Viral

Viral! Penumpang Masak Mi Instan Pakai Kompor Listrik di Gerbong KA Gunungjati, KAI Selidiki

×

Viral! Penumpang Masak Mi Instan Pakai Kompor Listrik di Gerbong KA Gunungjati, KAI Selidiki

Share this article
Viral! Penumpang Masak Mi Instan Pakai Kompor Listrik di Gerbong KA Gunungjati, KAI Selidiki
Viral! Penumpang Masak Mi Instan Pakai Kompor Listrik di Gerbong KA Gunungjati, KAI Selidiki

Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 25 April 2026 | Pada Rabu, 22 April 2026, sebuah video yang memperlihatkan seorang penumpang kereta api memasak mi instan rasa soto Medan menggunakan kompor listrik di dalam gerbong Kereta Api Gunungjati menjadi viral di media sosial. Video tersebut menunjukkan penumpang menyambungkan kompor ke stop kontak yang tersedia di setiap kursi kereta, lalu menyiapkan panci dan menambahkan air serta bumbu sebelum menyalakan kompor. Aksi memasak ini mengundang protes luas dari penumpang lain serta menimbulkan pertanyaan serius tentang keselamatan di dalam kereta api.

Kereta Gunungjati melayani rute Jakarta Gambir – Tegal – Semarang Tawang, dan dilengkapi dengan stop kontak pada tiap kursi yang ditujukan untuk perangkat elektronik berdaya rendah, seperti ponsel, tablet, laptop, atau earphone. Menurut Luqman Arif, Manajer Humas Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasi 4 Semarang, penggunaan stop kontak untuk peralatan berdaya tinggi seperti kompor listrik, rice cooker, hair dryer, maupun peralatan rumah tangga lainnya sangat tidak diperbolehkan. “Fasilitas stop kontak hanya untuk perangkat elektronik pribadi berdaya rendah. Penggunaan peralatan berdaya tinggi dapat memicu overload pada sistem kelistrikan kereta dan membahayakan keselamatan penumpang,” ujarnya pada Jumat, 24 April 2026.

KAI menegaskan bahwa mereka sedang melakukan penelusuran menyeluruh untuk mengidentifikasi identitas penumpang tersebut serta memastikan tidak ada kerusakan pada sistem listrik kereta. “Kami melakukan investigasi secara mendalam guna memastikan kebenaran informasi yang beredar, sebagai bagian dari komitmen kami dalam menjaga keselamatan dan kualitas pelayanan,” kata Luqman dalam konferensi pers singkat di kantor KAI Daop 4 Semarang.

Selain pernyataan dari Daop 4, pihak Kereta Api Indonesia Daerah Operasi 1 Jakarta yang dipimpin oleh Franoto Wibowo juga memberikan klarifikasi serupa. Franoto menekankan bahwa daya listrik di dalam rangkaian kereta diprioritaskan untuk fasilitas utama seperti pendingin ruangan (AC), penerangan, pintu otomatis, dan sistem informasi penumpang. “Tidak tersedia kapasitas tambahan untuk peralatan listrik berdaya besar. Penggunaan alat dengan elemen pemanas dapat menyebabkan kelebihan beban (overload) yang berpotensi mematikan fasilitas utama,” ujarnya.

Reaksi netizen tak berhenti setelah video tersebut tersebar. Banyak yang mengkritik tindakan penumpang sebagai bentuk penyalahgunaan fasilitas umum. Beberapa komentar menyoroti risiko kebakaran, gangguan sistem kelistrikan, hingga potensi menimbulkan kepanikan di dalam gerbong. Sebagian lainnya mengusulkan agar KAI memperketat pengawasan atau menambahkan petugas keamanan di dalam kereta untuk mencegah kejadian serupa.

Di sisi lain, para ahli keselamatan transportasi menilai bahwa meskipun sistem kelistrikan kereta modern telah dilengkapi dengan proteksi otomatis, penggunaan peralatan berdaya tinggi tetap meningkatkan peluang terjadinya trip circuit atau bahkan kebakaran. “Kereta api dirancang dengan batas beban listrik tertentu. Menyambungkan peralatan dengan daya lebih dari 500 watt secara bersamaan dapat mengakibatkan pemutus sirkuit otomatis memutus aliran listrik, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi operasional kereta,” ujar Dr. Rina Hartati, pakar teknik elektro transportasi.

KAI telah mengingatkan kembali aturan penggunaan stop kontak melalui akun resmi mereka di media sosial, menegaskan bahwa pelanggaran dapat berujung pada sanksi administratif. Sementara itu, pihak kepolisian belum memberikan komentar resmi mengenai kemungkinan pelanggaran hukum, namun menyiapkan diri untuk menindaklanjuti bila ditemukan bukti pelanggaran yang berpotensi menimbulkan bahaya.

Insiden ini sekaligus menjadi pelajaran bagi penumpang lain tentang pentingnya menghormati aturan penggunaan fasilitas publik. KAI berencana meninjau kembali kebijakan stop kontak di dalam kereta, termasuk mempertimbangkan penambahan label peringatan yang lebih jelas pada setiap soket. Selain itu, mereka juga meninjau kemungkinan pemasangan sistem monitoring daya listrik secara real‑time untuk mendeteksi penyalahgunaan sebelum menimbulkan kerusakan.

Kasus mi instan ini menegaskan kembali bahwa meskipun teknologi modern memudahkan penumpang untuk tetap terhubung selama perjalanan, penggunaan yang tidak sesuai dapat menimbulkan risiko serius. KAI berharap dengan penyelidikan yang transparan dan penegakan aturan yang konsisten, kejadian serupa tidak akan terulang di masa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *