Internasional

Ancaman Baru AS ke Iran: Tehran Siap Gempur Lagi Jika Negosiasi Gagal

×

Ancaman Baru AS ke Iran: Tehran Siap Gempur Lagi Jika Negosiasi Gagal

Share this article
Ancaman Baru AS ke Iran: Tehran Siap Gempur Lagi Jika Negosiasi Gagal
Ancaman Baru AS ke Iran: Tehran Siap Gempur Lagi Jika Negosiasi Gagal

Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 20 April 2026 | Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan pada siaran televisi nasional bahwa Tehran tetap membuka pintu diplomasi dengan Amerika Serikat, namun tidak menutup kemungkinan untuk meluncurkan operasi militer total bila proses negosiasi berakhir tanpa kesepakatan. Pernyataan itu disampaikan setelah serangkaian insiden militer yang melibatkan ratusan drone dan beberapa pesawat tempur Amerika serta Israel sejak akhir Februari lalu.

Ghalibaf menyatakan, “Kami tidak mempercayai janji-janji Washington yang sering berubah‑ubah. Jika Amerika Serikat meningkatkan eskalasi, kami siap menanggapi dengan kekuatan penuh.” Ia menambahkan bahwa Iran telah berhasil menembus dan menghancurkan antara 170 hingga 180 drone musuh, serta menurunkan beberapa jet tempur canggih dalam operasi yang disebutnya sebagai bukti nyata dari apa yang disebutnya “Diplomasi Kekuatan”.

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dalam konferensi pers di Gedung Putih pada 6 April 2026, mengancam akan memperpanjang blokade laut di Selat Hormuz sampai Tehran menurunkan semua tuntutan yang dianggapnya “maksimalis”. Trump menegaskan, “Kami tidak akan mundur sebelum Iran menghentikan semua tindakan agresifnya dan membuka kembali jalur pelayaran tanpa syarat.”

Sementara itu, proses perundingan damai yang difasilitasi oleh Pakistan di Islamabad masih berada pada fase yang penuh ketegangan. Ghalibaf, yang sekaligus menjabat sebagai kepala negosiator Iran, mengakui bahwa beberapa poin penting telah disepakati, namun isu-isu utama seperti program nuklir Iran dan kontrol atas Selat Hormuz masih jauh dari kata selesai.

  • Isu nuklir: Tehran menolak setiap pembatasan yang mengancam haknya untuk pengembangan energi damai.
  • Selat Hormuz: Iran menutup kembali selat tersebut setelah Amerika melanjutkan blokade laut, menilai tindakan Washington sebagai pelanggaran gencatan senjata.
  • Hezbollah: Tehran menuntut agar kelompok tersebut dimasukkan dalam setiap perjanjian gencatan senjata di masa depan.

Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh, yang menolak penetapan jadwal baru untuk putaran perundingan hingga Washington mengurangi tekanan militer. Ia menambah, “Kami siap bernegosiasi, namun tidak akan menyerah pada tuntutan yang bersifat memaksa.”

Analisis militer menunjukkan bahwa meski Amerika Serikat memiliki keunggulan kuantitatif dalam hal persenjataan, Iran berhasil memanfaatkan taktik asimetris dan sistem pertahanan udara yang terintegrasi untuk menurunkan efektivitas serangan udara musuh. Data resmi yang dirilis oleh Kementerian Pertahanan Iran mencatat penurunan signifikan pada jumlah drone yang berhasil menembus zona pertahanan selama serangan berskala besar.

Pengamat politik menilai bahwa posisi Iran yang menyeimbangkan antara diplomasi dan kesiapan militer mencerminkan strategi jangka panjang untuk memperkuat posisi tawar di meja perundingan. “Iran tidak ingin terjebak dalam pertempuran berkepanjangan, namun ia juga tidak mau menunjukkan kelemahan di hadapan sekutu‑sekutu barat,” ujar seorang pakar hubungan internasional yang meminta anonim.

Dengan gencatan senjata bersyarat yang dijadwalkan berakhir pada 22 April 2026, ketegangan di wilayah Teluk menajam kembali. Kedua belah pihak saling menuduh melanggar kesepakatan, sementara rakyat Iran dan Amerika menunggu keputusan akhir yang dapat menentukan arah konflik di masa depan.

Kesimpulannya, ancaman baru AS ke Iran tidak hanya berupa tekanan militer, melainkan juga diplomasi yang menuntut kompromi pada isu-isu sensitif. Tehran, melalui Ghalibaf, menegaskan kesiapan untuk kembali ke medan perang bila diperlukan, sambil tetap membuka jalur dialog sebagai upaya terakhir menghindari konflik yang lebih meluas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *