Musik

The Strokes Coachella: Konser Penuh Protes Anti Imperialisme AS dan Dukungan Palestina

×

The Strokes Coachella: Konser Penuh Protes Anti Imperialisme AS dan Dukungan Palestina

Share this article
The Strokes Coachella: Konser Penuh Protes Anti Imperialisme AS dan Dukungan Palestina
The Strokes Coachella: Konser Penuh Protes Anti Imperialisme AS dan Dukungan Palestina

Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 22 April 2026 | The Strokes kembali menggebrak panggung Festival Coachella 2026 dengan penampilan yang tak sekadar musikal, melainkan menjadi arena protes politik berskala internasional. Selama set kedua akhir pekan kedua, grup rock asal New York ini menayangkan serangkaian visual yang mengungkap operasi rahasia CIA, kudeta militer, serta dampak agresi militer AS‑Israel terhadap Iran dan Palestina. Penonton yang semula menantikan hits klasik seperti “Last Nite” disuguhi narasi visual yang menantang narasi media arus utama.

Visual dimulai dengan gambar masjid bercahaya yang perlahan beralih menjadi potret Mohammad Mossadegh, perdana menteri Iran yang digulingkan pada 1953 melalui operasi gabungan CIA dan MI6. Layar LED raksasa menampilkan dokumen deklasifikasi yang menegaskan peran intelijen Amerika Serikat dalam kudeta tersebut, sekaligus menimbulkan pertanyaan retoris yang dibawakan vokalis Julian Casablancas: “Di pihak mana Anda berdiri?”.

Setelah itu, montase berlanjut menyoroti serangkaian intervensi Amerika di Afrika dan Amerika Latin, termasuk penggulingan Patrice Lumumba di Kongo, Juan José Torres di Bolivia, serta Jacobo Árbenz di Guatemala. Setiap gambar diiringi dengan potongan audio arsip, menciptakan suasana dramatis yang menghubungkan masa lalu dengan konflik kontemporer di Timur Tengah.

Bagian paling mengguncang muncul ketika layar menampilkan foto-foto hancurnya lebih dari tiga puluh universitas di wilayah Republik Islam Iran, kerusakan yang dikaitkan dengan serangan udara yang dipimpin oleh koalisi AS‑Israel sejak awal tahun 2026. Data tersebut dikutip dari Kementerian Sains dan Teknologi Iran, menegaskan dampak nyata pada infrastruktur pendidikan negara tersebut. Selanjutnya, visual beralih ke Gaza, menampilkan rekaman pengeboman kampus Al‑Israa yang menewaskan ratusan mahasiswa, mempertegas solidaritas band terhadap rakyat Palestina.

Selain gambar, The Strokes menambahkan elemen musik yang menegaskan pesan politiknya. Lagu “Oblivius” dari album 2016 dipilih kembali, dengan lirik yang diubah sedikit untuk menyesuaikan konteks protes. Ketukan gitar yang khas bersatu dengan latar visual, menciptakan pengalaman audiovisual yang menegangkan dan penuh makna.

Penampilan ini langsung menjadi viral di platform media sosial, terutama X (Twitter), dengan video aksi panggung ditonton lebih dari 3,7 juta kali dalam semalam. Namun, tak lama kemudian, algoritma sensor platform menghapus tayangan tersebut, memicu perdebatan tentang kebebasan berekspresi dan peran platform digital dalam menahan konten kritis.

Para pengamat menilai langkah The Strokes sebagai evolusi baru dalam peran musisi sebagai aktivis. Sejak era 1960‑an, band seperti The Beatles dan Bob Dylan telah mengaitkan musik dengan gerakan sosial; kini, The Strokes melampaui lirik, memanfaatkan teknologi panggung untuk menyampaikan rangkaian fakta historis yang jarang diangkat dalam konser massal.

  • Kudeta CIA di Iran (1953)
  • Penggulingan Patrice Lumumba (1960)
  • Operasi di Bolivia (1970‑an)
  • Intervensi di Guatemala (1954)
  • Pemboman universitas di Iran (2026)
  • Serangan di kampus Al‑Israa, Gaza (2026)

Reaksi publik beragam. Sebagian mengapresiasi keberanian The Strokes menonjolkan isu-isu kemanusiaan, sementara pihak lain menilai aksi tersebut sebagai politisasi berlebihan terhadap acara musik. Namun, tak dapat dipungkiri bahwa penampilan ini membuka ruang diskusi baru tentang tanggung jawab artis dalam menyuarakan keadilan global.

Ke depan, para aktivis menantikan langkah selanjutnya, baik dari The Strokes maupun musisi internasional lainnya, dalam memperjuangkan hak-hak rakyat yang tertindas. Sementara itu, dunia menanti respons resmi dari pemerintah AS terkait tuduhan keterlibatan dalam serangan yang menargetkan institusi pendidikan di Iran.

Kesimpulannya, The Strokes Coachella telah membuktikan bahwa musik dapat menjadi medium kuat untuk mengungkap kebenaran politik, menghubungkan generasi muda dengan sejarah kelam, serta memicu aksi solidaritas lintas batas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *