Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 17 April 2026 | Sejarah kembali menorehkan kisah pahit bagi Real Betis di panggung Liga Europa. Pada pertandingan kembali babak perempat final melawan SC Braga di Stadion La Cartuja, Sevilla, pada 16 April 2026, tim Asensi berjuang keras menahan keunggulan 2-0 yang dibangun pada babak pertama, namun akhirnya menelan kekalahan 2-4 dan tersingkir dari kompetisi. Kekalahan ini menandai salah satu kejatuhan paling dramatis dalam sejarah klub sejak era modern.
Babak pertama berjalan mulus bagi Betis. Pada menit ke-13, winger Brasil Antony membuka skor dengan sundulan yang memanfaatkan umpan silang dari Abde. Tak lama kemudian, pada menit ke-26, Abde menambah keunggulan lewat tembakan jauh yang menembus pertahanan Braga, menjadikan kedudukan 2-0. Kedua gol ini menumbuhkan euforia di antara pendukung yang memenuhi tribun, sementara pelatih Manuel Pellegrini tampak yakin akan melaju ke semifinal.
Namun, momentum berubah pada menit ke-30 ketika VAR membatalkan gol ketiga Betis yang tampaknya memberi keunggulan 3-0. Gol yang diciptakan oleh Antony dinyatakan offside, memicu kekecewaan mendalam di antara pemain dan suporter. Kejadian ini menjadi titik balik psikologis yang kemudian dimanfaatkan oleh Braga.
Pada babak kedua, Braga menekan dengan intensitas tinggi. Pada menit ke-37, Vitor Carvalho menyamakan kedudukan melalui sundulan kepala setelah serangan balik cepat, memaksa Betis menelan tekanan. Lima menit kemudian, pada menit ke-53, penyerang Portugal Ricardo Horta menambah keunggulan Braga lewat tendangan penalti yang diberikan setelah pelanggaran pada Amrabat. Gol penalti menegaskan bahwa Braga tidak akan menyerah begitu saja.
Keberhasilan Braga berlanjut pada menit ke-75, ketika pemain muda Gorby menutup skor menjadi 4-2 dengan tembakan jarak jauh yang tak terjangkau oleh kiper Betis, Pau López. Gol tersebut menandai akhir dramatis bagi Betis yang sebelumnya tampak berada di jalur yang tepat untuk melaju ke semifinal.
Statistik pertandingan menegaskan dominasi Braga di babak kedua: kepemilikan bola 46,1% untuk Braga versus 53,9% untuk Betis, tetapi Braga mencatat 9 tembakan dibandingkan 5 tembakan Betis, dengan 4 tembakan tepat sasaran. Kedua tim mencatat 4 kartu kuning masing-masing, dan tidak ada kartu merah. Jumlah pelanggaran juga hampir seimbang, 12 untuk Betis dan 16 untuk Braga.
Insiden cedera juga menjadi sorotan. Pada menit ke-38, Llorente terjatuh setelah benturan dengan Bartra di dalam area penalti, namun tidak ada hukuman yang diberikan. Penampilan Pau López menjadi sorotan negatif, karena beberapa kali gagal menangkis tembakan penting, termasuk gol penentu akhir oleh Gorby.
Reaksi setelah peluit akhir menggambarkan kekecewaan mendalam. Kapten Marc Bartra mengakui bahwa tim “menyia-nyiakan peluang” dan menegaskan perlunya introspeksi untuk perbaikan di masa depan. Sementara itu, pelatih Pellegrini menyatakan bahwa tim akan “belajar dari kesalahan dan kembali lebih kuat” menjelang akhir musim LaLiga.
Berita ini menambah deretan kegagalan Betis di kompetisi Eropa, mengingat mereka hampir menembus semifinal pada edisi sebelumnya. Kegagalan ini juga menimbulkan pertanyaan mengenai konsistensi taktik Pellegrini dalam mengelola keunggulan, terutama dalam mengatasi tekanan lawan di fase krusial.
Berikut ringkasan statistik utama pertandingan:
- Skor akhir: Real Betis 2 – 4 SC Braga
- Penjaga gawang: Pau López (Betis), Gorby (Braga)
- Gol Betis: Antony (13′), Abde (26′)
- Gol Braga: Vitor Carvalho (37′), Ricardo Horta (penalti, 53′), Gorby (75′)
- Kartu kuning: 4 masing-masing tim
- Possession: Betis 53,9% – Braga 46,1%
Dengan hasil ini, SC Braga melaju ke semifinal Liga Europa, sementara Real Betis harus menata kembali strategi mereka untuk mengamankan posisi lima besar di LaLiga. Kegagalan ini menjadi pelajaran berharga bagi manajemen klub dalam menyiapkan mental dan taktik tim di kompetisi internasional.
Secara keseluruhan, pertandingan ini akan dikenang sebagai contoh klasik bagaimana keunggulan awal dapat terhapus oleh kegagalan disiplin taktik, keputusan VAR, dan kebangkitan lawan yang tak kenal menyerah.











