Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 06 Agustus 2026 | Pemerintah Spanyol mendesak Maroko untuk menginvestigasi penyebab krisis migrasi di Ceuta. Menteri Pertahanan Spanyol, Margarita Robles, meminta pihak yang bertanggung jawab dikenai konsekuensi. Spanyol mempertahankan dukungan militer bagi Guardia Civil di Ceuta dan Melilla.
Puluhan ribu imigran ilegal menyerbu wilayah Ceuta dari Maroko, menyebabkan krisis kemanusiaan dan kekhawatiran di Uni Eropa. Pemerintah Spanyol memproses pemulangan migran, sementara jumlah korban tewas penyeberangan meningkat menjadi 67 orang.
Spekulasi keterlibatan operasi diplomatis Israel semakin menguat setelah publik kembali menyoroti analisis lampau dari surat kabar Israel, YNet, mengenai masa depan diplomasi kawasan Selat Gibraltar.
Pemerintah Spanyol memasang pagar penghalang sepanjang 500 meter di perbatasan laut antara wilayah Ceuta di Afrika Utara dan Maroko. Pagar dipasang di kawasan pemecah gelombang Tarajal, salah satu titik utama yang digunakan ribuan migran untuk memasuki Ceuta dengan berenang dari pesisir Maroko.
Pemerintah Spanyol mengerahkan militer ke Ceuta setelah ribuan migran dari Maroko mencoba masuk melalui laut dan darat. Sebagian besar migran yang memasuki Ceuta telah kembali secara sukarela ke Maroko.
Kondisi di wilayah otonom Ceuta masih belum normal kembali. Otoritas Ceuta memperkirakan masih ada imigran Maroko yang berada di sejumlah area dan sebagian berada di area pegunungan.
Krisis imigran Maroko ke Spanyol menimbulkan kekhawatiran keamanan lokal, penutupan toko lebih awal, kritik oposisi, dan perhatian negara-negara Uni Eropa.
Spanyol terus berkoordinasi dengan otoritas Maroko untuk mencegah penyeberangan lanjutan dari wilayah Fnideq. Pemerintah menegaskan bahwa seluruh migran yang masuk secara ilegal akan diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku, termasuk opsi deportasi.











