Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 05 Mei 2026 | Horsens, Denmark – Pada Minggu, 3 Mei 2026, tim bulutangkis putra China menegaskan kembali kehebatannya dengan mengamankan gelar ke-12 Thomas Cup 2026 melawan Prancis. Pertandingan final yang diselenggarakan di arena utama Horsens berlangsung dengan intensitas tinggi, menampilkan serangkaian duel yang menguji stamina, strategi, dan mental para atlet. Dengan skor akhir 3-1, China berhasil mempertahankan titel yang pertama kali diraihnya pada tahun 2010, sekaligus menambah catatan kejayaan dalam sejarah turnamen beregu paling bergengsi di dunia.
Babak pembuka diwarnai oleh duel tunggal antara Shi Yu Qi melawan Christo Popov, pemain nomor satu dunia yang mewakili Prancis. Pertandingan berlangsung ketat, dengan tiga game yang berakhir 21-16, 16-21, 21-17. Kemenangan Shi Yu Qi memberi keunggulan awal 1-0 bagi China. Meskipun Popov menunjukkan kebolehan serangan yang tajam, ketahanan fisik dan taktik Shi Yu Qi membuatnya mampu menutup pertandingan.
Prancis tidak tinggal diam. Pada partai kedua, Alex Lanier, bintang muda Prancis, menampilkan permainan agresif dan menguasai lapangan secara total. Ia menundukkan Li Shi Feng dengan dua set bersih 21-13, 21-10, sehingga skor menjadi imbang 1-1. Penampilan Lanier menjadi sorotan utama, menandakan generasi baru bulutangkis Eropa yang mulai menantang dominasi Asia.
- Shi Yu Qi vs Christo Popov: 21-16, 16-21, 21-17 (China 1-0)
- Alex Lanier vs Li Shi Feng: 21-13, 21-10 (Prancis menyamakan 1-1)
- Weng Hong Yang vs Toma Junior Popov: 22-20, 20-22, 21-19 (China unggul 2-1)
- He Ji Ting / Ren Xiang Yu vs Eloi Adam / Leo Rossi: 21-13, 21-16 (China final 3-1)
Pertarungan ketiga menampilkan konfrontasi antara Weng Hong Yang dan Toma Junior Popov. Kedua pemain saling menukar serangan, menghasilkan skor yang sangat dekat: 22-20, 20-22, 21-19. Weng berhasil mengamankan kemenangan penting bagi China, mengembalikan keunggulan menjadi 2-1. Pertandingan ini menonjolkan ketahanan mental, karena kedua pemain harus bertahan melawan kelelahan dan tekanan penonton internasional.
Keputusan final berada di tangan pasangan ganda putra China, He Ji Ting dan Ren Xiang Yu. Mereka menampilkan permainan serba cepat, dengan servis tajam dan smash yang menembus pertahanan lawan. Menghadapi pasangan Prancis, Eloi Adam dan Leo Rossi, He dan Ren menutup pertandingan dalam dua set lurus 21-13, 21-16. Kemenangan ini menegaskan skor akhir 3-1, sekaligus mengukuhkan gelar juara kembali bagi China.
Walaupun tidak berhasil mengangkat piala, Prancis mencatat prestasi bersejarah dengan menembus final untuk pertama kalinya sejak debut mereka di Thomas Cup. Sebelumnya, pencapaian terbaik negara ini hanya sampai perempat final. Keberhasilan menembus final menandakan kebangkitan bulutangkis Eropa, terutama setelah Denmark sebelumnya menembus final pada edisi sebelumnya. Para pemain muda seperti Alex Lanier dan saudara Popov menjadi contoh bahwa investasi pada generasi baru dapat menghasilkan hasil yang kompetitif di panggung dunia.
Di luar lapangan, Shi Yu Qi diketahui bermain dalam kondisi kurang optimal karena keluhan kesehatan ringan menjelang final. Namun, ia tetap memotivasi rekan-rekannya dengan semangat juang yang tinggi, menegaskan bahwa mental tim adalah kunci utama kemenangan. Penampilan heroik Shi Yu Qi menambah dimensi heroik pada perjalanan China meraih gelar.
Dengan gelar Thomas Cup 2026 kembali di tangan China, era dominasi Asia dalam bulutangkis putra terus berlanjut. Namun, munculnya kompetitor baru dari Eropa, khususnya Prancis, memberi sinyal perubahan dinamika kompetisi di masa mendatang. Turnamen berikutnya diharapkan akan menyuguhkan persaingan yang lebih ketat, menjanjikan tontonan spektakuler bagi para penggemar bulutangkis dunia.











