Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 13 Juni 2026 | Situasi politik dan ekonomi di Eropa saat ini sangat kompleks, terutama terkait dengan ketergantungan energi pada Rusia. Setelah invasi Ukraina, Uni Eropa berupaya mengurangi ketergantungannya pada energi Rusia melalui berbagai paket sanksi dan diversifikasi pasokan. Namun, meski impor energi Rusia telah turun drastis dibandingkan sebelum perang, aliran uang dari Eropa ke Moskow belum sepenuhnya berhenti.
Komisi Eropa telah berulang kali menegaskan perlunya Uni Eropa mencapai kemandirian penuh dari bahan bakar fosil Rusia dan secara bertahap menghentikan impor gas, minyak, serta LNG dari Rusia. Namun, perdebatan publik mengenai isu ini menunjukkan adanya tanda-tanda pelemahan terhadap konsistensi kebijakan tersebut. Perdana Menteri Hongaria, Péter Magyar, menyatakan bahwa meskipun Budapest berupaya mendiversifikasi sumber energi, Hongaria belum mampu sepenuhnya menghentikan impor energi dari Rusia.
Anggota Parlemen Eropa dari Polandia, Piotr Müller, menilai pernyataan Magyar dapat mengancam konsistensi kebijakan energi Uni Eropa. Müller menyoroti bahwa Komisi Eropa selama ini secara konsisten mendorong negara-negara anggota Uni Eropa untuk mengurangi hingga menghentikan ketergantungan pada bahan bakar fosil Rusia. Ia juga meminta Komisi Eropa untuk meminta penjelasan resmi dari pemerintah Hongaria mengenai rencana mereka menghapus sumber daya energi Rusia dari bauran energi nasional.
Di Jerman, partai oposisi sayap kanan, Alternatif untuk Jerman (AfD), menyerukan agar Ukraina memberikan kompensasi kepada Jerman atas kerusakan pipa gas Nord Stream yang terjadi pada 2022. Ketua umum AfD, Alice Weidel, menilai Ukraina perlu menjelaskan dugaan keterlibatannya dalam insiden yang menyebabkan terganggunya pasokan energi ke Eropa tersebut. Weidel menegaskan, kemakmuran ekonomi Jerman selama puluhan tahun ditopang oleh pasokan minyak dan gas dari Rusia.
Menurut Weidel, model tersebut sengaja dihancurkan oleh kebijakan pemerintah Jerman saat ini yang mengadopsi sikap konfrontatif terhadap Moskow. Politikus AfD itu juga menyatakan partainya akan mengupayakan perbaikan hubungan dengan Rusia apabila berhasil memenangkan pemilu federal mendatang. AfD akan segera membuka jalur perundingan langsung dengan Moskow dan mendorong dimulainya kembali dialog antara Rusia dan Ukraina.
Dalam beberapa tahun terakhir, angka ketergantungan Eropa pada energi Rusia telah turun tajam seiring meningkatnya impor LNG dari Amerika Serikat, Norwegia, Qatar, dan negara pemasok lainnya. Meski demikian, sejumlah negara Eropa masih membeli gas, minyak, maupun gas alam cair (LNG) Rusia. Jalur pipa TurkStream yang melintasi Turki tetap menjadi salah satu saluran penting bagi ekspor gas Rusia ke Eropa Tenggara, termasuk Hongaria dan Slovakia.
Perang di Ukraina telah menyebabkan krisis energi di Eropa, dan negara-negara Eropa berusaha untuk mengurangi ketergantungan mereka pada energi Rusia. Namun, proses ini tidaklah mudah dan memerlukan waktu, sumber daya, dan kerja sama internasional yang kuat. Pada akhirnya, Eropa harus mencari jalan untuk mengimbangi kebutuhan energinya dengan keinginan untuk mengurangi ketergantungan pada Rusia, sambil tetap menjaga stabilitas dan keamanan energi di wilayah tersebut.











