Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 24 Mei 2026 | Istana Karya Difabel (IKD) menjadi ruang tumbuh bagi anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) dan penyandang disabilitas di wilayah Kota Surabaya, Jawa Timur, melalui kesenian dan rumah singgah. Komunitas tersebut berdiri pada 2 Juli 2020, yang bermula dari panggung musik sederhana di Sentra Wisata Kuliner (SWK) Arif Rahman Hakim, Surabaya, oleh Andy Setiawan atau yang kerap disapa Andy Elektrik.
Di tempat itulah, seorang anak tunanetra memainkan piano dengan penuh penghayatan hingga membuat Andy menyadari bahwa musik mampu membangun rasa percaya diri anak difabel. Andy mengajak seorang anak tunanetra yang memiliki kemampuan bermain musik untuk ikut latihan. Saat itu Andy memiliki studio rekaman, sehingga anak tersebut kemudian direkam hingga menghasilkan enam lagu.
Andy menambahkan, dari ajakan yang berbuah hasil tersebut, rekan-rekan salah satu penyandang disabilitas tersebut juga tertarik untuk belajar, hingga akhirnya jumlah anak yang bergabung terus bertambah mencapai sekitar 70 orang. Suasana kebersamaan terlihat setiap kali latihan seni digelar di Taman Flora Surabaya.
Di bawah rindangnya pepohonan dan suara burung yang sesekali terdengar dari area taman, anak-anak difabel berkumpul sambil membawa alat musik, perlengkapan melukis, hingga kostum tari. Sebagian duduk melingkar memegang beragam alat musik, sementara beberapa anak lain tampak berlatih gerakan tari dengan dipandu relawan.
IKD juga membuka ruang bagi difabel lain yang ingin bergabung tanpa syarat administrasi maupun biaya. Dari proses kreatif tersebut, IKD bahkan telah merilis album perdana berisi video klip lagu ciptaan Andy Elektrik yang dibawakan langsung oleh anak-anak binaan. Salah satu lagu yang cukup dikenal berjudul “Terang dalam Gulita”.
Selain fokus pada kesenian, IKD juga berkembang menjadi rumah singgah bagi penyandang disabilitas yang tidak memiliki tempat tinggal atau sedang mengalami kesulitan ekonomi dan kesehatan. Rumah singgah yang berada di kawasan Balas Klumprik, Wiyung, Surabaya, itu terlihat sederhana dari luar. Namun saat pintu dibuka, suasana hangat langsung terasa.
Suara percakapan bercampur denting gitar terdengar dari ruang tengah, sementara aroma wedang uwuh dan kopi menguar dari dapur kecil di bagian belakang rumah. Dengan adanya IKD, diharapkan anak-anak difabel dapat memiliki tempat yang nyaman dan mendukung untuk mengembangkan kemampuan mereka.
Kehadiran IKD juga membuka peluang bagi masyarakat untuk lebih memahami dan mendukung anak-anak difabel, sehingga mereka dapat hidup lebih mandiri dan percaya diri. Dengan demikian, IKD tidak hanya menjadi tempat bagi anak-anak difabel, tetapi juga menjadi simbol harapan dan kekuatan bagi mereka untuk meraih cita-cita dan menggapai impian.

