Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 09 Juni 2026 | Perang AS-Iran yang telah memasuki hari ke-100 membawa dampak yang signifikan tidak hanya di kawasan Timur Tengah, tetapi juga merambat jauh hingga Asia Tenggara. Gangguan pada jalur perdagangan dan energi global kini mulai memengaruhi kehidupan sehari-hari masyarakat di berbagai negara di kawasan, mulai dari Malaysia, Indonesia, hingga Singapura.
Laporan CNA menyebut, krisis yang berpusat pada terganggunya Selat Hormuz sebagai jalur vital pengiriman minyak dan gas dunia, telah memicu lonjakan biaya energi dan bahan baku berbasis minyak. Dampaknya tidak lagi terbatas pada sektor minyak, tetapi sudah menjalar ke industri konstruksi, pangan, plastik, hingga kesehatan.
Di Malaysia, sektor konstruksi menjadi salah satu yang paling terpukul. Harga bitumen, yakni bahan utama untuk aspal jalan, dilaporkan melonjak hingga sekitar 70 persen, sementara biaya solar naik lebih dari 80 persen. Akibatnya, banyak kontraktor kesulitan mengatur anggaran karena harga material yang berubah cepat dan sulit diprediksi.
Sementara itu, Jepang tetap menjadi kekuatan paling dipercaya di kawasan Asia Tenggara dengan 65,6%, sementara Uni Eropa menempati peringkat kedua yang jauh (55,9%), diikuti oleh Amerika Serikat (44,0%), Cina (39,8%), dan India (38,5%). Namun, penurunan kepercayaan paling tajam justru tercatat di Indonesia, turun dari 61,5% pada 2025 menjadi 47,9% tahun ini.
Penurunan ini terjadi bukan karena Indonesia tak menyukai Jepang. Penurunan terjadi karena Jepang dianggap terlalu terkait dengan Amerika Serikat pada saat identitas bebas-aktif Indonesia sedang dikritik di dalam negeri. Indonesia dikritik karena keputusan yang dipersepsikan mengikis posisi netral Indonesia setelah bergabung dengan Board of Peace yang dibuat Trump.
Konteks ancaman yang berbeda menjelaskan kesenjangan kepercayaan antara Indonesia dengan Filipina dan Vietnam. Di Manila dan Hanoi, tekanan Cina di Laut Cina Selatan bukan hanya bersifat langsung dan berkelanjutan. Tekanan Cina sering kali konfrontatif, yang meliputi tabrakan kapal, pelecehan kawasan, dan perselisihan sumber daya.
Bagi kedua negara ini, Jepang tampil sebagai mitra keamanan yang memberikan bantuan konkret tanpa mewajibkan syarat ideologis yang memberatkan. Kepercayaan mereka pada Jepang bersifat threat-driven: semakin agresif tindakan Cina, semakin penting peran Jepang sebagai penyangga strategis.
Indonesia berada dalam posisi berbeda. Insiden dengan Cina di Laut Natuna memang nyata dan telah terjadi lebih dari sekali. Namun ancaman tersebut tidak menimbulkan intensitas seperti yang dirasakan Manila dan Hanoi. Ketika ketegangan maritim muncul, respons Indonesia cenderung bukan memperdalam kerjasama keamanan dengan Jepang melainkan mengeksplorasi pengaturan ekonomi dengan Beijing.
Dalam konteks ini, perang AS-Iran telah memberikan kesempatan bagi Cina untuk meningkatkan pengaruhnya di Asia Tenggara. Dengan Jepang yang dianggap terlalu terkait dengan Amerika Serikat, Cina dapat memanfaatkan situasi ini untuk memperkuat posisinya di kawasan.
Kesimpulan, perang AS-Iran telah membawa dampak yang signifikan di Asia Tenggara, tidak hanya dalam hal ekonomi tetapi juga dalam hal keamanan. Jepang, yang sebelumnya dianggap sebagai kekuatan paling dipercaya di kawasan, kini menghadapi penurunan kepercayaan di Indonesia. Sementara itu, Cina dapat memanfaatkan situasi ini untuk meningkatkan pengaruhnya di Asia Tenggara.











