Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 18 April 2026 | Jakarta, 18 April 2026 – Ketua Umum DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Megahwati Soekarnoputri, hadir sebagai keynote speaker dalam peringatan ke-71 Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955 yang diselenggarakan di Sekolah Partai PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Acara yang dimulai pada pukul 11.10 WIB ini menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk meninjau kembali semangat Dasasila Bandung sekaligus menegaskan kembali peran strategis negara‑negara Asia dan Afrika dalam dinamika geopolitik global.
Megawati tiba bersama Ketua DPP PDIP, Bintang Puspayoga, dan disambut oleh Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto, serta Ketua DPP PDIP, Ahmad Basarah, dan Wakil Sekjen PDIP, Yoseph Aryo Adhi Dharmo. Sesampainya di lokasi, beliau diajak menelusuri lorong masuk Sekolah Partai yang dihiasi rangkaian foto dan catatan sejarah tokoh‑tokoh utama KAA, termasuk Soekarno, Jawaharlal Nehru, U Nu, dan John Kotelawala. Megawati menelusuri setiap dokumentasi dengan cermat, menandakan keseriusan beliau dalam menyerap kembali nilai‑nilai kebangsaan yang tercipta pada pertemuan bersejarah di Bandung pada tahun 1955.
Setelah meninjau lorong sejarah, Megawati naik ke podium pada pukul 13.30 WIB untuk menyampaikan pidato kunci. Pidato tersebut menekankan tiga poin utama:
- Penguatan Semangat Bandung: Megawati mengingatkan kembali bahwa semangat anti‑imperialisme, persatuan, dan kerja sama yang menjadi landasan KAA tetap relevan dalam era digital dan tantangan keamanan siber.
- Peran Indonesia dalam Diplomasi Selatan‑Selatan: Ia menegaskan komitmen Indonesia untuk menjadi mediator dalam konflik regional, khususnya di Timur Tengah, serta mendukung inisiatif ekonomi bersama yang mengurangi ketergantungan pada kekuatan Barat.
- Solidaritas dalam Menghadapi Tantangan Global: Megawati menyerukan kerja sama lintas benua dalam penanggulangan perubahan iklim, pemulihan pasca‑pandemi, dan pembangunan infrastruktur berkelanjutan.
Dalam pidatonya, Megawati juga menyinggung pentingnya generasi muda dalam mewujudkan visi KAA. Ia mengajak para pemuda Indonesia untuk memperdalam pemahaman sejarah, mengembangkan kemampuan diplomasi, dan berpartisipasi aktif dalam forum internasional. “Kita tidak boleh membiarkan semangat 1955 hanya menjadi catatan sejarah, melainkan harus menjadi aksi nyata dalam kebijakan luar negeri dan pembangunan nasional,” ujar Megawati.
Acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab antara delegasi partai politik, akademisi, dan aktivis sosial. Beberapa pertanyaan menyoroti peran Indonesia dalam konflik di Timur Tengah, isu perdagangan bebas, serta strategi pemulihan ekonomi pasca‑COVID‑19. Megawati menanggapi dengan menekankan pentingnya dialog multilateral dan kebijakan yang berpihak pada kepentingan rakyat, bukan pada kepentingan geopolitik semata.
Peringatan ke-71 KAA ini tidak hanya menjadi ajang nostalgia, tetapi juga platform strategis bagi Indonesia untuk memperkuat posisi tawar di panggung internasional. Dengan mengangkat kembali nilai‑nilai dasar Bandung, Megawati berharap dapat memicu sinergi baru antara negara‑negara Asia dan Afrika, terutama dalam bidang energi terbarukan, teknologi digital, dan pendidikan.
Sejumlah tokoh penting turut hadir, termasuk perwakilan Kementerian Luar Negeri, akademisi dari Universitas Indonesia, serta perwakilan organisasi non‑pemerintah yang bergerak di bidang hak asasi manusia. Semua pihak menyambut baik upaya Megawati untuk menghidupkan kembali semangat solidaritas selatan‑selatan yang pernah menjadi tonggak penting dalam sejarah perjuangan dekolonisasi.
Kesimpulannya, peringatan ke-71 Konferensi Asia-Afrika yang dipimpin oleh Megawati Soekarnoputri berhasil menggabungkan refleksi sejarah dengan agenda kebijakan kontemporer. Pidato kunci beliau menegaskan komitmen Indonesia untuk menjadi jembatan dialog antara Asia dan Afrika, sekaligus mengajak seluruh elemen bangsa untuk meneladani semangat Bandung dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.









