Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 22 April 2026 | Jumat, 21 April 2026, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto mengejutkan publik dengan keputusan tak terduga: memanggil prajurit TNI untuk membacakan doa pada serangkaian retret ketua DPRD di seluruh provinsi. Kejadian ini terjadi berbarengan dengan panggilan khusus kepada Penasihat Khusus Presiden Bidang Pertahanan Nasional, Jenderal TNI (Purn) Dudung Abdurachman, yang tiba di Istana pada pukul 14.30 WIB.
Menurut saksi mata di kompleks istana, Dudung tiba dengan kemeja putih dan langsung dijemput oleh ajudan presiden. “Semalam saya diberi telepon bahwa saya harus menghadap Bapak Presiden jam tiga sore,” ujar Dudung. Ia menambahkan bahwa agenda pertemuan belum dijelaskan secara rinci, namun diperkirakan akan mencakup isu-isu nasional, internasional, serta geopolitik Timur Tengah.
Panggilan Dudung menjadi bagian dari rangkaian aksi Prabowo panggil TNI yang lebih luas. Presiden Prabowo, yang dikenal sering meminta masukan dari penasihat militer, tampaknya ingin menegaskan peran militer dalam mendukung upacara keagamaan dan persatuan nasional. Dalam konteks retret DPRD, para ketua dewan daerah berkumpul untuk membahas agenda pembangunan, transparansi anggaran, dan kebijakan publik. Prabowo menambahkan bahwa kehadiran prajurit TNI sebagai pembaca doa akan menjadi simbol persatuan antara institusi pertahanan dan lembaga legislatif daerah.
Dalam pertemuan tersebut, Dudung menyampaikan bahwa ia telah menyiapkan sejumlah poin penting untuk dibahas bersama Presiden. Antara lain, perkembangan kerja sama pertahanan utama (Major Defense Cooperation Partnership) antara Indonesia dan Amerika Serikat, serta situasi geopolitik yang semakin volatile di Timur Tengah. “Isu geopolitik Timur Tengah menjadi salah satu fokus utama kami,” kata Dudung, menegaskan pentingnya pemahaman strategis dalam kebijakan luar negeri Indonesia.
Selain pembahasan kebijakan pertahanan, Presiden Prabowo juga menyinggung pentingnya nilai-nilai kebersamaan dalam upacara doa. “Doa adalah bentuk persatuan jiwa, dan dengan melibatkan TNI sebagai pembaca doa, kita menegaskan bahwa seluruh elemen bangsa bersatu dalam satu tujuan,” ujar Prabowo dalam pernyataan singkat kepada wartawan sebelum beranjak ke agenda selanjutnya.
Reaksi dari kalangan politik dan masyarakat beragam. Beberapa anggota DPRD menyambut baik inisiatif tersebut sebagai simbol integrasi antara lembaga eksekutif, legislatif, dan militer. Namun, ada pula kritikus yang menilai langkah ini berpotensi menimbulkan kebingungan peran TNI dalam urusan sipil. “Kita harus tetap menjaga netralitas militer, namun jika dimaknai sebagai bentuk solidaritas nasional, langkah ini dapat diterima,” ujar salah satu pakar politik dari Universitas Indonesia.
Secara logistik, persiapan melibatkan koordinasi antara Kantor Staf Presiden, Kementerian Pertahanan, dan markas besar TNI. Prajurit yang ditunjuk untuk membaca doa dipilih dari satuan khusus yang memiliki latar belakang keagamaan dan kepemimpinan moral. Mereka dilatih untuk menyampaikan doa yang mencerminkan keragaman agama di Indonesia, sekaligus menekankan nilai-nilai persatuan.
Pertemuan antara Prabowo dan Dudung berakhir pada sore hari dengan kesepakatan bahwa masukan militer akan dituangkan dalam kebijakan yang lebih luas, termasuk dalam agenda retret DPRD. Dudung berjanji akan menyampaikan ringkasan hasil pertemuan kepada presiden dalam waktu dekat, sementara Prabowo menegaskan akan terus mengadakan dialog terbuka dengan semua pihak demi kemajuan bangsa.
Langkah Prabowo panggil TNI ini menandai babak baru dalam hubungan sipil-militer di Indonesia, menggabungkan dimensi spiritual, politik, dan keamanan dalam satu rangkaian acara yang belum pernah terjadi sebelumnya. Bagaimana dampaknya terhadap dinamika politik daerah dan persepsi publik terhadap peran TNI masih menjadi pertanyaan yang akan terjawab seiring berjalannya waktu.











