Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 13 Agustus 2026 | Jason Arday, seorang profesor muda di Universitas Cambridge, baru-baru ini mengundurkan diri dari jabatannya setelah dihadapkan pada tuduhan plagiarisme dan pertanyaan tentang klaim-klaim yang dibuatnya tentang masa lalunya. Arday sebelumnya telah menyatakan bahwa ia tidak bisa berbicara sampai usia 11 tahun dan hanya belajar membaca dan menulis pada usia 18 tahun.
Namun, beberapa orang yang mengenal Arday dari sekolah dasar mengatakan bahwa ia selalu berbicara dan membuat lelucon, sehingga mempertanyakan klaim bahwa ia non-verbal sebagai anak kecil. Sementara itu, Universitas Cambridge telah mengumumkan bahwa mereka akan melakukan penyelidikan independen terhadap proses pengangkatan Arday sebagai profesor.
Kontroversi ini juga memunculkan pertanyaan tentang bagaimana lembaga pendidikan elite seperti Cambridge bisa mengangkat seseorang dengan latar belakang yang dipertanyakan. Beberapa orang berpendapat bahwa kasus Arday menunjukkan bahwa institusi pendidikan telah terlalu fokus pada keberagaman dan inklusi, sehingga mengabaikan kualitas akademis.
Arday sendiri telah menerbitkan memoir yang berjudul ‘Great and Unfortunate Things’, yang menceritakan pengalaman hidupnya dan perjuangannya melawan autisme. Buku ini telah diterbitkan di Amerika Serikat dan akan segera dirilis di Inggris.
Sementara itu, beberapa mahasiswa yang pernah diajar oleh Arday di Universitas Cambridge dan Roehampton telah mengeluarkan keluhan tentang kualitas pengajaran yang diterima. Mereka mengatakan bahwa Arday sering terlambat dan meninggalkan kelas lebih awal, serta tidak memberikan supervisi yang memadai.
Kasus Jason Arday ini telah memicu perdebatan tentang bagaimana lembaga pendidikan elite harus menyeimbangkan kebutuhan akan keberagaman dan inklusi dengan standar akademis yang tinggi. Pertanyaan yang masih belum terjawab adalah bagaimana universitas-universitas seperti Cambridge dapat memastikan bahwa mereka mengangkat staf akademis yang berkualitas dan dapat dipercaya.
Kesimpulan dari kasus ini adalah bahwa lembaga pendidikan harus lebih teliti dalam proses pengangkatan staf akademis dan memastikan bahwa mereka memiliki kualitas yang memadai untuk mendidik mahasiswa. Selain itu, institusi pendidikan juga harus mempertimbangkan bagaimana mereka dapat mempromosikan keberagaman dan inklusi tanpa mengorbankan standar akademis.











