Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 26 April 2026 | Di sebuah sudut jalan Pasuruan, Mislicha Kasib, seorang perempuan berusia 85 tahun yang menjual cilok sejak usia muda, mengukir kisah luar biasa. Dengan penghasilan harian sekitar Rp50 ribu hingga Rp60 ribu, ia menyisihkan nabung Rp10 ribu setiap hari, meski harus menghidupi delapan anak seorang diri setelah suami wafat. Konsistensi menabung selama lebih dari satu dekade menjadikannya jemaah haji tertua dalam Kloter 10 Embarkasi Surabaya pada tahun 2026.
Perjuangan Mislicha bukan satu‑satunya contoh ketekunan. Di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Asis Deng Lipung, penjual ikan keliling berusia 57 tahun, menabung antara Rp30 ribu hingga Rp50 ribu per hari dari penghasilan sekitar Rp100 ribu. Selama 27 tahun ia menumpuk tabungan demi menunaikan rukun Islam kelima. Pada 2026, Asis akhirnya terdaftar dalam daftar calon jemaah haji, meski harus menghadapi tantangan pelunasan biaya dan tunggakan.
Di Lampung Selatan, Adna Yusri, pedagang sayur keliling berusia 58 tahun, menabung dengan cara menyimpan koin di ember‑ember. Selama 20 tahun ia menabung sedikit demi sedikit, kadang hanya Rp1.000 per hari, hingga akhirnya dapat melunasi biaya haji pada Mei 2026. Ember‑ember penuh koin menjadi simbol ketabahan yang menginspirasi warga setempat.
Sementara di Cirebon, Istoifah Aminah, pedagang rujak berusia 57 tahun, menabung selama 27 tahun dengan menyisihkan sebagian kecil pendapatan dari jualan rujaknya. Ia tak pernah berhenti melantunkan selawat ketika melihat rombongan haji lewat, mengharap giliran dirinya. Pada Mei 2026, ia resmi berangkat bersama rombongan kloter 10, melengkapi deretan kisah sukses para penjual makanan yang menunaikan haji.
Kesamaan antara keempat cerita tersebut terletak pada tiga hal utama: niat kuat untuk menunaikan ibadah haji, disiplin menabung meski pendapatan minim, serta ketabahan menunggu proses seleksi yang bisa memakan waktu puluhan tahun. Tabungan harian berkisar Rp10 ribu hingga Rp50 ribu, dikombinasikan dengan arisan dan bantuan keluarga, menjadi fondasi finansial yang memungkinkan mereka mengatasi biaya perjalanan, tiket, akomodasi, serta perlengkapan ibadah.
- Penghasilan harian rata‑rata: Rp50.000 – Rp100.000
- Tabungan harian: Rp10.000 – Rp50.000
- Durasi menabung: 14 – 27 tahun
- Usia saat berangkat haji: 57 – 85 tahun
Keberhasilan mereka tidak hanya memberi kebanggaan pribadi, melainkan juga menjadi contoh nyata bagi komunitas sekitar. Masyarakat setempat kini lebih termotivasi untuk menabung, mengatur keuangan, dan menyiapkan diri secara spiritual demi menunaikan rukun kelima Islam. Di antara mereka, kisah Mislicha menjadi sorotan utama karena usianya yang sudah sangat lanjut, membuktikan bahwa semangat tidak mengenal batas usia.
Dengan menatap masa depan, para penjual makanan ini berharap dapat terus menginspirasi generasi muda agar menanamkan kebiasaan menabung sejak dini. Mereka menekankan pentingnya konsistensi, doa, serta dukungan keluarga dalam mewujudkan impian haji yang selama ini hanya dapat disaksikan dari kejauhan.











