara Dony Oskaria, Direktur Utama BRI Hery Gunardi, para Direktur Utama Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), BPJS Ketenagakerjaan, serta sejumlah BUMN di Jakarta.
Pertemuan tersebut membahas berbagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas pasar modal dan memperkuat kepercayaan investor. Salah satu isu yang menjadi perhatian adalah wacana pembelian kembali saham atau buyback oleh emiten BUMN. Direktur Utama BRI Hery Gunardi menilai perhatian yang diberikan berbagai pihak menunjukkan keyakinan terhadap prospek jangka panjang perusahaan-perusahaan BUMN, terutama sektor perbankan yang hingga kini tetap menunjukkan kinerja dan fundamental yang kuat.
Menurut Hery, stabilitas pasar modal menjadi faktor penting dalam menciptakan iklim investasi yang sehat dan berkelanjutan. Kepercayaan investor terhadap saham-saham perbankan nasional juga masih ditopang oleh kinerja industri yang tetap resilien di tengah tantangan ekonomi global.
Kesimpulan, Dony Oskaria sebagai COO Danantara menyatakan bahwa DSI hanya bertugas untuk memastikan harga jual komoditas strategis Indonesia. DSI dibentuk untuk meningkatkan pendapatan negara melalui pemberantasan praktik transfer pricing dan under invoicing. Sementara itu, BRI menyambut positif dukungan berbagai pemangku kepentingan terhadap penguatan pasar modal nasional.











