Pendidikan

Dari Putus Sekolah di Bantar Gebang hingga Impian Masuk Kampus Top Dunia: Perjalanan Inspiratif Siswa Sekolah Rakyat

×

Dari Putus Sekolah di Bantar Gebang hingga Impian Masuk Kampus Top Dunia: Perjalanan Inspiratif Siswa Sekolah Rakyat

Share this article
Dari Putus Sekolah di Bantar Gebang hingga Impian Masuk Kampus Top Dunia: Perjalanan Inspiratif Siswa Sekolah Rakyat
Dari Putus Sekolah di Bantar Gebang hingga Impian Masuk Kampus Top Dunia: Perjalanan Inspiratif Siswa Sekolah Rakyat

Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 20 April 2026 | Seorang remaja bernama Ibrahim Ramadan, yang lahir dan besar di kawasan Bantar Gebang, DKI Jakarta, pernah berada di ambang putus sekolah. Latar belakang keluarga yang hidup di kawasan kumuh, dengan ayahnya bekerja sebagai kuli dan ibunya yang telah tiada sejak Ibrahim masih kecil, membuatnya hampir menyerah pada pendidikan formal. Namun, sebuah peluang datang melalui program pemerintah Sekolah Rakyat yang diluncurkan pada awal 2025.

Program Sekolah Rakyat, yang dikelola oleh Kementerian Sosial di bawah pimpinan Menteri Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, dirancang untuk menyalurkan anak-anak dari keluarga miskin ekstrem (desil 1 dan 2) ke jalur pendidikan berkelanjutan. Ibrahim, yang sebelumnya terpaksa membantu mengais sampah demi membantu ekonomi keluarga, berhasil masuk ke Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 26 di Makassar setelah mengikuti proses seleksi yang ketat.

Selama tiga bulan pertama, Ibrahim mengaku harus beradaptasi dengan sistem asrama dan jadwal belajar yang padat. “Awalnya sulit bangun pagi, terasa berat karena harus mengikuti jadwal yang berlanjut hingga malam,” ujarnya kepada tim redaksi. Namun, dukungan wali asrama dan guru pembimbing yang berpengalaman secara bertahap menumbuhkan kedisiplinan dan rasa percaya diri pada dirinya.

Gus Ipul dalam kunjungan kerja ke SRMA 26 menyoroti perubahan signifikan pada para peserta. “Siswa Sekolah Rakyat kini lebih percaya diri, memiliki minat khusus, dan bertekad kuat untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi,” kata Gus Ipul. Ia menambahkan bahwa pemerintah berkomitmen mendampingi lulusan hingga mereka berhasil masuk perguruan tinggi atau menjadi tenaga kerja terampil sesuai arahan Presiden Prabowo.

Ibrahim memanfaatkan fasilitas Learning Management System (LMS) yang dipakai pada jam belajar pagi. Di sore hari, ia mengikuti program pembinaan karakter, yang meliputi kegiatan keagamaan, sosial, dan keterampilan hidup. “Saya belajar bukan hanya pelajaran akademik, tapi juga tentang nilai-nilai kebersamaan, kejujuran, dan rasa cinta tanah air,” kata Ibrahim.

Keberhasilan Ibrahim tidak lepas dari dukungan konkret yang diberikan oleh Sekolah Rakyat, antara lain:

  • Pembiayaan penuh biaya pendidikan dan asrama selama dua tahun pertama.
  • Bimbingan karir yang menghubungkan siswa dengan universitas dalam negeri maupun luar negeri.
  • Program beasiswa khusus untuk siswa berprestasi yang menunjukkan potensi masuk perguruan tinggi ternama.

Setelah menamatkan kelas 12 dengan nilai rata‑rata 9,2, Ibrahim mendapatkan rekomendasi untuk melamar ke beberapa universitas di Asia dan Eropa. Ia menargetkan universitas dengan peringkat dunia 100 teratas, termasuk Universitas Oxford, Harvard, dan National University of Singapore. “Saya ingin membuktikan bahwa anak dari Bantar Gebang bisa bersaing di tingkat global,” ungkapnya dengan semangat.

Perjalanan Ibrahim juga mendapat sorotan media lokal dan nasional. Kepala SRMA 26, Andi Ernawati, mencatat peningkatan signifikan pada kemampuan presentasi dan kepemimpinan para siswa. “Dulu mereka takut tampil di depan, kini mereka berbicara dengan percaya diri,” ujarnya.

Selain dukungan akademik, Sekolah Rakyat juga melibatkan pihak kepolisian dan lembaga sosial untuk memberikan bantuan psikologis serta motivasi. Contohnya, kisah Dewi Ayu Fatimah, siswi berprestasi yang berjuang melawan infeksi tulang belakang, mendapat bantuan logistik dari kepolisian Kebumen, menunjukkan sinergi lintas sektor dalam mendukung generasi muda.

Dengan tekad yang kuat, dukungan program Sekolah Rakyat, serta jaringan pendampingan yang luas, Ibrahim berharap dapat menembus kampus top global dan kembali membawa perubahan positif bagi komunitas Bantar Gebang. Ia berencana setelah lulus, kembali ke daerah asal untuk menginisiasi program pemberdayaan ekonomi berbasis teknologi, sehingga anak‑anak lain tidak lagi terjebak dalam lingkaran kemiskinan.

Keberhasilan Ibrahim menjadi contoh nyata bahwa kebijakan pendidikan inklusif, bila diimplementasikan dengan konsistensi dan dukungan menyeluruh, dapat mengubah nasib individu sekaligus memberikan kontribusi bagi pembangunan bangsa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *