Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 23 April 2026 | Di tengah sorotan Liga Premier yang semakin intens, mantan manajer legendaris Arsenal, Arsène Wenger, kembali muncul sebagai suara yang menenangkan. Dalam wawancara eksklusif di program Desert Island Discs yang disiarkan pada tahun 2020, Wenger berbagi pandangannya tentang sepakbola modern, filosofi kepelatihan, dan kenangan manis bersama Gunners. Kini, beberapa minggu setelah kekalahan 2-1 melawan Manchester City di Etihad Stadium, ia menegaskan keyakinannya bahwa Arsenal masih memiliki peluang untuk mengamankan gelar juara.
Wenger menyoroti serangan yang terus ditunjukkan oleh tim London, memuji peran pemain seperti Martin Ødegaard, Kai Havertz, Eberechi Eze, dan Noni Madueke. Menurutnya, konsistensi menjadi faktor penentu, dan ia meragukan bahwa Manchester City mampu menjaga performa sempurna hingga akhir musim. “Selama lima pertandingan tersisa, masih banyak ruang bagi Arsenal untuk bangkit,” ujarnya dengan nada optimis.
Penilaian tersebut muncul di saat manajer kepala Arsenal, Mikel Arteta, mengakui frustrasi atas kurangnya penyelesaian akhir dalam pertandingan melawan City. Arteta mengakui bahwa Gunners menciptakan peluang terbaik namun gagal memanfaatkan, berbeda dengan lawan mereka yang tampil klinis. Meski demikian, ia menegaskan bahwa karakter dan semangat kompetitif tetap ada dalam skuad.
Sejarah panjang Arsenal di kompetisi utama memang dipenuhi dengan momen-momen menegangkan. Berikut lima contoh kegagalan judul yang menjadi pelajaran penting bagi tim:
- Arsenal 2015/16 – Pada musim yang dipenuhi harapan, Arsenal berada di puncak klasemen setelah kemenangan dramatis melawan Leicester City. Namun, serangkaian kekalahan dan seri, termasuk melawan Manchester United dan Swansea City, membuat mereka kehilangan momentum.
- Norwich City 1992/93 – Klub yang dipimpin Mike Walker memimpin klasemen selama 129 hari. Kekurangan kedalaman skuad dan pertahanan yang rapuh akhirnya memberi ruang bagi Manchester United untuk melaju ke puncak.
- Liverpool 2008/09 – Di bawah Rafael Benítez, Liverpool hampir mengamankan gelar dengan hanya dua kekalahan sepanjang musim. Namun, kegagalan mengubah beberapa hasil seri menjadi kemenangan membuat mereka tertinggal.
- Manchester City vs Arsenal 2025/26 – Kekalahan 2-1 terbaru menambah daftar kegagalan Arsenal dalam menghadapi City, menambah tekanan pada Arteta menjelang lima pertandingan terakhir.
- Arsenal vs Leicester City 2020/21 – Meskipun tidak disebutkan secara detail, Arsenal pernah berada dalam posisi bersaing ketat melawan Leicester, namun kehilangan konsistensi di akhir musim.
Wenger mengingat kembali perannya dalam membentuk identitas klub. Selama 22 tahun memimpin Arsenal, ia memperkenalkan gaya permainan menyerang, menekankan pengembangan pemain muda, dan mencatat tiga gelar Premier League, termasuk musim tak terkalahkan 2003/04 yang dikenal sebagai “The Invincibles”. Keberhasilannya dalam mengangkat Arsenal ke level internasional, seperti mencapai final Liga Champions pada 2006, tetap menjadi tolak ukur keberhasilan manajer modern.
Pernyataan terbaru Wenger menegaskan bahwa pengalaman dan mentalitas yang ditanamkan selama era kepemimpinannya masih relevan. “Jika klub tetap berpegang pada prinsip bermain menyerang, membangun pemain dari akademi, dan menjaga konsistensi, peluang untuk meraih gelar tetap ada,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa tekanan pada fase akhir musim adalah ujian sejati bagi karakter tim.
Di luar lapangan, kehadiran Wenger di media, termasuk penampilannya di Desert Island Discs, memberikan pandangan pribadi tentang kehidupan setelah kepelatihan. Ia berbicara tentang pentingnya aksesibilitas media, menyinggung isu-isu sosial, dan menekankan nilai kebersamaan dalam sepakbola. Wawancara tersebut menampilkan sisi manusiawi dari tokoh yang selama ini dikenal sebagai pelatih tak kenal lelah.
Dengan sisa lima pertandingan, Arsenal harus mengatasi tantangan domestik dan kompetisi Eropa, termasuk semifinal Liga Champions melawan Atlético de Madrid. Namun, keyakinan yang diutarakan oleh Arsène Wenger memberi harapan baru bagi para pendukung. Jika Gunners mampu memanfaatkan momentum dan menjaga konsistensi, gelar Premier League yang lama terlewat dapat kembali menjadi milik mereka.
Sejarah telah menunjukkan betapa tipisnya garis antara kemenangan dan kegagalan. Namun, dengan dukungan dari tokoh-tokoh berpengaruh seperti Wenger, Arsenal memiliki kesempatan untuk menulis babak baru dalam catatan prestasinya.











