Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 06 Mei 2026 | Insiden yang merebak di media sosial pada pekan lalu memperlihatkan Jaden, putra selebriti Denise Chariesta, menggigit lengan balita bernama Briella saat mereka bermain di sebuah playground. Video yang dibagikan melalui akun Threads pribadi Denise menampilkan momen Jaden tiba‑tiba mencondongkan tubuh dan menggigit lengan Briella, membuat sang balita menangis kesakitan. Setelah kejadian, Denise menghampiri Jaden dengan nada santai, mengulang kata “no, no, baby” berulang‑ulang tanpa menuntut anaknya meminta maaf.
Reaksi warganet pun tak terelakkan. Ribuan komentar melontarkan kecaman tajam, menilai respons ibu satu anak itu terlalu ringan. Netizen menuntut pola asuh yang lebih tegas, mengingatkan bahwa tindakan mengabaikan konsekuensi dapat memperparah perilaku agresif pada anak. Beberapa pengguna media sosial menyoroti bahwa Jaden pernah terlibat perilaku nakal sebelumnya, namun pendekatan “no, no” tetap dipertahankan oleh orang tuanya.
Para ahli psikologi anak menilai bahwa perilaku menggigit pada balita seringkali merupakan tanda eksplorasi sensorik dan kebutuhan untuk menyalurkan energi berlebih. Dalam konteks ini, tindakan Jaden dapat diinterpretasikan sebagai ekspresi dari seorang anak yang sangat aktif, yang belum sepenuhnya memahami batasan sosial. Namun, penting bagi orang tua untuk mengarahkan energi tersebut secara positif, bukan sekadar menegur dengan kata‑kata kosong.
Menurut Dr. Maya Santoso, psikolog anak di Jakarta, “Anak yang sangat aktif memang membutuhkan outlet fisik yang aman, seperti permainan olahraga atau seni gerak. Jika energi tersebut tidak diarahkan, mereka bisa mengalihkan perilaku ke cara yang kurang tepat, termasuk menggigit atau mendorong teman sebayanya.” Ia menambahkan bahwa pendidikan emosional harus dimulai sejak dini, termasuk mengajarkan anak mengakui kesalahan dan meminta maaf secara tulus.
Insiden ini muncul bersamaan dengan kasus viral lain yang menimpa seorang anak bernama Farel, yang meninggal setelah meniru gerakan freestyle dari game populer Free Fire tanpa pengawasan orang dewasa. Meskipun kasus tersebut berbeda jenis, keduanya menyoroti pentingnya pengawasan orang tua terhadap aktivitas anak, baik di dunia nyata maupun digital. Kedua peristiwa mempertegas bahwa anak yang aktif membutuhkan bimbingan khusus untuk menghindari konsekuensi berbahaya.
Berikut beberapa langkah yang dapat diterapkan orang tua untuk menyalurkan energi aktif anak secara konstruktif:
- Mengatur waktu bermain di luar ruangan secara teratur, seperti bersepeda, berlari, atau bermain bola.
- Mengajarkan keterampilan sosial melalui role‑play, sehingga anak belajar cara mengekspresikan emosi tanpa menyakiti orang lain.
- Memberikan pujian ketika anak menunjukkan perilaku empatik, seperti meminta maaf atau membantu teman.
- Menetapkan batasan yang jelas dan konsisten, misalnya menjelaskan bahwa menggigit tidak dapat diterima dan harus diikuti dengan permintaan maaf.
- Melibatkan anak dalam kegiatan terstruktur, seperti kelas seni tari atau seni bela diri, yang dapat menyalurkan energi serta mengajarkan disiplin.
Kesimpulannya, meskipun tindakan Jaden dapat dipandang sebagai manifestasi dari seorang anak yang sangat aktif, respons orang tua harus lebih tegas dan edukatif. Menggabungkan pengawasan yang konsisten, edukasi emosional, serta outlet fisik yang aman dapat membantu mencegah perilaku agresif di masa depan. Kasus serupa, baik yang melibatkan gigitan maupun aksi berbahaya dari game, menegaskan perlunya peran orang tua yang proaktif dalam membimbing generasi muda yang energik.









