Bisnis

Emiten Indonesia Siap Menggelitiki Pasar Modal, Dari Bisnis LNG Hingga Rights Issue

×

Emiten Indonesia Siap Menggelitiki Pasar Modal, Dari Bisnis LNG Hingga Rights Issue

Share this article
Emiten Indonesia Siap Menggelitiki Pasar Modal, Dari Bisnis LNG Hingga Rights Issue
Emiten Indonesia Siap Menggelitiki Pasar Modal, Dari Bisnis LNG Hingga Rights Issue

Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 16 Juni 2026 | Pasar modal Indonesia terus menunjukkan kemajuan dengan berbagai strategi yang diterapkan oleh emiten-emiten di dalamnya. Salah satu emiten yang memperluas lini usahanya adalah PT Citra Nusantara Gemilang Tbk (CGAS) yang bersiap memasuki bisnis liquefied natural gas (LNG). Proyek ini ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada kuartal IV-2026 dan diharapkan menjadi sumber pertumbuhan baru bagi perseroan.

Direktur Utama CGAS, Andika Purwonugroho, menyatakan bahwa perseroan menargetkan pendapatan sebesar Rp879 miliar pada 2026 atau meningkat 43,65% dibandingkan realisasi 2025. Sementara itu, laba bersih ditargetkan mencapai Rp23,9 miliar atau tumbuh 68,14% secara tahunan. Andika menjelaskan bahwa target tersebut didukung oleh peningkatan volume penjualan yang diproyeksikan mencapai 3.539.000 MMBTU pada 2026, naik 41,83% dibandingkan tahun sebelumnya.

Selain CGAS, beberapa emiten lainnya juga melakukan strategi untuk meningkatkan pendapatan dan ekspansi bisnis. Misalnya, PT Saranacentral Bajatama Tbk (BAJA) yang melakukan rights issue untuk meningkatkan modal dengan menawarkan 900 juta saham baru. Dana yang diperoleh dari rights issue tersebut akan digunakan untuk melunasi utang dan modal kerja.

Badan Pengelola Investasi Danantara juga mengadopsi strategi jangka panjang dalam pengelolaan portofolio investasi negara. CEO Danantara, Rosan Roeslani, menyatakan bahwa strategi ini dilakukan untuk memitigasi dampak guncangan ekonomi global terhadap pasar modal dalam negeri. Rosan juga menyatakan bahwa koreksi pasar modal Indonesia hingga 40 persen dalam beberapa bulan terakhir memicu aksi beli investor asing karena harga saham emiten domestik menjadi sangat murah.

Dalam beberapa tahun terakhir, pasar modal Indonesia juga mulai menarik perhatian investor asing. Namun, gelombang IPO teknologi pada periode 2021-2022 yang menghadirkan nama-nama seperti GOTO dan Bukalapak, nyaris tidak ada lagi perusahaan teknologi berskala besar yang masuk ke bursa. Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, menyatakan bahwa era IPO teknologi di pasar saham Indonesia sebetulnya tidak berakhir, melainkan hanya tertunda akibat fase konsolidasi pasca-Tech Winter.

Harry juga menyatakan bahwa investor global rela membayar mahal saham teknologi karena model bisnis revolusioner dan dominasi pasar global. Sementara di Indonesia, tren tersebut akan sulit terjadi karena Indonesia tidak memiliki emiten teknologi yang canggih. Walau demikian, Samuel Sekuritas melihat ada beberapa perusahaan teknologi yang berpeluang untuk menjadi bintang baru di pasar modal Tanah Air dalam 5 tahun ke depan, seperti Kredivo dan Akulaku.

Kesimpulan, emiten-emiten di Indonesia terus melakukan strategi untuk meningkatkan pendapatan dan ekspansi bisnis. Dari bisnis LNG hingga rights issue, berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan kinerja keuangan dan memperluas pangsa pasar. Dengan strategi jangka panjang yang diadopsi oleh Danantara dan koreksi pasar modal yang memicu aksi beli investor asing, diharapkan pasar modal Indonesia dapat terus tumbuh dan berkembang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *