Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 19 Juli 2026 | Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memburuk setelah serangan udara AS menewaskan tujuh tentara Iran. Namun, di tengah ketegangan ini, Mohammad Bagher Ghalibaf, negosiator utama Iran, dan JD Vance, Wakil Presiden AS, telah menyatakan dukungan mereka untuk pendekatan diplomatik dalam menyelesaikan konflik.
Menurut Ghalibaf, Iran memiliki kebebasan penuh untuk bertindak membalas agresi musuh setelah serangan udara AS. Sementara itu, Vance menekankan pentingnya kekuatan militer untuk mendukung upaya diplomatik. Keduanya sepakat bahwa konflik ini harus diakhiri melalui jalur diplomasi.
Konflik AS-Iran telah berlangsung selama beberapa tahun dan telah menyebabkan ketegangan di kawasan Timur Tengah. Serangan udara AS terhadap target militer Iran telah memicu kemarahan Iran dan memperburuk hubungan antara kedua negara.
Di sisi lain, Pakistan telah menyatakan frustrasi atas serangan Houthi terhadap Arab Saudi, yang dapat menarik Pakistan ke dalam konflik. Pakistan telah menandatangani perjanjian pertahanan dengan Arab Saudi dan telah mengerahkan pasukan ke kerajaan tersebut.
Sementara itu, Iran telah mengundang Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, untuk mengunjungi Tehran. Mohammad Bagher Ghalibaf, yang juga menjabat sebagai Ketua Parlemen Iran, telah menyampaikan undangan tersebut kepada Muzani, Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Indonesia.
Konflik AS-Iran masih berlanjut dan belum ada tanda-tanda bahwa kedua negara akan segera mencapai kesepakatan. Namun, dukungan Ghalibaf dan Vance untuk diplomatik menunjukkan bahwa masih ada harapan untuk menyelesaikan konflik ini melalui jalur damai.
Kesimpulan, konflik AS-Iran masih memburuk, namun ada harapan untuk menyelesaikan konflik ini melalui jalur diplomatik. Dukungan Ghalibaf dan Vance untuk diplomatik menunjukkan bahwa masih ada kemungkinan untuk mencapai kesepakatan damai.











