Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 29 April 2026 | Fenomena iklim ekstrem yang kini dijuluki “El Nino Godzilla” mulai menunjukkan tanda‑tanda kuat pada awal tahun 2026. Kombinasi antara pemanasan permukaan laut di Samudra Pasifik tropis dan peningkatan suhu global akibat perubahan iklim memperparah kondisi kering di wilayah Indonesia, khususnya lahan gambut Sumatra.
Pengertian dan Mekanisme El Nino Godzilla
El Nino merupakan variasi iklim alami yang ditandai oleh peningkatan suhu permukaan laut di bagian tengah‑timur Pasifik. Ketika suhu naik lebih dari dua derajat Celsius di atas nilai normal, fenomena ini disebut El Nino super. Para ilmuwan kini menambahkan istilah “Godzilla” untuk menekankan intensitas yang lebih tinggi daripada El Nino super standar, diperkirakan dapat melampaui 2,5°C.
Prosesnya dimulai ketika angin pasat yang biasanya mendorong air hangat ke barat melemah atau berbalik arah. Akibatnya, air hangat mengendap di wilayah tengah‑timur Pasifik, meningkatkan suhu laut dan mengubah pola sirkulasi atmosfer. Perubahan ini menurunkan curah hujan di wilayah tropis barat, termasuk Indonesia, dan memicu gelombang panas serta kekeringan.
Prediksi dan Probabilitas Terjadinya
Berbagai lembaga iklim internasional, termasuk US Climate Prediction Center dan International Research Institute for Climate and Society (CICERO), memperkirakan peluang 70‑94 persen bahwa El Nino akan berkembang pada pertengahan tahun ini dan bertahan hingga akhir 2026. Met Office Inggris menegaskan bahwa fenomena ini berpotensi menjadi yang terkuat dalam satu abad.
Dampak di Tanah Air
Pengaruh El Nino Godzilla dirasakan secara luas:
- Kekeringan ekstrem: Daerah-daerah seperti Riau, Aceh, Jambi, dan Sumatra Selatan melaporkan ribuan titik panas pada Januari‑Maret 2026, mengindikasikan risiko kebakaran hutan dan lahan gambut yang tinggi.
- Risiko kebakaran gambut: Gambut Indonesia menyimpan sekitar 57 gigaton karbon. Bila terbakar, karbon yang tersimpan akan dilepaskan secara masif, mempercepat pemanasan global.
- Gangguan pertanian: Kekurangan curah hujan mengancam produksi padi, kopi, dan tanaman pangan lainnya, meningkatkan kerawanan pangan.
- Perubahan pola badai: Aktivitas badai tropis di Atlantik menurun, sementara badai di Pasifik tengah‑utara berpotensi lebih kuat.
Kasus kebakaran hutan pada El Nino super 2015 menjadi contoh konkret: Ethiopia mengalami kekeringan parah, Puerto Rico menghadapi krisis pasokan air, dan wilayah Pasifik tengah‑utara dilanda musim hurikan ganas.
Faktor Penyebab Kebakaran di Gambut Sumatra
Data Kompas mengungkapkan bahwa lebih dari 8.000 titik panas terdeteksi di Riau, mayoritas berada di dalam kawasan konsesi perkebunan monokultur. Pembangunan kanal untuk mengeringkan lahan memperparah kondisi gambut, menjadikannya mudah terbakar. Aktivitas industri yang membuka lahan tanpa memperhatikan konservasi ekosistem menjadi akar masalah utama, menurut Juru Kampanye Pantau Gambut Putra Saptian dan Manager Program WALHI Jambi, Aditya Prakoso.
Langkah Mitigasi yang Diperlukan
Berbagai pihak menekankan pentingnya tindakan preventif selain pemadaman api. Beberapa rekomendasi meliputi:
- Pembatasan pembangunan kanal dan pemulihan lahan gambut dengan re‑hidrasinya.
- Penegakan regulasi pada konsesi HGU dan PBPH untuk menghindari praktik pembukaan lahan yang merusak.
- Peningkatan kapasitas pemantauan satelit untuk deteksi dini titik panas.
- Program edukasi masyarakat tentang risiko kebakaran dan cara penanggulangan awal.
- Kolaborasi lintas sektoral antara pemerintah, LSM, dan industri untuk mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan.
Secara keseluruhan, El Nino Godzilla 2026 bukan sekadar fenomena iklim biasa. Kombinasi antara perubahan iklim global dan kelemahan tata kelola lahan di Indonesia menimbulkan ancaman serius bagi ekosistem, kesehatan masyarakat, dan ekonomi negara.
Pengawasan intensif oleh BMKG, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan lembaga internasional menjadi kunci untuk mengurangi dampak. Masyarakat pun diimbau untuk tetap waspada, mempersiapkan stok air bersih, dan melaporkan aktivitas kebakaran sekecil apapun.
Dengan langkah terkoordinasi, risiko terburuk El Nino Godzilla dapat diminimalkan, melindungi hutan gambut sebagai penyerap karbon terbesar di dunia dan menjaga keseimbangan iklim bagi generasi mendatang.











