Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 24 April 2026 | Paris menjadi tuan rumah pertemuan luar biasa yang melibatkan sekitar lima puluh negara serta organisasi internasional pada akhir pekan ini. Agenda utama adalah menanggapi krisis blokade Selat Hormuz, jalur strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia dan menjadi nadi perdagangan minyak dunia. Delegasi datang dari berbagai belahan dunia, termasuk Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Spanyol, Kanada, Australia, Jepang, Korea Selatan, serta perwakilan Uni Eropa, NATO, PBB, dan Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD).
Rapat yang berlangsung selama dua hari ini di Gedung Konferensi Internasional di Champs-Élysées menitikberatkan pada pembuatan rencana militer terkoordinasi untuk membuka kembali selat yang kini tertutup akibat serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap fasilitas militer Iran. Menurut pernyataan resmi Menteri Pertahanan Inggris, John Healey, pertemuan ini “menjadi batu loncatan penting untuk menerjemahkan konsensus diplomatik menjadi aksi konkret yang melindungi kebebasan navigasi”.
Sejumlah perwakilan militer menyoroti tantangan teknis dan logistik yang harus dihadapi. Mereka menekankan kebutuhan akan sistem komando dan kendali (C2) yang terpadu, serta kemampuan penempatan pasukan cepat di zona konflik. Sebuah komite khusus dibentuk untuk merumuskan protokol evakuasi kapal, penyebaran kapal peronda, serta operasi dekonsentrasi penambang ranjau laut.
Di samping diskusi militer, delegasi juga menelaah dampak ekonomi global. Blokade Selat Hormuz telah memicu lonjakan harga bahan bakar di banyak negara, memperparah inflasi dan menurunkan pertumbuhan ekonomi. Para ekonom dari IMF dan Bank Dunia memperingatkan bahwa jika selat tetap tertutup lebih dari dua minggu, nilai tukar mata uang negara importir minyak dapat tertekan signifikan.
Berbagai negara anggota menekankan pentingnya pendekatan multinasional yang tidak menyinggung Iran secara langsung, meski tetap menuntut penghentian tindakan militer yang mengganggu arus perdagangan. “Kami ingin memastikan bahwa solusi yang diambil bersifat inklusif dan tidak memperburuk ketegangan regional,” ujar juru bicara Uni Eropa, Maria van der Berg.
Berikut beberapa poin utama yang disepakati dalam pertemuan:
- Pembentukan Pasukan Respons Cepat gabungan (Joint Rapid Response Force) dengan komposisi yang mencakup kapal perang, pesawat patroli maritim, dan drone pengintai.
- Pengembangan jaringan intelijen bersama untuk memantau pergerakan kapal militer dan sipil di sekitar Selat Hormuz.
- Negosiasi kembali gencatan senjata antara AS dan Iran, dengan mediasi oleh PBB dan negara-negara netral.
- Penerapan sanksi terkoordinasi terhadap entitas yang mendukung blokade, sambil membuka jalur bantuan kemanusiaan bagi negara-negara yang terdampak.
Selain itu, pertemuan ini menyoroti peran penting organisasi non‑pemerintah, seperti International Maritime Organization (IMO) dan International Crisis Group, dalam menyediakan data navigasi dan analisis risiko. Mereka berjanji untuk menyediakan peta zona aman serta panduan prosedur evakuasi bagi kapal dagang.
Dalam penutupannya, John Healey menegaskan harapan bahwa dalam dua hari ke depan akan tercapai “kemajuan nyata” yang dapat diimplementasikan segera. Sementara itu, perwakilan Amerika Serikat, yang tidak hadir secara langsung namun diwakili oleh penasihat senior, menyatakan kesediaannya untuk berkoordinasi dengan sekutu-sekutu dalam rangka menjaga stabilitas regional.
Jika rencana yang disepakati dapat dijalankan dengan efektif, diharapkan Selat Hormuz dapat kembali beroperasi dalam minggu-minggu mendatang, mengurangi tekanan pada pasar energi global dan mengembalikan kepercayaan investor. Namun, keberhasilan inisiatif ini sangat bergantung pada kemampuan semua pihak untuk menahan provokasi militer dan menegosiasikan solusi damai.
Dengan Paris sebagai panggung diplomasi, pertemuan ini menandai langkah signifikan dalam upaya internasional untuk mengatasi blokade Selat Hormuz, sekaligus memperkuat kerjasama keamanan maritim di tengah ketegangan geopolitik yang terus memanas.











