Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 29 April 2026 | Peneliti dari National University of Singapore (NUS) memperkenalkan inovasi pakaian pintar yang dapat memantau tekanan darah secara real-time tanpa menggunakan baterai. Teknologi ini dipublikasikan dalam jurnal Nature Electronics dan menandai langkah penting dalam evolusi perangkat wearable, karena kini pakaian sehari-hari berpotensi berfungsi sebagai pusat pemantauan kesehatan yang selalu aktif.
Berbeda dengan smartwatch yang memerlukan baterai terisi ulang, sistem pakaian pintar ini memanfaatkan sensor ultra‑tipis yang menempel langsung pada kulit. Sensor tersebut terhubung melalui jaringan kain khusus yang mengalirkan daya nirkabel dari smartphone pengguna. Material inovatif yang disebut metamaterial berperan sebagai medium transfer energi, memungkinkan sensor beroperasi selama ponsel berada dalam jangkauan.
Keunggulan utama yang ditonjolkan meliputi:
- Operasi tanpa baterai, mengurangi kebutuhan pengisian daya.
- Pengukuran tekanan darah sistolik yang akurat bahkan saat pengguna berolahraga.
- Desain sensor fleksibel dan sangat tipis, tidak mengganggu gerakan.
- Pemisahan saluran daya dan data pada frekuensi berbeda untuk menghindari interferensi.
Dalam uji coba awal, pakaian pintar berhasil melacak fluktuasi tekanan darah dengan konsistensi tinggi, membuka peluang deteksi dini masalah kardiovaskular. Para ahli menilai bahwa konsistensi pemantauan ini sangat penting untuk program kesehatan jangka panjang, terutama bagi populasi yang kurang mampu mengakses perangkat medis konvensional.
Selain pakaian pintar, tren teknologi “pintar” semakin meluas ke bidang lain. Contohnya, kacamata pintar dari Rokid baru-baru ini resmi masuk pasar Indonesia, menawarkan integrasi kecerdasan buatan (AI) dan augmented reality (AR) untuk keperluan pendidikan, industri, dan hiburan. Meskipun detail teknis belum sepenuhnya terbuka, kehadiran perangkat tersebut menegaskan bahwa ekosistem wearable Indonesia sedang bergerak menuju diversifikasi fungsi, bukan lagi terbatas pada pelacakan kebugaran.
Di sektor pendidikan, istilah “pintar” juga muncul dalam Program Indonesia Pintar (PIP). Program ini tidak menargetkan hanya siswa berprestasi, melainkan keluarga kurang mampu yang membutuhkan dukungan finansial untuk melanjutkan pendidikan. Dengan bantuan sosial yang disalurkan secara periodik, PIP berupaya menurunkan angka putus sekolah dan memperluas akses pendidikan. Integrasi teknologi, seperti platform digital untuk pendaftaran dan monitoring penerima, semakin memperkuat sinergi antara kebijakan sosial dan inovasi digital.
Sinergi antara pakaian pintar, kacamata AR, dan program bantuan pendidikan mencerminkan transformasi luas yang dihadapi masyarakat Indonesia. Semua inovasi ini berpusat pada konsep “pintar”—baik dalam hal perangkat yang mampu belajar dan beradaptasi, maupun kebijakan yang memanfaatkan data untuk menilai kebutuhan penerima manfaat.
Secara keseluruhan, pakaian pintar tanpa baterai menjadi bukti bahwa teknologi kesehatan dapat diintegrasikan ke dalam objek yang paling dekat dengan tubuh manusia. Dengan smartphone sebagai sumber daya, pengguna tidak lagi harus khawatir tentang pengisian daya atau mengganti perangkat secara rutin. Keberhasilan ini dapat mendorong produsen tekstil untuk mengembangkan lini produk serupa, memperluas pasar wearable yang lebih nyaman dan berkelanjutan.
Di masa mendatang, diharapkan kolaborasi antara institusi riset, perusahaan tekstil, dan regulator akan mempercepat komersialisasi pakaian pintar. Jika diiringi dengan kebijakan yang mendukung adopsi teknologi dalam layanan kesehatan publik, inovasi ini dapat menjadi salah satu pilar utama dalam upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia.











