Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 23 April 2026 | Jusuf Kalla menyampaikan dalam konferensi pers di kediamannya, Jakarta Selatan, bahwa ia pernah diminta oleh Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri untuk menjadi Wakil Presiden demi mendampingi Joko Widodo (Jokowi) pada masa awal kepemimpinan nasional. Pernyataan itu muncul setelah media menyoroti peran JK dalam mengangkat nama Jokowi dari tingkat daerah ke panggung politik nasional.
Menurut keterangan JK, permintaan Megawati datang pada pertengahan 2012, ketika Jokowi baru akan maju sebagai calon Gubernur DKI Jakarta. “Ibu Megawati meminta saya untuk menjadi wakil presiden agar bisa mendampingi Jokowi,” ujar JK. Ia menegaskan bahwa peran tersebut bukan sekadar formalitas, melainkan dukungan strategis dalam mengelola dinamika partai dan koalisi pemerintah. JK menambahkan bahwa ia setuju karena melihat potensi Jokowi sebagai pemimpin yang dapat memperkuat posisi PDIP.
Penegasan JK ini memicu reaksi tajam dari jajaran PDIP. Beberapa tokoh partai menilai permintaan tersebut sebagai bentuk “pengkhianatan” terhadap loyalitas partai, mengingat JK pernah menjadi Wakil Presiden pada periode 2014-2019 dan memiliki hubungan dekat dengan Jokowi. “Kami merasa dikhianati ketika salah satu senior kami mengakui pernah diminta menjadi perpanjangan tangan politik Megawati,” kata salah satu kader senior PDIP secara anonim. Kritik tersebut menyoroti rasa sakit hati partai yang menganggap keputusan JK mengaburkan batas antara dukungan pribadi dan kepentingan partai.
Sejarah panjang keterlibatan JK dalam karier Jokowi memang menjadi latar belakang penting. JK mengaku pertama kali memperkenalkan Jokowi kepada Megawati saat Jokowi menjabat sebagai Wali Kota Solo. Ia kemudian membantu menggalang dukungan PDIP untuk pencalonan Jokowi sebagai Gubernur DKI Jakarta pada 2012, yang akhirnya terpilih. Setelah kemenangan itu, JK mengklaim bahwa ia terus memberikan arahan strategis kepada Jokowi, termasuk saat Jokowi mencalonkan diri sebagai Presiden pada 2014.
Respons Gibran Rakabuming Raka, putra sulung Presiden Jokowi, menegaskan rasa hormatnya kepada JK. Gibran menyebut JK sebagai “senior, mentor, dan idola” dalam sebuah wawancara usai meninjau rumah sakit di Sorong. “Pak JK itu senior saya, mentor juga, beliau banyak kiprah di daerah konflik dan menjadi teladan bagi generasi pemimpin,” kata Gibran. Pernyataan ini menambah dimensi personal pada hubungan politik yang kini menjadi sorotan publik.
Para pengamat politik menilai bahwa pengakuan JK dapat mengubah narasi mengenai dinamika internal PDIP. Jika benar JK diminta menjadi wakil presiden untuk mendampingi Jokowi, hal ini menandakan adanya strategi jangka panjang Megawati dalam menyeimbangkan kekuatan antara tokoh senior partai dan figur baru yang tengah naik daun. Namun, tudingan pengkhianatan dari dalam PDIP memperlihatkan adanya gesekan internal yang dapat memengaruhi koalisi pemerintahan di masa depan.
Reaksi publik beragam. Sebagian warga media sosial menilai JK berani mengungkapkan fakta yang selama ini disamarkan, sementara yang lain mengkritik bahwa pengakuan tersebut dapat menodai citra Megawati dan memicu konflik internal partai. Beberapa tokoh oposisi menilai bahwa pengungkapan ini membuka peluang bagi pihak lain untuk mengeksploitasi perpecahan dalam koalisi pemerintahan.
Di tengah sorotan, pemerintah menegaskan bahwa jabatan Wakil Presiden tetap dijalankan sesuai konstitusi dan tidak ada perubahan struktural yang mengindikasikan pengaruh eksternal. Sementara itu, PDIP mengumumkan bahwa akan dilakukan evaluasi internal untuk menilai implikasi politik dari pernyataan JK, termasuk kemungkinan penyesuaian strategi kampanye menjelang pemilihan legislatif berikutnya.
Kesimpulannya, pengakuan Jusuf Kalla tentang permintaan Megawati menjadi wakil presiden untuk mendampingi Jokowi membuka kembali babak lama dalam politik Indonesia. Reaksi keras PDIP, dukungan Gibran, serta spekulasi publik menandakan bahwa dinamika kekuasaan di antara tokoh senior masih menjadi faktor penentu arah kebijakan nasional.











