Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 08 Juni 2026 | Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) kembali tertekan dan menembus level Rp 18.191 per dollar AS. Hal ini memicu kekhawatiran di tengah upaya stabilisasi yang telah dilakukan pemerintah dan Bank Indonesia (BI).
Menurut sejumlah ekonom, situasi saat ini tidak dapat disamakan dengan krisis moneter 1998. Mereka menilai bahwa terdapat perbedaan mendasar pada kondisi ekonomi, kesehatan sektor perbankan, serta sistem pengawasan dan stabilitas keuangan yang dimiliki Indonesia saat ini.
Sementara itu, di Amerika Serikat, Roundhill Generative AI & Technology ETF (CHAT) telah mengalami penurunan nilai karena faktor makro. Namun, para analis masih yakin bahwa cerita pertumbuhan CHAT akan tetap kuat dalam jangka panjang.
Di sisi lain, programa Crop Cash di Vermont, Amerika Serikat, bertujuan untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap produk segar dan lokal dengan mendukung petani setempat. Program ini memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk membeli produk segar dengan harga yang lebih terjangkau.
Dalam beberapa bulan terakhir, rupiah telah mengalami depresiasi sebesar 7,29 persen terhadap dollar AS. Hal ini menimbulkan kekhawatiran tentang stabilitas ekonomi Indonesia.
Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah dan BI perlu melakukan upaya untuk meningkatkan kepercayaan investor dan memperkuat sektor riil. Selain itu, program seperti Crop Cash dapat menjadi contoh bagi Indonesia untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap produk segar dan lokal.
Dalam kesimpulan, melemahnya rupiah terhadap dollar AS merupakan salah satu tantangan yang dihadapi oleh Indonesia. Namun, dengan upaya yang tepat dan program yang efektif, Indonesia dapat meningkatkan stabilitas ekonomi dan memperkuat sektor riil.









