Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 20 April 2026 | Stadion Utama Sumatera Utara, Deli Serdang, menjadi saksi sengitnya Derbi Andalas pada Minggu (19/4/2026). Pertandingan lanjutan Liga 2 Indonesia musim 2025/2026 mempertemukan tuan rumah PSPS Medan melawan tamu Sriwijaya FC. Sejak peluit awal, intensitas permainan sudah terasa tinggi, namun gol pertama datang dalam hitungan menit pertama.
Di menit ke-4, Felipe Cadenazzi, penyerang asing PSMS Medan, berhasil memanfaatkan umpan silang dari Clayton di sisi kiri. Serangan cepat itu menghasilkan tembakan tunggal yang menembus gawang Sriwijaya FC, menjadikan skor 1-0. Gol cepat itu menjadi satu-satunya gol dalam laga yang berlangsung hingga 90+ menit.
Sekitar menit ke-30, pemain Sriwijaya FC, Fahrezi, menerima kartu kuning pertama untuk pelanggaran keras. Tekanan PSMS Medan meningkat, namun lini belakang Laskar Wong Kito tetap rapat. Ketegangan memuncak pada menit ke-43 ketika wasit Subro Malisi mengeluarkan kartu merah kepada Antoni Putro Nugroho (PSMS) setelah melakukan pelanggaran keras terhadap Oscar Novangga. Kejadian itu membuat PSMS bermain dengan sepuluh pemain.
Tidak lama setelah itu, VAR memeriksa insiden serupa dan pada menit ke-52 memutuskan untuk mengusir Fadil Rendian (Sriwijaya FC) dengan kartu merah. Dengan demikian, kedua tim harus bertarung dengan sepuluh orang di lapangan. Kondisi ini menambah dramatisasi pertandingan, namun tidak mengubah hasil akhir.
Pelatih Sriwijaya FC, Iwan Setiawan, yang sebelumnya terlibat kontroversi karena gestur jempol ke bawah dalam konferensi pers, berusaha mengubah nasib timnya. Ia melakukan tiga pergantian pemain pada babak kedua, berharap dapat meningkatkan daya gedor. Meski begitu, Sriwijaya FC gagal menembus pertahanan PSMS yang kini lebih disiplin meski kekurangan satu pemain.
Di babak kedua, PSMS Medan tampak defensif dan cenderung bermain dengan taktik menahan serangan lawan. Eko Purdjianto, pelatih PSMS, mengakui timnya kurang maksimal dalam menciptakan peluang tambahan. “Pemain saya terlihat takut mencetak gol. Tidak ada tambahan gol. Tapi inilah sepakbola,” ujar Purdjianto setelah peluit akhir.
Sementara itu, Iwan Setiawan mengungkapkan rasa bangganya meski timnya terdegradasi. “Kami berhasil menahan PSMS Medan dari pesta gol. Meskipun kalah tipis, kami tetap berjuang hingga akhir,” katanya. Namun, kekalahan ini menegaskan posisi Sriwijaya FC di dasar klasemen Grup 1 Liga 2, dengan hanya mengumpulkan dua poin dari 25 pertandingan, mencatat 23 kekalahan dan 86 kebobolan.
PSMS Medan, yang dijuluki Ayam Kinantan, berhasil mengakhiri rentetan tiga kekalahan dan dua hasil imbang dengan kemenangan pertama dalam dua bulan. Kemenangan ini memberi mereka tiga poin penting dalam persaingan zona promosi, sekaligus menambah tekanan pada tim-tim yang masih berjuang menghindari degradasi.
Setelah pertandingan, Iwan Setiawan secara terbuka meminta maaf kepada suporter PSMS atas gestur yang menyinggung. Ia menyampaikan permintaan maaf melalui media sosial, menegaskan bahwa niatnya hanyalah mengekspresikan kekecewaan atas hasil timnya, bukan untuk merendahkan lawan.
Dengan hasil 1-0, PSMS Medan kini menatap dua laga berikutnya melawan Persiraja dan Garudayaksa. Sementara Sriwijaya FC harus mempersiapkan diri untuk pertandingan terakhir musim ini, meski hampir dipastikan akan terdegradasi ke Liga 3. Kedua tim tetap fokus pada tujuan masing-masing: PSMS mengejar poin penuh untuk mengamankan posisi promosi, dan Sriwijaya berupaya menutup musim dengan dignitas meski berada di zona degradasi.
Kesimpulannya, Derbi Andalas ini tidak hanya menampilkan aksi cepat di lapangan, tetapi juga menyoroti dinamika emosional pelatih, kontroversi kartu merah, serta implikasi klasemen yang signifikan bagi kedua klub.











