Internasional

Warga Lebanon Berani Menyeberang Sungai Litani Saat Gencatan Senjata, Jembatan Hancur di Zona Garis Kuning

×

Warga Lebanon Berani Menyeberang Sungai Litani Saat Gencatan Senjata, Jembatan Hancur di Zona Garis Kuning

Share this article
Warga Lebanon Berani Menyeberang Sungai Litani Saat Gencatan Senjata, Jembatan Hancur di Zona Garis Kuning
Warga Lebanon Berani Menyeberang Sungai Litani Saat Gencatan Senjata, Jembatan Hancur di Zona Garis Kuning

Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 20 April 2026 | Setelah gencatan senjata sepuluh hari antara Israel dan Lebanon resmi berlaku pada 16 April 2026, penduduk di perbatasan selatan Lebanon mulai kembali ke rumah‑rumah yang lama ditinggalkan. Namun, upaya kembali tersebut tidak berjalan mulus. Pada Sabtu (18/4), pasukan Israel memperkenalkan zona penyangga yang disebut “Garis Kuning” di sepanjang Sungai Litani, menandai batas baru yang harus dijaga ketat oleh militer Israel.

Garis Kuning ini diposisikan sebagai area di mana setiap pergerakan dianggap potensial mengancam keamanan pasukan Israel. Dalam pernyataan resmi, militer Israel menyebutkan bahwa dalam 24 jam terakhir mereka telah mengidentifikasi kelompok bersenjata yang mendekati zona tersebut dari utara, lalu menembakkan artileri serta serangan udara sebagai tindakan defensif. Pihak Israel menegaskan bahwa tindakan ini tidak terikat oleh gencatan senjata karena dianggap sebagai respons terhadap ancaman langsung.

Sementara itu, warga Lebanon yang telah menunggu lebih dari satu dekade untuk kembali ke kampung halaman mereka menolak untuk terdiam. Pada Minggu (19/4), sekelompok warga berani menyeberangi Sungai Litani dengan perahu sederhana, meski mengetahui risiko tembakan dari posisi Israel. Salah satu mereka, Ahmad Nabil, mengaku, “Kami tak bisa lagi menunggu. Rumah kami hancur, tanah kami menunggu. Jika kami tidak melangkah kini, kapan lagi?”

  • Lokasi penyeberangan: daerah dekat desa Beit Leif.
  • Jumlah penyeberang: diperkirakan 30 orang, termasuk anak-anak dan lansia.
  • Respons Israel: menembakkan peluru ke arah perahu, mengakibatkan kerusakan pada jembatan kayu yang menjadi satu‑satunya jalur melintasi sungai.

Serangan bom Israel yang menghancurkan jembatan menimbulkan kekhawatiran baru. Jembatan kayu itu selama bertahun‑tahun menjadi satu‑satunya akses bagi warga desa-desa di wilayah perbatasan untuk mengangkut hasil pertanian dan bahan kebutuhan pokok. Dengan hancurnya jembatan, rute alternatif harus menempuh jarak lebih jauh, menambah beban ekonomi bagi komunitas yang sudah terpuruk.

Reaksi dari pihak Hizbullah tidak lama berselang. Sekretaris Jenderal Naim Qassem menegaskan bahwa gencatan senjata tidak dapat dipertahankan bila hanya satu pihak yang patuh. “Tidak ada gencatan senjata hanya dari pihak perlawanan, itu harus dari kedua belah pihak,” katanya dalam sebuah pernyataan yang disiarkan lewat televisi nasional Lebanon. Qassem menambahkan bahwa Hizbullah siap bekerja sama dengan pemerintah Lebanon untuk mengembalikan penduduk ke wilayah perbatasan setelah Israel menarik pasukannya sepenuhnya.

Sejumlah analis internasional menilai langkah Israel memasang Garis Kuning di Lebanon selatan sebagai upaya memperluas taktik yang sebelumnya dipakai di Gaza. Pada Oktober 2025, Israel menerapkan zona serupa di wilayah Palestina, memisahkan area kontrol militer dari zona sipil dengan pembatasan pergerakan ketat. Di Gaza, kebijakan ini berujung pada penembakan terhadap siapa pun yang mendekati batas, serta penghancuran ratusan rumah.

Data yang dihimpun oleh Al Jazeera menunjukkan bahwa sejak gencatan senjata 10 hari yang lalu, setidaknya 773 orang tewas dan lebih dari 2.000 luka-luka tercatat di kedua belah pihak. Lebih dari 10.000 pelanggaran gencatan senjata oleh Israel sejak November 2024 juga tercatat oleh PBB, menambah beban diplomatik bagi pihak Israel di panggung internasional.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sebelumnya menyatakan bahwa pertemuan antara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Lebanon Joseph Aoun dapat diatur dalam satu atau dua minggu ke depan di Washington, dengan harapan menemukan solusi politik yang mengakhiri konflik berskala kecil namun berkelanjutan ini.

Di tengah ketegangan, komunitas internasional, terutama negara‑negara Arab, menawarkan bantuan rekonstruksi dan bantuan kemanusiaan. Hizbullah mengklaim terbuka bekerja sama dengan pemerintah Lebanon dalam program rekonstruksi besar‑besar, dengan dukungan keuangan dari donor regional.

Secara keseluruhan, meskipun gencatan senjata secara teknis masih berlaku, penerapan Garis Kuning oleh Israel dan aksi agresif di sekitar Sungai Litani menimbulkan pertanyaan serius mengenai keberlanjutan perdamaian di perbatasan. Warga Lebanon yang berani menyeberang menegaskan tekad mereka untuk kembali ke tanah kelahiran, sementara Israel tetap menegaskan haknya atas zona keamanan yang baru dibentuk. Situasi ini menuntut dialog yang lebih intensif serta pengawasan independen untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *