Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 07 Juli 2026 | Kalender Jawa dan Hijriah memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat, terutama dalam menentukan hari-hari penting dan waktu ibadah. Pada tahun 2026, bulan Juli menjadi bulan yang penting karena mencakup dua bulan dalam kalender Jawa, yaitu akhir bulan Sura 1960 Jawa dan awal bulan Sapar 1960 Jawa.
Menurut kalender Hijriah Indonesia yang diterbitkan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia, hari Selasa 7 Juli 2026 bertepatan dengan 22 Muharram 1448 H. Sementara itu, dalam kalender Jawa, tanggal 7 Juli 2026 merupakan hari Selasa dengan weton Kliwon.
Kalender Jawa menggunakan perpaduan antara sistem lunar seperti kalender Hijriah dan warisan penanggalan Saka yang telah digunakan sejak lama. Selain mencantumkan tanggal Jawa dan Hijriah, kalender ini juga memuat pasaran yang menjadi dasar perhitungan weton.
Perpaduan antara sistem penanggalan Jawa, Masehi, dan Hijriah membuat kalender Jawa 2026 menjadi panduan penting bagi masyarakat yang masih memegang tradisi leluhur dalam merencanakan berbagai kegiatan. Dalam kalender Jawa, Juli 2026 mencakup dua bulan, yakni akhir bulan Sura 1960 Jawa dan awal bulan Sapar 1960 Jawa.
Transisi ini membawa makna tersendiri bagi masyarakat yang memahami warisan penanggalan tradisional Jawa secara mendalam. Mengacu pada Islamic Finder yang dikeluarkan oleh kemenag.go.id, kalender Jawa bulan Juli 2026 dimulai dari 15 Sura dan berakhir pada 15 Sapar 1960.
Memahami rincian weton, neptu, dan padanan Hijriah setiap tanggal akan sangat membantu dalam merencanakan acara penting sepanjang bulan. Dalam kalender Jawa, weton adalah kombinasi antara hari dalam sepekan dan hari pasaran Jawa seperti Legi, Pahing, Pon, Wage, atau Kliwon.
Kalender Jawa atau Pananggalan Jawa merupakan sistem penanggalan yang digunakan masyarakat Jawa untuk keperluan budaya, spiritual, dan ritual. Sistem kalender Jawa yang digunakan saat ini diresmikan oleh Sultan Agung dari Mataram pada tahun 1633 Masehi.
Sebelumnya, masyarakat Jawa menggunakan kalender Saka yang berasal dari tahun 78 Masehi dan menggunakan siklus lunisolar. Sultan Agung mempertahankan sistem penghitungan tahun kalender Saka, tetapi mengubahnya dengan menggunakan sistem pengukuran tahun lunar seperti kalender Islam.
Keunikan utama kalender ini terletak pada penggunaan beberapa siklus waktu yang saling tumpang tindih. Sistem asli Jawa mengelompokkan hari ke dalam siklus lima hari yang disebut pasaran. Nama pasaran berasal dari kata dasar “pasar”.
Secara historis, dan masih berlangsung hingga kini, masyarakat desa Jawa berkumpul di pasar lokal untuk bersosialisasi, berdagang, serta menjual hasil tani dan kerajinan rumah tangga. Sebagaimana dikutip dari Gateway of Java, Sultan Agung menginginkan sebuah sistem yang menghormati keyakinan Islam sekaligus menjunjung tradisi Jawa, mendorong masyarakat untuk hidup harmonis satu sama lain, dengan alam, dan alam semesta.
Sistem penanggalan ini kemudian menjadi pedoman dalam upacara keagamaan, pertanian, hingga perhitungan hari kelahiran dalam budaya Jawa. Berdasarkan laporan akademik dari jurnal.umsu.ac.id, kalender baru ini mempertahankan elemen-elemen tradisional seperti siklus neptu dan windu, sambil menyelaraskannya dengan sistem lunar Islam.
Kalender ini memperkenalkan nama-nama bulan Arab yang diadaptasi ke dalam istilah Jawa seperti Suro, Mulud, dan Rejeb. Adaptasi inilah yang menjadikan kalender Jawa berbeda dari kalender Hijriah murni maupun kalender Masehi.
Berikut daftar lengkap kalender Jawa bulan Juli 2026 yang memuat weton, pasaran, tanggal Jawa, padanan Hijriah, dan nilai neptu. Data ini disusun berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia dari Kementerian Agama Republik Indonesia.
Dalam kesimpulan, kalender Jawa dan Hijriah 2026 menjadi panduan penting bagi masyarakat yang masih memegang tradisi leluhur dalam merencanakan berbagai kegiatan. Dengan memahami rincian weton, neptu, dan padanan Hijriah setiap tanggal, masyarakat dapat merencanakan acara penting sepanjang bulan dengan lebih baik.











