Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 16 Juni 2026 | Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 6,3 terjadi di Mindanao, Filipina, sekira pukul 17.18 Wita, Senin (15/6/2026). Hasil analisis BMKG menunjukkan, gempa bumi ini memiliki parameter update dengan M 6,2. Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 5,99° Lintang Utara; 126,83° Bujur Timur atau tepatnya berlokasi di laut wilayah 143 km Utara Pulau Karatung, Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, pada kedalaman 93 km.
Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi menengah akibat subduksi lempeng Laut Filipina. Gempa ini juga dirasakan dengan skala intensitas III MMI di wilayah Rainis, Miangas, Naha, Tahuna, Melonguane dan Beo.
Menurut Kepala BMKG Stasiun Geofisika Manado, Tony Agus Wijaya, gempa tersebut bukan bagian dari gempa bumi susulan M 7,7 yang terjadi pada Senin (8/6/2026). Sementara itu, gempa dengan kekuatan magnitudo 3,9 juga mengguncang wilayah Aceh Barat Daya (Abdya), Provinsi Aceh, pada pukul 10.25 WIB.
Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,8 yang mengguncang Pulau Mindanao, Filipina selatan, pekan lalu tidak hanya menewaskan sedikitnya 61 orang, tetapi juga mengangkat dasar laut hingga sekitar dua meter dan memicu kerusakan pada ekosistem pesisir. Fenomena geologi yang dikenal sebagai coastal uplift atau pengangkatan pesisir terjadi setelah gempa yang mengguncang wilayah tersebut pada 8 Juni.
Departemen Lingkungan Hidup Filipina menyatakan bahwa perubahan kondisi pesisir dua hari setelah gempa terjadi. Garis pantai di sejumlah lokasi bertambah panjang hingga sekitar 200 meter akibat terangkatnya dasar laut. Institut Vulkanologi dan Seismologi Filipina (PHIVOLCS) menjelaskan bahwa pergeseran di Palung Cotabato mendorong sebagian garis pantai di Provinsi Sarangani dan Davao Occidental ke atas permukaan.
Sementara itu, Gunung Lokon di Kota Tomohon, Sulawesi Utara, masih waspada dengan gempa vulkanik dangkal dan tektonik jauh mendominasi aktivitas vulkanik. Terekam juga sebanyak 36 kali gempa embusan, 11 kali gempa vulkanik dalam, dua kali gempa terasa pada skala III MMI, dan 89 kali gempa tektonik jauh.
Kesimpulan, gempa bumi yang terjadi di Mindanao dan Aceh memiliki dampak yang signifikan pada lingkungan dan masyarakat. Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,8 di Mindanao mengangkat dasar laut hingga sekitar dua meter dan memicu kerusakan pada ekosistem pesisir. Sementara itu, gempa dengan kekuatan magnitudo 3,9 di Aceh masih dalam pantauan untuk mengetahui dampaknya.











