Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 27 April 2026 | Kelompok Yahudi anti-Zionis Neturei Karta kembali mencuri sorotan internasional setelah menggelar aksi demonstrasi di jalan‑jalan Jerusalem pada Kamis (23/4). Demonstran yang tergabung dalam jaringan internasional ini menurunkan spanduk berisi penolakan tegas terhadap Zionisme dan mengibarkan bendera Palestina, sekaligus melakukan pembakaran simbolik bendera Israel sebagai bentuk protes.
Aksi tersebut berlangsung sesaat setelah perayaan Hari Kemerdekaan Israel, menandai tradisi tahunan Neturei Karta yang menolak eksistensi negara Yahudi modern. Ribuan orang berbondong‑bondong di pusat kota, menyuarakan pesan‑pesan seperti “Yudaisme dan Zionisme bertentangan” dan “Anti‑Zionisme bukan anti‑Semitisme”. Para peserta mengklaim bahwa pendirian negara Israel sebelum kedatangan Mesias bertentangan dengan ajaran agama Yahudi, sehingga identitas keagamaan tidak boleh diwujudkan dalam bentuk negara berdaulat.
Dalam rekaman video yang beredar di media sosial, terlihat sekelompok demonstran mengangkat obor dan membakar bendera Israel di depan Gedung Knesset. Tindakan tersebut memicu reaksi beragam, mulai dari kecaman keras oleh pejabat Israel hingga dukungan dari kalangan aktivis pro‑Palestina yang menilai aksi itu sebagai simbol perlawanan terhadap pendudukan.
Neturei Karta menegaskan bahwa aksi pembakaran bendera bukanlah tindakan kekerasan terhadap warga, melainkan simbolik dan damai. Mereka menolak tuduhan anti‑Semitisme, menekankan perbedaan antara menentang ideologi Zionisme dengan menyerang orang‑orang Yahudi. “Kami menolak Zionisme karena itu menyalahi ajaran agama kami, bukan karena kebencian terhadap orang Yahudi,” ujar seorang juru bicara kelompok itu dalam sebuah pernyataan resmi.
Kelompok ini juga menyerukan pembubaran negara Israel secara damai, mengajak komunitas internasional untuk mendukung proses dialog yang mengutamakan keadilan bagi rakyat Palestina. Mereka mengklaim bahwa keberadaan negara Israel menghalangi tercapainya perdamaian yang berkelanjutan di Timur Tengah, dan bahwa solusi dua‑negara tidak lagi relevan bila fondasi negara tersebut dianggap tidak sah secara teologis.
Reaksi pemerintah Israel tidak terkesan. Menteri Luar Negeri menegaskan bahwa pembakaran bendera negara merupakan pelanggaran hukum yang akan ditindak secara tegas. “Kami tidak akan mentolerir tindakan yang menodai simbol negara kami, apapun latar belakang pelakunya,” tegasnya dalam konferensi pers di Tel Aviv. Sementara itu, perwakilan Palestina menyambut aksi Neturei Karta sebagai bentuk solidaritas internasional yang menyoroti penderitaan rakyat Palestina.
Analisis pakar hubungan internasional menilai bahwa aksi ini mencerminkan meningkatnya fragmentasi dalam komunitas Yahudi global. “Kelompok anti‑Zionis seperti Neturei Karta memang minoritas, namun mereka mampu menarik perhatian media karena aksi mereka yang provokatif,” kata Dr. Ahmad Zain, dosen ilmu politik di Universitas Indonesia. “Hal ini menambah kompleksitas dinamika politik Timur Tengah, terutama di tengah upaya diplomatik yang berulang kali gagal menghasilkan solusi yang memuaskan semua pihak.”
Di sisi lain, aktivis hak asasi manusia menyoroti pentingnya kebebasan berekspresi dalam konteks protes politik, meski aksi tersebut dapat menyinggung sensitifitas nasional. “Demonstrasi damai, termasuk simbolis seperti pembakaran bendera, berada dalam kerangka kebebasan berbicara, asalkan tidak berujung pada kekerasan fisik,” ujar Lina Suryani, peneliti kebijakan publik.
Secara keseluruhan, aksi Neturei Karta di Jerusalem menandai momen penting dalam perdebatan tentang legitimasi negara Israel dan peran agama dalam politik modern. Dengan menyalakan api pada simbol negara, kelompok ini berhasil menegaskan kembali posisi anti‑Zionis mereka, sekaligus menimbulkan perdebatan sengit di tingkat internasional tentang batas antara protes damai dan provokasi.
Ke depan, dinamika ini diperkirakan akan terus mempengaruhi hubungan Israel‑Palestina serta kebijakan luar negeri negara‑negara yang terlibat dalam mediasi konflik. Pemerintah Israel dihadapkan pada tantangan menjaga keamanan dalam negeri tanpa mengekang kebebasan berpendapat, sementara kelompok anti‑Zionis berupaya memperluas jaringan dukungan mereka di dunia internasional.
Dengan latar belakang sejarah yang rumit dan ketegangan yang masih berlangsung, aksi pembakaran bendera Israel oleh Neturei Karta menjadi simbol kuat bahwa konflik identitas, keagamaan, dan politik masih jauh dari penyelesaian.











