Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 14 April 2026 | Pasar mobil listrik Indonesia mengalami perubahan signifikan pada Maret 2026. Data wholesales yang dirilis oleh Gaikindo menunjukkan bahwa produsen asal Tiongkok, Jaecoo, berhasil mencatat penjualan sebesar 3.035 unit, melampaui BYD yang hanya terjual 2.941 unit. Kenaikan Jaecoe menandai pergeseran posisi di segmen EV yang selama ini didominasi BYD.
Model andalan Jaecoo, J5 Premium, menjadi motor penggerak utama dengan penjualan 2.959 unit, atau sekitar 97 persen dari total penjualan Jaecoo. Kendaraan ini menonjolkan desain mirip Range Rover Evoque, dimensi kompak (panjang 4.380 mm, lebar 1.860 mm, tinggi 1.650 mm) dan jarak tempuh baterai 60,9 kWh yang dapat mencapai 471 km. Meskipun harganya hampir Rp 65 juta lebih mahal daripada model kompetitornya, konsumen bersedia membayar premi tersebut karena spesifikasi yang lebih tinggi, termasuk tenaga 201 dk dan akselerasi 0-100 km/jam dalam 6,9 detik.
Berbeda dengan performa Jaecoo, BYD mengalami penurunan tajam pada model flagship Atto 1. Pada Maret, penjualan Atto 1 hanya menyentuh 672 unit, turun drastis dari 3.700 unit pada Februari. Penurunan ini menjadi faktor utama mengapa total penjualan BYD turun menjadi 2.941 unit, jauh di bawah capaian Jaecoo. Sementara itu, BYD mencoba menyeimbangkan portofolio dengan mengandalkan model MPV M6 yang naik menjadi 976 unit dan Denza D9 yang terjual 455 unit. Model BYD Sealion 07 berhasil menempati posisi kedua dalam daftar 10 mobil listrik terlaris dengan 1.236 unit.
Berikut adalah ringkasan penjualan utama pada Maret 2026:
| Produsen | Model | Unit Terjual | Keterangan |
|---|---|---|---|
| Jaecoo | J5 Premium | 2.959 | Dominasi 97% total penjualan Jaecoo |
| Jaecoo | Jumlah Total | 3.035 | Salip BYD |
| BYD | Atto 1 | 672 | Penurunan drastis dibanding Februari |
| BYD | M6 MPV | 976 | Peningkatan signifikan |
| BYD | Sealion 07 | 1.236 | Posisi kedua dalam 10 terlaris |
| BYD | Denza D9 | 455 | Naik dibanding bulan sebelumnya |
Beberapa faktor yang menjadi penyebab penurunan penjualan BYD di bulan Maret dapat diidentifikasi:
- Penurunan minat pada Atto 1: Model ini mengalami penurunan daya tarik akibat persaingan harga dan spesifikasi yang kini kalah bersaing dengan Jaecoo J5 Premium.
- Strategi harga Jaecoo: Jaecoo meluncurkan J5 Premium dengan harga spesial Rp 299,9 juta, kemudian disesuaikan menjadi Rp 309,9 juta, namun masih dianggap sebanding dengan nilai yang ditawarkan.
- Ketersediaan pasokan: Pada periode Idul Fitri, distribusi mobil listrik terhambat karena cuti bersama dan keterbatasan logistik, yang berdampak lebih berat pada model dengan stok terbatas seperti Atto 1.
- Preferensi konsumen terhadap jarak tempuh: Baterai 60,9 kWh Jaecoo menawarkan jarak tempuh lebih jauh dibanding Atto 1 yang hanya 38,88 kWh, menjadikan Jaecoo pilihan lebih praktis untuk penggunaan harian.
Data kuartal I 2026 juga menguatkan tren ini. Total penjualan mobil penumpang mencapai 211.905 unit, dengan merek Jepang masih mendominasi. Namun, BYD mencatat 10.265 unit (4,8% pangsa pasar) dan Jaecoo 7.927 unit (3,7%). Keberhasilan Jaecoo menembus posisi ketujuh, bahkan mengalahkan Hyundai (4.824 unit), menandakan pergeseran dinamika persaingan antara produsen China di pasar domestik.
Sementara BYD berusaha memulihkan posisi dengan menambah penjualan MPV dan model baru, Jaecoo terus memanfaatkan keunggulan desain dan spesifikasi untuk menarik segmen menengah atas yang bersedia membayar premi. Persaingan dengan pemain lain seperti Geely, yang menempati posisi keempat dengan model EX2 (949 unit), semakin memperketat persaingan di segmen EV.
Secara keseluruhan, penurunan penjualan BYD pada Maret 2026 bukan sekadar fenomena musiman, melainkan hasil kombinasi strategi harga, diferensiasi produk, dan perubahan preferensi konsumen yang kini mengutamakan jarak tempuh dan desain. Jaecoo berhasil memanfaatkan celah tersebut dengan menawarkan produk yang lebih premium dan tetap kompetitif secara harga, sehingga mampu menyalip BYD dalam satu bulan kritis. Ke depan, BYD harus meninjau kembali portofolio modelnya, menyesuaikan harga, serta memperkuat jaringan distribusi untuk mengantisipasi fluktuasi pasar yang dipengaruhi oleh faktor musiman dan persaingan yang semakin ketat.

