Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 07 Mei 2026 | Seorang dokter muda berusia 37 tahun yang berpraktik di Palembang mengajukan laporan ke Polrestabes Palembang pada 6 Mei 2026 setelah mengetahui suaminya selama empat tahun menggelapkan identitas dan aset keluarga. Dokter tersebut, yang kami sebut PT, melaporkan suaminya dengan inisial AH karena mengaku telah menikah secara sah menggunakan KTP palsu serta menyalurkan harta senilai lebih dari satu miliar rupiah ke pihak lain.
Awal mula penyelidikan dimulai ketika PT menemukan dua buah KTP dengan nama AH yang berbeda alamat dan status. Salah satunya mencantumkan status “lajang” dan menjadi dokumen yang dipakai untuk pendaftaran pernikahan di kantor urusan agama setempat. Ketika PT memeriksa keabsahan data di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kota Palembang, terkuak bahwa KTP yang selama ini dipakai suaminya bukan dokumen asli.
Penelusuran lebih lanjut mengungkap fakta mengerikan: AH ternyata sudah menikah dengan wanita lain dan memiliki anak. Dengan menggunakan identitas palsu, ia berhasil melangsungkan pernikahan kedua dengan PT tanpa sepengetahuan keluarga atau rekan kerja sang dokter. Selama ini, PT mempercayai AH sepenuhnya, bahkan menganggapnya sebagai pasangan hidup yang mendukung karier medisnya.
Selain penipuan identitas, kasus ini melibatkan dugaan penggelapan aset. Kuasa hukum PT, Suwito, menyatakan bahwa korban mengalami kerugian materi lebih dari Rp1 miliar. Aset-aset yang disita meliputi sebuah rumah di kawasan strategis Palembang, sebuah ruko yang berlokasi di jalan utama, serta mobil mewah tipe SUV. Semua properti tersebut diduga dijaminkan oleh AH kepada pihak ketiga untuk kepentingan pribadi dan keluarganya yang lain.
Berikut rincian aset yang diduga hilang:
- Rumah 2 lantai di Jl. Sultan Mahmud Badaruddin II, nilai pasar Rp600 juta.
- Ruko komersial di Jl. Ahmad Yani, nilai pasar Rp300 juta.
- Mobil SUV Toyota Fortuner tahun 2022, nilai pasar Rp150 juta.
Polrestabes Palembang, melalui Kepala Sat Reskrim Kriminal (Satreskrim) Iptu Sugriwa, menyatakan bahwa laporan telah diterima dan penyelidikan akan dilanjutkan secara mendalam. “Kami akan menelusuri jejak aliran dana serta memverifikasi seluruh dokumen yang dipergunakan oleh terdakwa,” ungkapnya dalam pernyataan resmi.
Kasus ini menimbulkan keprihatinan luas di kalangan profesional medis di Sumatera Selatan. Banyak kolega PT yang menilai bahwa penipuan semacam ini dapat mengganggu konsentrasi kerja serta menurunkan kepercayaan publik terhadap tenaga kesehatan. Sebagai upaya pencegahan, Asosiasi Dokter Indonesia (IDI) Palembang berencana mengadakan seminar mengenai keamanan data pribadi dan pentingnya verifikasi identitas pasangan hidup, terutama bagi para profesional yang memiliki profil publik tinggi.
Di sisi lain, masyarakat umum juga menyoroti fenomena pernikahan palsu yang semakin marak di era digital. Penggunaan KTP palsu dan dokumen identitas yang dimanipulasi menjadi alat utama dalam menipu tidak hanya di ranah pribadi, tetapi juga dalam transaksi properti dan keuangan. Pihak kepolisian setempat berharap kasus ini dapat menjadi contoh bagi penegakan hukum yang lebih tegas terhadap praktik serupa.
Hingga kini, AH belum dapat ditangkap karena masih berada di luar kota, namun pihak berwajib telah mengeluarkan surat perintah penangkapan dan meminta kerja sama publik untuk memberikan informasi. PT berharap proses hukum dapat berjalan cepat, sehingga aset yang telah digadaikan dapat dipulihkan dan keadilan dapat ditegakkan.
Kasus ini sekaligus menjadi peringatan bagi siapa saja yang belum melakukan verifikasi identitas pasangan secara menyeluruh. Di era informasi, identitas dapat dimanipulasi dengan mudah, sehingga penting untuk selalu memastikan keaslian dokumen resmi sebelum mengambil keputusan penting seperti pernikahan atau pengajuan pinjaman.
Dengan segala perkembangan yang ada, publik menantikan hasil penyelidikan resmi yang diperkirakan akan selesai dalam beberapa bulan ke depan. Sementara itu, PT terus berjuang memulihkan reputasi dan kesejahteraan keluarganya, sambil tetap menjalankan tugas medisnya dengan dedikasi tinggi.











