Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 26 April 2026 | Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan publik setelah dua rangkaian acara penting pada tanggal 25 April 2026. Ketua Umum Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi), Dodi Izwardi, menegaskan bahwa MBG merupakan upaya murni untuk meningkatkan kesehatan masyarakat, khususnya dalam mengatasi “silent emergency” akibat stunting. Ia menambahkan bahwa program ini tidak dipolitisasi dan tidak menjadi instrumen kepentingan politik siapapun, termasuk Prabowo Subianto.
Dalam dialog berjudul “Dari Pangan Bergizi Menuju Kecerdasan Bangsa” pada APPMBGI National Summit 2026, Dodi menguraikan data medis yang menegaskan hubungan antara stunting dengan risiko penyakit kronis. Menurutnya, anak yang mengalami stunting memiliki peluang 1,7 kali lebih tinggi terkena penyakit jantung koroner, 1,4 kali lebih tinggi risiko hipertensi, 2,1 kali lebih tinggi osteoporosis, 1,8 kali diabetes tipe 2, serta 1,6 kali gangguan kesehatan mental. Data ini menunjukkan bahwa dampak stunting bersifat lintas generasi dan dapat menggerogoti produktivitas bangsa.
- Risiko penyakit jantung koroner: 1,7 ×
- Risiko hipertensi: 1,4 ×
- Risiko osteoporosis: 2,1 ×
- Risiko diabetes tipe 2: 1,8 ×
- Risiko gangguan mental: 1,6 ×
Untuk menanggulangi hal tersebut, MBG mengandalkan jaringan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di seluruh provinsi. Persagi, dengan lebih dari 58.000 anggota ahli gizi, berkomitmen menyertifikasi tenaga pengawas gizi di dapur-dapur MBG, memastikan standar keamanan pangan serta keberlanjutan konsumsi bergizi.
Di sisi lain, program MBG juga menjadi motor penggerak ekonomi lokal. Sebuah laporan dari Liputan6.com menyoroti kisah Suranto, mantan pekerja tekstil berusia 50 tahun di Karanganyar, Jawa Tengah, yang kehilangan pekerjaan akibat PHK massal. Setelah lima bulan menganggur, Suranto menemukan kembali mata pencaharian melalui posisi kebersihan di dapur MBG setempat. Gaji yang diterima kini cukup menutupi cicilan bank sebesar Rp 1,3 juta per bulan, sekaligus memberi rasa aman bagi keluarganya.
Suranto mengaku, “Saya tidak menyangka akan kembali bekerja di usia 50 tahun, namun dapur MBG memberi saya kesempatan baru dan penghasilan yang stabil.” Cerita serupa dilaporkan di lebih dari 10.000 lokasi MBG di seluruh Indonesia, menandakan program ini tidak hanya menyasar perbaikan gizi, tetapi juga penciptaan lapangan kerja bagi tenaga kerja yang terdampak restrukturisasi industri.
Pihak pemerintah menegaskan bahwa MBG dijalankan secara independen dari agenda politik partai manapun. Dalam pernyataan resmi, Kementerian Kesehatan menolak spekulasi bahwa program ini dimanfaatkan oleh tokoh politik tertentu untuk memperkuat basis dukungan. Menurut pejabat Kemenkes, semua alokasi anggaran MBG bersumber dari dana publik yang diawasi oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Laporan (BPK), dengan audit rutin untuk memastikan tidak ada penyalahgunaan.
Meski demikian, beberapa kritikus masih menyoroti potensi penggunaan MBG sebagai alat kampanye. Dodi menanggapi hal tersebut dengan tegas, “Program ini adalah milik seluruh rakyat, bukan milik satu pihak politik. Kami mengundang semua pihak, termasuk partai politik, untuk mendukung tanpa mengklaimnya sebagai pencapaian pribadi.” Pernyataan ini menegaskan kembali posisi netral MBG dalam kancah politik nasional.
Secara keseluruhan, MBG berpotensi menurunkan angka stunting secara signifikan sekaligus menstimulasi pertumbuhan ekonomi melalui penciptaan pekerjaan. Jika implementasi tetap konsisten, target Indonesia Emas 2045—yaitu menurunkan prevalensi stunting di bawah 10 % dan meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia—dapat tercapai.
Program MBG menunjukkan contoh kolaborasi antara pemerintah, organisasi profesional, dan sektor swasta dalam menyelesaikan permasalahan gizi serta pengangguran. Keberhasilan jangka panjangnya akan sangat bergantung pada transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi aktif seluruh komponen bangsa.











