Internasional

Iran Buka Selat Hormuz, Harga Minyak Merosot, AS Tetap Blokade: Dampak Global dan Langkah Selanjutnya

×

Iran Buka Selat Hormuz, Harga Minyak Merosot, AS Tetap Blokade: Dampak Global dan Langkah Selanjutnya

Share this article
Iran Buka Selat Hormuz, Harga Minyak Merosot, AS Tetap Blokade: Dampak Global dan Langkah Selanjutnya
Iran Buka Selat Hormuz, Harga Minyak Merosot, AS Tetap Blokade: Dampak Global dan Langkah Selanjutnya

Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 18 April 2026 | Iran mengumumkan pada 17 April 2026 bahwa Selat Hormuz telah dibuka sepenuhnya untuk lalu lintas kapal komersial, sejalan dengan gencatan senjata 10 hari antara Lebanon dan Israel yang dimulai pada dini hari 17 April. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa rute pelayaran telah dikoordinasikan oleh Organisasi Pelabuhan dan Maritim Republik Islam Iran, sehingga kapal dapat melintasi selat melalui jalur yang ditetapkan selama masa gencatan berlangsung.

Pengumuman tersebut mendapat respons cepat dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang mengucapkan terima kasih kepada Iran melalui unggahan di platform media sosialnya. Meskipun menyambut terbukanya Selat Hormuz, Trump menegaskan bahwa blokade maritim AS terhadap pelabuhan Iran akan tetap berlaku secara penuh hingga tercapai kesepakatan damai yang ia sebut sebagai “transaksi” selesai 100 persen.

Blokade yang dimaksud mencakup larangan akses kapal-kapal Iran ke pelabuhan-pelabuhan utama, sebuah kebijakan yang, menurut pernyataan Trump, tidak akan berkurang sebelum semua poin negosiasi selesai. Kebijakan ini dipertahankan meskipun jalur selat telah dibuka, menimbulkan ketegangan tambahan antara kedua negara.

Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa, Antonio Guterres, menyambut baik langkah Iran dan menilai pembukaan Selat Hormuz sebagai “langkah ke arah yang benar”. Ia menekankan pentingnya pemulihan penuh hak navigasi internasional dan berharap bahwa gencatan senjata dapat memperkuat kepercayaan antar pihak serta mendukung dialog yang difasilitasi oleh Pakistan.

Pasar energi global merespons dengan penurunan tajam. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun hampir 12% dan ditutup pada US$83,85 per barel, sementara indeks Brent melemah 9% menjadi US$90,38 per barel. Penurunan ini mencerminkan ekspektasi pasar bahwa gangguan pasokan minyak akibat konflik di kawasan Timur Tengah akan berkurang seiring berjalannya jalur pelayaran.

Selain minyak, harga gas alam di Eropa juga mengalami penurunan sekitar 6,4%, mencapai €39 per megawatt hour. Kedua komoditas tersebut menunjukkan sensitivitas tinggi terhadap perkembangan geopolitik di Selat Hormuz, yang selama ini menjadi jalur utama bagi lebih dari 20% perdagangan minyak dunia.

Selat Hormuz sebelumnya menyaksikan penurunan tajam dalam arus kapal; sebelum konflik, lebih dari 130 kapal melintasi selat setiap hari. Selama ketegangan, sekitar 800 kapal terpaksa menunggu, termasuk sekitar 300 tanker minyak dan gas. Meski kini jalur dibuka, operator pelayaran masih bersikap hati-hati. Ketua International Chamber of Shipping, Thomas A. Kazakos, menyatakan bahwa pembukaan kembali merupakan perkembangan positif, namun implementasinya memerlukan kepastian keamanan dan koordinasi internasional.

Di Indonesia, dua kapal tanker milik Pertamina, Pride dan Gamsunoro, yang sebelumnya terjebak di kawasan tersebut, kini menjadi fokus koordinasi antara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan otoritas maritim Iran. Juru bicara ESDM, Dwi Anggia, menyampaikan bahwa pemerintah terus melakukan negosiasi agar kedua kapal dapat melintas secepatnya, mempercepat pemulihan pasokan energi nasional.

  • Iran membuka Selat Hormuz secara penuh pada 17 April 2026.
  • AS tetap memberlakukan blokade pelabuhan Iran hingga kesepakatan damai tercapai.
  • Harga minyak WTI turun 12%, Brent turun 9% setelah pengumuman.
  • Gas alam Eropa turun 6,4%.
  • Pertamina berusaha mengevakuasi dua tanker yang terjebak.

Ke depan, stabilitas jalur pelayaran akan sangat dipengaruhi oleh kelanjutan gencatan senjata di Lebanon‑Israel serta dinamika negosiasi antara AS dan Iran. Jika blokade tetap berlaku, kapal-kapal komersial mungkin masih menghadapi pembatasan di pelabuhan Iran, meskipun jalur selat terbuka. Pengamat menilai bahwa pemulihan penuh lalu lintas pelayaran memerlukan komitmen bersama dari pihak regional dan internasional, termasuk mekanisme keamanan laut yang transparan.

Secara keseluruhan, pembukaan Selat Hormuz memberikan harapan bagi pasar energi global, namun keberlanjutan manfaatnya masih tergantung pada penyelesaian politik yang lebih luas. Blokade AS, respons Iran, serta upaya diplomatik multinasional akan menjadi faktor penentu apakah jalur strategis ini dapat kembali beroperasi secara normal dan berkelanjutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *