Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 08 Agustus 2026 | Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS telah mengalami fluktuasi dalam beberapa hari terakhir. Pada Jumat, 7 Agustus 2026, rupiah ditutup melemah di level Rp17.935 per dolar AS, turun 12 poin dari penutupan sebelumnya. Namun, beberapa hari sebelumnya, rupiah juga mengalami penguatan, seperti pada Jumat, 7 Agustus 2026, ketika rupiah ditutup menguat di level Rp17.897 per dolar AS.
Menurut analis, pergerakan rupiah dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik internal maupun eksternal. Dalam negeri, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang solid dan stabil merupakan salah satu pendorong utama. Pada kuartal II 2026, produk domestik bruto (PDB) Indonesia tumbuh 5,29% secara tahunan, lebih tinggi dari ekspektasi pasar sebesar 5,10%. Meskipun sedikit lebih rendah dari pertumbuhan kuartal sebelumnya sebesar 5,61%, data tersebut mencerminkan ketahanan ekonomi domestik yang masih solid di tengah ketidakpastian global.
Di sisi lain, pergerakan rupiah juga dipengaruhi oleh faktor eksternal, seperti perubahan kebijakan moneter di Amerika Serikat. Pelemahan dolar AS setelah data ADP Employment dan ISM Services PMI Amerika Serikat dirilis lebih lemah dari ekspektasi pasar, telah meningkatkan ekspektasi bahwa Federal Reserve tidak akan terburu-buru memperketat kebijakan moneter. Hal ini berdampak positif pada nilai tukar rupiah.
Selain itu, kemajuan diplomatik antara Iran dan Oman terkait jalur pelayaran di Selat Hormuz juga mengurangi permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven, sehingga mendukung penguatan rupiah. Namun, pelaku pasar masih menunggu rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat, terutama laporan Nonfarm Payrolls (NFP), yang dapat mempengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah melalui perubahan ekspektasi terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Dalam jangka pendek, rupiah diperkirakan masih bergerak menguat didukung oleh pertumbuhan ekonomi domestik yang lebih baik dari perkiraan serta pelemahan dolar AS di pasar global. Namun, ruang penguatan diperkirakan tetap terbatas karena pelaku pasar akan mencermati rilis cadangan devisa Indonesia dan data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang berpotensi meningkatkan volatilitas pasar.
Di tengah fluktuasi ini, Bank Indonesia (BI) terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui kebijakan moneter yang tepat. BI-Rate yang dipertahankan pada level 5,75% pada Juli 2026, merupakan salah satu upaya untuk menjaga stabilitas rupiah dan mengendalikan inflasi. Dengan demikian, nilai tukar rupiah diprediksi berada di sekitar Rp17.850-Rp17.950 per dolar AS dalam jangka pendek.
Kesimpulan, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS telah mengalami fluktuasi dalam beberapa hari terakhir, dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang solid, pelemahan dolar AS, dan kemajuan diplomatik internasional, merupakan beberapa faktor yang mendukung penguatan rupiah. Namun, pelaku pasar tetap waspada terhadap rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat dan cadangan devisa Indonesia yang dapat mempengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah.









