Politik

Cak Imin Dinilai Layak Jadi Ketua PBNU, Gus Maftuch Ungkap Alasan Utama

×

Cak Imin Dinilai Layak Jadi Ketua PBNU, Gus Maftuch Ungkap Alasan Utama

Share this article
Cak Imin Dinilai Layak Jadi Ketua PBNU, Gus Maftuch Ungkap Alasan Utama
Cak Imin Dinilai Layak Jadi Ketua PBNU, Gus Maftuch Ungkap Alasan Utama

Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 29 April 2026 | Menjelang Musyawarah Besar Nahdlatul Ulama (Muktamar) ke-35 yang direncanakan pada Agustus 2026, nama Muhaimin Iskandar atau yang lebih akrab disapa Cak Imin kembali menjadi sorotan utama dalam dinamika internal organisasi. Ketua Panitia Pra‑Muktamar Luar Biasa (MLB), Mas Muhammad Maftuch, secara terbuka menyatakan dukungannya kepada Cak Imin sebagai calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Pernyataan tersebut disampaikan pada Senin, 27 April 2026, dan menandai munculnya satu poros kekuatan baru di tengah persaingan lima poros yang telah teridentifikasi.

Gus Maftuch menekankan bahwa pengalaman politik Cak Imin selama lebih dari 27 tahun di panggung nasional menjadi modal penting untuk memimpin organisasi keagamaan terbesar di Indonesia. “Gus Muhaimin merupakan figur politik yang telah melewati berbagai fase, dinamika, serta asam garam kekuasaan. Pengalaman itu membentuk kematangan yang dibutuhkan untuk mengelola PBNU,” ujarnya. Maftuch menambah bahwa Cak Imin telah mencapai puncak karier politiknya, sehingga saatnya beralih ke peran yang lebih reflektif dan substantif, bukan lagi sekadar elektoral.

Selain aspek profesional, Maftuch menyoroti ikatan genealogis Cak Imin dengan NU. Ia merupakan cicit KH Bisri Syansuri, salah satu ulama pendiri Nahdlatul Ulama. “Secara historis dan genealogis, Gus Muhaimin memiliki ikatan kuat dengan NU. Itu menjadi nilai tambah dalam konteks kepemimpinan keagamaan,” kata Maftuch. Pandangan ini memperkuat argumen bahwa perpindahan dari dunia politik ke kepemimpinan organisasi keagamaan bukanlah penurunan, melainkan bentuk pengabdian yang lebih luas bagi umat.

Dalam konteks persiapan Muktamar, Sekretaris Jenderal PBNU, Saifullah Yusuf, mengonfirmasi bahwa panitia kecil telah dibentuk untuk menangani teknis pelaksanaan. Persiapan kini berada pada tahap pematangan, menunggu finalisasi lokasi yang masih menjadi bahan diskusi internal. Keterlambatan pelaksanaan Muktamar menjadi isu sensitif, terutama setelah Forum Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) menuntut agar Muktamar dilaksanakan paling lambat awal Agustus 2026. PWNU mengancam akan melayangkan mosi tidak percaya bila jadwal tidak dipenuhi, menambah tekanan pada kepengurusan pusat.

Dinamikanya tidak hanya terbatas pada dukungan terhadap Cak Imin. Pengamat HRM. Khalilur mencatat bahwa kontestasi kepemimpinan NU melibatkan dua poros utama: Rais Aam dan Ketua Umum PBNU. Proses pemilihan Rais Aam melalui Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) menjadi arena strategis, dengan dua kubu utama—satu mendukung Miftachul Akhyar tetap menjabat, dan satunya lagi mengusung kembali Said Aqil Siradj. Kedua figur tersebut memiliki pengaruh signifikan dalam menentukan komposisi suara AHWA, yang pada gilirannya memengaruhi hasil pemilihan Ketua Umum.

Berikut rangkuman poin kunci dukungan Gus Maftuch terhadap Cak Imin:

  • Pengalaman politik lebih dari 27 tahun dianggap sebagai aset strategis.
  • Kedekatan genealogis dengan pendiri NU menambah legitimasi.
  • Seruan agar Cak Imin meninggalkan politik praktis dan fokus pada peran keagamaan.

Selain itu, beberapa faktor eksternal turut memengaruhi lanskap politik internal NU. Desakan PWNU, tekanan internal untuk menyelesaikan Muktamar tepat waktu, serta dinamika lima poros paslon yang meliputi poros petahana yang dipimpin Ketua Umum PBNU saat ini, Yahya Cholil Staquf, menambah kompleksitas proses pemilihan. Meskipun tidak ada istilah resmi pasangan calon dalam struktur NU, aliansi antara calon Rais Aam dan Ketua Umum sering kali terbentuk secara tidak resmi.

Para pengamat memperkirakan bahwa keputusan akhir Muktamar akan sangat dipengaruhi oleh tradisi musyawarah, penghormatan kepada kiai‑kiai senior, serta kemampuan masing‑masing poros untuk meraih dukungan di tingkat wilayah dan cabang. Jika Cak Imin berhasil mengamankan mayoritas suara, ia berpotensi menjadi figur penghubung antara dunia politik dan keagamaan, memperkuat posisi NU sebagai kekuatan sosial‑politik nasional.

Kesimpulannya, dukungan Gus Maftuch menambah dimensi baru dalam persaingan kepemimpinan PBNU. Pengalaman panjang, ikatan genealogis, serta seruan untuk meninggalkan politik praktis menjadi argumen utama yang diangkat. Dengan Muktamar ke-35 semakin dekat, dinamika internal NU terus memanas, menanti keputusan yang akan menentukan arah organisasi keagamaan terbesar di Indonesia selama lima tahun ke depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *