Internasional

29 Serangan Kapal Sipil di Selat Hormuz: IMO Ungkap Krisis Energi Global yang Mengancam Dunia

×

29 Serangan Kapal Sipil di Selat Hormuz: IMO Ungkap Krisis Energi Global yang Mengancam Dunia

Share this article

Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 01 Mei 2026 | International Maritime Organization (IMO) baru-baru ini merilis laporan yang mencatat total 29 serangan kapal sipil di wilayah Selat Hormuz sejak konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran meletus pada akhir Februari 2026. Insiden tersebut menimbulkan kekhawatiran serius bagi keamanan maritim global, terutama mengingat bahwa sekitar satu per lima pasokan minyak dunia melintasi selat sempit ini setiap harinya.

Perang yang dimulai pada 28 Februari 2026 menyebabkan Amerika Serikat memberlakukan blokade di pelabuhan-pelabuhan Iran, sementara Tehran sempat mencabut dan kemudian kembali menerapkan pembatasan ketat terhadap kapal yang melintasi selat. Kondisi geopolitik yang tegang memaksa operator kapal tanker mencari jalur alternatif, namun data pelacakan dari LSEG dan Kpler menunjukkan bahwa pergerakan kapal di Selat Hormuz tetap berlangsung dengan risiko tinggi.

Berikut beberapa contoh kapal tanker yang berhasil melintasi selat meski berada dalam zona konflik:

  • Idemitsu Maru (bendera Panama) – Mengangkut dua juta barel minyak dari Arab Saudi, melintasi selat pada 28 April 2026 menuju Nagoya, Jepang. Ini merupakan tanker pertama berafiliasi Jepang yang menembus selat sejak perang dimulai.
  • Crave (bendera Panama) – Membawa muatan liquefied petroleum gas (LPG) dari Uni Emirat Arab, dalam perjalanan menuju Indonesia.
  • Akti A – Mengangkut diesel dari Bahrain ke pelabuhan di Mozambik.
  • Navig8 Macallister (bendera Liberia) – Mengangkut sekitar 500.000 barel nafta dari Uni Emirat Arab menuju Ulsan, Korea Selatan.
  • Odessa (bendera Malta) – Melintasi selat pada 13 April; lokasi pemuatan minyak tidak diungkapkan.
  • Fpmc C Lord (VLCC, bendera Liberia) – Membawa dua juta barel minyak mentah dari Arab Saudi ke Pelabuhan Mailiao di Taiwan.

Meski data menunjukkan keberlanjutan arus tanker, para analis menilai bahwa setiap pelayaran kini dihadapkan pada ancaman serangan, baik dari misil, drone, maupun pengeboman oleh pihak yang tidak teridentifikasi. Risiko tersebut tidak hanya mengancam keselamatan awak kapal, tetapi juga menimbulkan potensi gangguan pasokan energi yang dapat memicu lonjakan harga minyak dunia.

Respons internasional pun mulai menguat. Amerika Serikat mengumumkan pembentukan koalisi baru yang melibatkan sekutu-sekutunya untuk mengamankan jalur pelayaran, sekaligus menawarkan dukungan logistik kepada kapal-kapal yang bersedia melintasi Selat Hormuz. Di sisi lain, negara-negara produsen minyak lain, termasuk Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, menyerukan dialog diplomatik untuk menurunkan ketegangan.

Selain dampak langsung pada sektor transportasi laut, serangan tersebut memperparah ketidakpastian pasar energi. Menurut data Bloomberg, harga Brent naik 6 persen dalam seminggu pertama setelah laporan IMO dipublikasikan, menandakan kekhawatiran investor terhadap pasokan yang berpotensi terganggu.

Para pakar keamanan maritim menekankan pentingnya koordinasi antara otoritas pelayaran, angkatan laut, dan perusahaan asuransi. Mereka menyarankan penggunaan jalur alternatif yang lebih panjang, peningkatan patroli udara, serta pemasangan sistem deteksi dini pada kapal-kapal yang beroperasi di zona konflik.

Secara keseluruhan, 29 serangan kapal sipil yang tercatat oleh IMO menjadi indikator jelas bahwa Selat Hormuz berada di garis depan ketegangan geopolitik dan ekonomi global. Upaya diplomatik dan peningkatan kapasitas keamanan menjadi kunci untuk mencegah eskalasi lebih lanjut yang dapat mengguncang pasar energi dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *