Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 12 Agustus 2026 | Rebo Wekasan merupakan tradisi ritual yang dilaksanakan pada Rabu terakhir bulan Safar. Istilah Rebo Wekasan berasal dari bahasa Jawa, yaitu Rebo yang berarti Rabu dan wekasan yang bermakna terakhir atau penutup. Tradisi ini umumnya diisi dengan doa, amalan, dan berbagai kegiatan keagamaan sebagai bentuk ikhtiar untuk memohon perlindungan dari bala dan musibah.
Salah satu amalan yang dianjurkan pada Rebo Wekasan adalah sholat sunnah tolak bala. Sholat ini dilaksanakan setelah terbitnya matahari dan diambil dari keterangan yang tercantum dalam kitab al-Jawahir al-Khomsi. Pelaksanaan sholat sunat Lidaf’il Bala diambil dari keterangan yang tercantum dalam kitab al-Jawahir al-Khomsi halaman 51-52 dilaksanakan pada pagi hari Rabu terakhir bulan Shofar, sebanyak 4 rakaat 2 kali salam.
Selain sholat sunnah tolak bala, Rebo Wekasan juga diisi dengan kegiatan sedekah. Sedekah Rebo Wekasan adalah amalan bersedekah yang dilakukan pada hari Rabu terakhir di bulan Safar, yang oleh sebagian masyarakat diyakini sebagai waktu turunnya berbagai musibah atau bala. Tujuan utama dari momentum ini adalah memohon perlindungan kepada Allah SWT dari berbagai bentuk musibah maupun bala.
Rebo Wekasan juga menjadi momen untuk memperbanyak doa, zikir, dan sedekah sebagai bentuk ikhtiar memohon keselamatan sepanjang tahun. Dalam Islam, sedekah dikenal sebagai salah satu amalan penolak bala sekaligus dipercaya dapat memanjangkan keberkahan umur. Pada momen sedekah Rebo Wekasan, umat dianjurkan menyisihkan sebagian rezekinya untuk berbagi kepada sesama.
Membantu tetangga, menyantuni anak yatim, atau memberi kepada fakir miskin menjadi bentuk kepedulian sosial yang dapat mengundang rahmat dan keberkahan dari Allah SWT. Beberapa contoh-contoh amalan yang biasa dilakukan antara lain: membaca doa tolak bala, melakukan sholat sunnah, dan berbagi kepada sesama.
Tradisi Rebo Wekasan berkembang di berbagai daerah Indonesia dengan bentuk pelaksanaan yang berbeda-beda. Ada masyarakat yang mengisinya dengan pengajian dan doa bersama, ada pula yang menjalankan ritual tertentu yang sudah diwariskan turun-temurun. Karena statusnya sebagai tradisi lokal, tidak ada satu bentuk pelaksanaan Rebo Wekasan yang berlaku seragam di seluruh Indonesia.
Penetapan tanggal Rebo Wekasan mengikuti perhitungan hari Rabu terakhir sebelum bulan Safar berganti ke bulan Rabiul Awal. Bagi masyarakat yang biasa menjalankan tradisi ini, tanggal tersebut menjadi momen untuk memperbanyak doa, zikir, dan sedekah sebagai bentuk ikhtiar memohon keselamatan sepanjang tahun.
Dalam menjalankan tradisi Rebo Wekasan, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal kebaikan, mempererat kepedulian sosial, sekaligus memanjatkan doa keselamatan. Meski bentuk pelaksanaannya berbeda di tiap daerah, semangat berbagi dan memohon perlindungan dari Allah SWT tetap menjadi inti dari tradisi ini.
Dalam menyambut Rebo Wekasan, umat Islam diharapkan dapat memperkuat iman dan takwa, serta memperbanyak amal kebaikan. Dengan demikian, Rebo Wekasan menjadi momentum yang sangat bermanfaat untuk meningkatkan kualitas iman dan memperoleh ridha Allah SWT.











