Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 24 Mei 2026 | Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) diperkirakan masih bertahan kuat sepanjang Juni 2026. Dewan Minyak Sawit Malaysia (MPOC) memperkirakan harga CPO akan bergerak di kisaran RM4.400 per ton, ditopang potensi gangguan pasokan global serta meningkatnya risiko cuaca akibat perkembangan fenomena El Niño.
Menurut laporan The Edge Malaysia, MPOC menilai tekanan yang sebelumnya terjadi di pasar minyak nabati lebih dipicu aksi ambil untung pelaku pasar dan dana spekulatif, bukan karena perubahan fundamental pasokan. MPOC memandang ketidakpastian geopolitik dan ancaman gangguan cuaca masih menjadi faktor utama yang menopang pasar minyak nabati dunia dalam beberapa bulan ke depan.
El Niño biasanya membawa kondisi cuaca lebih kering dari normal di Asia Tenggara, mengurangi curah hujan dan kelembapan tanah yang berpotensi memengaruhi pasokan pertanian regional. Berdasarkan proyeksi Departemen Meteorologi Malaysia (MET), perkembangan El Niño diperkirakan mulai terlihat pada Juni hingga Juli 2026 dan berpotensi berlangsung sampai awal 2027.
Di tengah ancaman pasokan tersebut, posisi minyak sawit justru dinilai semakin kompetitif dibanding minyak nabati lain. Penguatan sektor biofuel di Amerika Serikat mendorong kenaikan harga minyak kedelai di pasar Eropa hingga mencapai level tertinggi sejak November 2022 pada pertengahan Mei 2026.
Kenaikan tersebut membuat minyak kedelai diperdagangkan dengan premi sekitar US$110 per ton dibanding minyak sawit, sekaligus memperkuat posisi sawit sebagai minyak nabati paling ekonomis di sejumlah pasar utama. Bagi pasar India, kondisi itu menjadi keuntungan tersendiri bagi minyak sawit.
Selain itu, harga tandan buah segar (TBS) petani sawit anjlok setelah munculnya kebijakan baru tata kelola ekspor sawit melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Ketua Umum Perhimpunan Organisasi Petani Sawit Indonesia (POPSI), Mansuetus Darto, mengungkapkan bahwa para pengusaha, trader, refinery, eksportir, dan pelaku pasar memilih menahan diri akibat ketidakpastian arah kebijakan pemerintah.
Empat asosiasi petani kelapa sawit nasional menyuarakan kekhawatiran atas anjloknya harga TBS usai pernyataan Presiden Prabowo Subianto terkait pembenahan tata kelola ekspor komoditas strategis, termasuk kepala sawit atau crude palm oil (CPO). Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), Sawitku Masa Depanku (Samade), Serikat Petani Kelapa Sawit Indonesia (SPKSI), dan Asosiasi Petani Kelapa Sawit Pola Inti Rakyat (Aspekpir) menggelar pertemuan untuk membahas dampak kebijakan tersebut terhadap harga sawit di tingkat petani.
Ketua Umum DPP Apkasindo Gulat Manurung mengatakan bahwa sejak pemerintah mengumumkan rencana penataan tata kelola ekspor komoditas strategis, harga TBS di tingkat petani langsung mengalami tekanan signifikan. Penurunan harga TBS mencapai Rp500 hingga Rp1.000 per kilogram di berbagai provinsi.
Ia menilai penurunan tersebut tidak sepenuhnya sejalan dengan koreksi harga CPO di pasar. Berdasarkan perhitungan umum industri, setiap penurunan harga CPO sebesar Rp1.000 per kilogram biasanya hanya menekan harga TBS sekitar Rp300 per kilogram.
Sementara itu, Pemprov Riau minta perusahaan tidak menurunkan harga TBS sawit sepihak. Imbauan ini dilakukan imbas penurunan harga sawit akibat kebijakan pemerintah. Penurunan harga sawit ini tak hanya terjadi di Riau, namun juga secara nasional.
Dinas Perkebunan Riau bersurat kepada dinas terkait di kabupaten/kota, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), perusahaan perkebunan lintas kabupaten/kota, dan asosiasi petani sawit. Isinya untuk bersama-sama mengawal dan meminta kepada pelaku usaha perkebunan untuk tidak menurunkan harga TBS secara sepihak tanpa alasan yang jelas.
Di lain pihak, harga sembako di Jawa Timur terus mengalami fluktuasi dari hari ke hari. Pada hari ini harga beras premium, minyak goreng, telur ayam, garam bata, cabe, gas elpigi dan bawang putih naik. Sementara daging ayam ras dan daging ayam kampung mengalami penurunan.
Kesimpulan, harga CPO dan TBS sawit saat ini menghadapi tantangan dan peluang di masa depan. Dengan adanya kebijakan pemerintah dan perkembangan cuaca, harga sawit diperkirakan akan tetap bertahan kuat. Namun, perlu diwaspadai bahwa penurunan harga TBS dapat berdampak pada pendapatan petani sawit. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya untuk menjaga stabilitas harga TBS dan meningkatkan kesejahteraan petani sawit.









