Ekonomi

Rupiah Melemah, Apa yang Terjadi dan Bagaimana Dampaknya?

×

Rupiah Melemah, Apa yang Terjadi dan Bagaimana Dampaknya?

Share this article
Rupiah Melemah, Apa yang Terjadi dan Bagaimana Dampaknya?
Rupiah Melemah, Apa yang Terjadi dan Bagaimana Dampaknya?

Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 20 Mei 2026 | Rupiah telah melemah dalam beberapa waktu terakhir, menembus level Rp17.600 per dolar AS. Pelemahan ini dipicu oleh tekanan eksternal, termasuk meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan harga minyak yang tinggi.

Menurut Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. Josua Pardede, Bank Indonesia perlu mempertimbangkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,00% pada RDG Mei ini guna menjaga stabilitas pasar dan memperkuat kepercayaan terhadap rupiah.

Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky juga memperkirakan BI Rate akan naik 25 bps menjadi 5,00% pada RDG Mei 2026. Riefky menilai inflasi domestik sebenarnya masih relatif terkendali, namun tekanan terhadap rupiah dinilai menjadi faktor utama yang mendorong perlunya respons kebijakan moneter tambahan.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan pemerintah belum akan mengubah asumsi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) meski nilai tukar rupiah mengalami pelemahan. Purbaya menilai pemerintah sebelumnya telah mengantisipasi berbagai risiko global dalam penyusunan APBN, termasuk kemungkinan lonjakan harga minyak dunia dan pergerakan nilai tukar rupiah.

Pelemahan rupiah dapat memicu imported inflation, yaitu inflasi yang dipicu oleh lonjakan harga barang impor. Hal ini dapat berdampak pada harga pangan, subsidi energi, dan industri manufaktur. Oleh karena itu, perlu dilakukan langkah-langkah untuk menjaga stabilitas rupiah dan memperkuat kepercayaan terhadap mata uang domestik.

Dalam beberapa hari terakhir, rupiah bergerak fluktuatif tetapi cenderung melemah. Rupiah ditutup melemah sebesar 0,22% ke level Rp17.700 per dolar AS pada Selasa (19/5/2026). Pelemahan ini sejalan dengan depresiasi mayoritas mata uang Asia lainnya.

Bank Indonesia diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) guna menjaga stabilitas rupiah dan meredam tekanan di pasar keuangan. Selain keputusan suku bunga, investor juga menanti pernyataan resmi Bank Indonesia yang diharapkan mampu mengembalikan kepercayaan pasar terhadap prospek ekonomi domestik.

Sikap yang lebih hawkish dari BI dinilai dapat menjadi katalis positif bagi rupiah dalam jangka pendek. Namun, perlu diingat bahwa pelemahan rupiah dapat memiliki dampak yang luas pada perekonomian domestik, termasuk pada inflasi, subsidi energi, dan industri manufaktur.

Oleh karena itu, perlu dilakukan langkah-langkah yang tepat untuk menjaga stabilitas rupiah dan memperkuat kepercayaan terhadap mata uang domestik. Hal ini dapat dilakukan dengan menaikkan suku bunga, mengeluarkan pernyataan yang dapat meningkatkan kepercayaan pasar, dan melakukan intervensi di pasar keuangan untuk menjaga stabilitas rupiah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *