Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 06 Juli 2026 | Tahun ajaran baru telah dimulai, namun beberapa sekolah negeri di Indonesia masih mengalami kendala dalam mencari calon siswa baru. Fenomena ini tidak hanya terjadi di Sekolah Dasar (SD), tetapi juga di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Banyak sekolah negeri yang masih kekurangan peserta didik baru setelah Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) secara daring resmi ditutup.
Di Banjarmasin, misalnya, terdapat 20 SMP Negeri yang masih kekurangan peserta didik baru. Sekolah-sekolah tersebut adalah SMPN 10, SMPN 12, SMPN 13, SMPN 14, SMPN 16, SMPN 17, SMPN 18, SMPN 20, SMPN 21, SMPN 22, SMPN 23, SMPN 25, SMPN 26, SMPN 27, SMPN 28, SMPN 29, SMPN 32, SMPN 33, SMPN 34, dan SMPN 35. Disdik Kota Banjarmasin mengupayakan calon siswa agar memilih sekolah-sekolah yang minim peminat.
Menurut Pengawas Gugus Mulawarman Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin, Rasmila, pemicu fenomena ini adalah lokasi sekolah yang saling berdekatan, berkurangnya jumlah anak usia sekolah, dan belum meratanya pemahaman masyarakat terhadap mekanisme SPMB berbasis online. Akibatnya, ada jalur yang kelebihan pendaftar, sementara di jalur lain justru kosong sehingga kuota sekolah tidak terpenuhi.
Sementara itu, di Jawa Tengah, Ombudsman RI Jawa Tengah menerbitkan imbauan kepada seluruh satuan pendidikan soal larangan penjualan seragam sekolah pada pelaksanaan SPMB tahun ajaran 2026/2027. Imbauan ini diterbitkan setelah Ombudsman masih menemukan praktik pembelian seragam yang diarahkan sejumlah sekolah.
Di sisi lain, beberapa orang tua di Kota Pontianak mengeluhkan sulitnya memasukkan anak ke sekolah dasar negeri pada pelaksanaan SPMB 2026. Mereka mempertanyakan penerapan prioritas usia dan jarak dalam proses seleksi. Salah satunya adalah RN, warga Kelurahan Parit Mayor, Kecamatan Pontianak Timur, yang mengaku kecewa setelah anaknya tidak lolos seleksi di lima SD negeri yang dipilih saat pendaftaran.
Di Bali, Sekda Bali Dewa Made Indra menyarankan agar para siswa dan orang tua membidik SMA/SMK negeri yang kuotanya masih melimpah. Hal ini karena 11 SMA Negeri di Bali masih sepi peminat.
Dalam beberapa tahun terakhir, fenomena sepi pendaftar di sekolah-sekolah negeri telah menjadi masalah yang terus berlanjut. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan dan memperbaiki sistem penerimaan murid baru.











