Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 25 April 2026 | Jakarta, 25 April 2026 – Pemerintah Indonesia dan Korea Selatan kembali menegaskan komitmen pertahanan bersama melalui pengembangan pesawat tempur generasi kelima, KF-21 Boramae. Proyek bersama ini tidak hanya melibatkan transfer teknologi, tetapi juga mengintegrasikan kemampuan operasional kedua negara dalam skenario perang modern.
Kolaborasi KF-21 Boramae dimulai sejak 2019 dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Kementerian Pertahanan Republik Indonesia dan Kementerian Pertahanan Korea. Pada tahap awal, Korea memberikan hak lisensi produksi komponen struktural, sistem avionik, serta mesin turbofan yang akan dipasang pada varian Indonesia. Indonesia berkomitmen memproduksi sekitar 40 persen struktur pesawat, termasuk sayap, fuselage, dan bagian kontrol permukaan. Langkah ini diharapkan meningkatkan kemandirian industri dirgantara nasional serta menciptakan ribuan lapangan kerja.
Pengembangan KF-21 Boramae kini memasuki fase produksi akhir. Pabrik PT Dirgantara Indonesia (PTDI) di Bandung telah menyelesaikan perakitan dua prototipe pertama, yang akan diuji terbang pada kuartal ketiga 2026. Sementara itu, perusahaan Korea Aerospace Industries (KAI) menyiapkan fasilitas di Sejong untuk produksi massal. Kedua negara sepakat menambah jumlah unit yang dipesan menjadi 120 buah, dengan Indonesia menargetkan akuisisi 30 unit dalam lima tahun ke depan.
Penguatan kemampuan operasional tidak terlepas dari latihan militer bersama yang baru-baru ini dilaksanakan. Pada 23 April 2026, TNI Angkatan Laut dan Angkatan Udara menggelar Latihan Operasi Laut Gabungan (Latopslagab) di perairan Karimun Jawa. Latihan melibatkan 20 kapal perang (KRI) dan tiga unit pesawat tempur F-16, menampilkan skenario penembakan rudal Exocet MM40 Block 3, operasi udara lawan laut (OULL), serta serangan artileri presisi terhadap sasaran darat di Pulau Gundul.
Dalam konteks kemitraan KF-21, latihan ini menjadi arena demonstrasi interoperabilitas antar‑matra serta kesiapan mengintegrasikan platform baru ke dalam doktrin pertahanan. Menteri Pertahanan Jenderal (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin menekankan bahwa kemampuan menembak rudal anti‑kapal dan serangan udara terpadu merupakan landasan penting bagi penggunaan KF-21 di masa depan. “KF-21 Boramae akan menjadi tulang punggung udara Indonesia, mampu beroperasi bersama armada laut dan mendukung misi joint‑strike,” ujarnya.
Para pejabat TNI menilai latihan berhasil menguji komunikasi data link antara sistem avionik KF-21 yang sedang dikembangkan dan platform existing seperti F-16 serta kapal perang KRI. Pengujian meliputi pertukaran informasi target secara real‑time, koordinasi penugasan misi, serta sinkronisasi serangan lintas‑matra. Hasil evaluasi awal menunjukkan bahwa integrasi data link Link‑16 dan sistem komunikasi Korea‑Indonesia berfungsi optimal, membuka peluang bagi KF-21 untuk berperan dalam operasi maritim‑udara secara simultan.
Di samping aspek teknis, latihan juga menyoroti pentingnya kesiapan personel. Ribuan prajurit TNI, termasuk pilot, awak kapal, dan tim logistik, mengikuti simulasi prosedur pemeliharaan, pemuatan amunisi, dan manuver taktis. Pelatihan ini diharapkan memperkuat basis pengetahuan bagi personel yang nantinya akan mengoperasikan KF-21 Boramae, memastikan transisi yang mulus dari fase uji terbang ke fase operasional.
Kerjasama Indonesia‑Korea dalam KF-21 juga mencakup program pendidikan bersama. Sebanyak 30 mahasiswa teknik dirgantara dari Indonesia akan menempuh studi lanjutan di Korea, sementara 15 insinyur Korea akan ditempatkan di Bandung untuk transfer pengetahuan manufaktur. Program ini dipandang sebagai investasi jangka panjang bagi kemampuan riset dan pengembangan (R&D) domestik.
Secara geopolitik, pengembangan KF-21 Boramae memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain kunci di kawasan Indo‑Pasifik. Dengan kemampuan udara yang lebih mandiri, Indonesia dapat memperluas kontribusinya dalam operasi keamanan maritim regional, termasuk patroli anti‑pembajakan dan penanggulangan pelanggaran zona ekonomi eksklusif (ZEE).
Kesimpulannya, proyek KF-21 Boramae tidak hanya menghasilkan pesawat tempur canggih, tetapi juga menstimulasi sinergi militer, industri, dan pendidikan antara Indonesia dan Korea Selatan. Latihan TNI di Karimun Jawa menjadi bukti nyata bahwa kedua negara siap mengubah rencana strategis menjadi kesiapan operasional yang terukur.









