Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 04 Mei 2026 | Washington – Pentagon mempercepat transformasi militer menjadi kekuatan tempur berbasis kecerdasan buatan (AI) dengan menandatangani delapan kontrak penting bersama raksasa teknologi dunia, termasuk Google, Microsoft, Amazon, OpenAI, Nvidia, SpaceX, Oracle, dan startup Reflection. Langkah ini dimaksudkan untuk menyediakan beragam kemampuan AI bagi pasukan serta menghindari ketergantungan pada satu vendor. Namun, meski investasi miliaran dolar terus mengalir, Amerika Serikat masih tampak tertinggal dalam perlombaan teknologi strategis yang kini didominasi oleh inisiatif China yang lebih ambisius.
Di sisi lain, Beijing mengumumkan proyek rahasia yang melibatkan ilmuwan terkemuka dari Universitas Harvard. Kolaborasi tersebut bertujuan mengembangkan “teknologi manusia super”—sebuah rangkaian inovasi bio‑teknologi, neuro‑interface, dan AI yang dapat meningkatkan kemampuan fisik serta kognitif manusia secara signifikan. Proyek ini, yang belum diungkapkan secara rinci, dikabarkan sudah memasuki fase uji coba pada subjek manusia pertama, dengan harapan menciptakan prajurit yang lebih kuat, cepat, dan tahan terhadap stres ekstrem.
Perbandingan antara kedua pendekatan menyoroti pergeseran paradigma dalam persaingan global. Amerika menumpukkan AI pada sistem persenjataan konvensional, seperti drone otonom, analisis intelijen, dan simulasi peperangan. Sementara China berfokus pada augmentasi biologis yang dapat mengubah batas kemampuan manusia. Jika berhasil, “teknologi manusia super” berpotensi mengubah aturan permainan militer, menimbulkan kekhawatiran bahwa keunggulan tradisional AS dalam teknologi tinggi akan tergerus oleh keunggulan biologis yang didukung AI.
Di balik dinamika geopolitik, dampak AI terhadap pasar tenaga kerja semakin mengkhawatirkan. Riset Goldman Sachs menunjukkan bahwa pekerja yang digantikan oleh AI berisiko mengalami penurunan gaji rata‑rata 3 % selama satu dekade, serta masa pengangguran yang lebih lama. Penurunan pendapatan riil mencapai 10 poin persentase dibandingkan mereka yang tidak terdampak, dan kualitas pekerjaan cenderung menurun menjadi pekerjaan berkeahlian rendah. Temuan tersebut menggarisbawahi bahwa revolusi AI tidak hanya bersifat militer, melainkan juga ekonomi‑sosial.
- Penurunan upah rata‑rata 3 % dalam 10 tahun setelah kehilangan pekerjaan.
- Peningkatan masa pengangguran rata‑rata satu bulan lebih lama.
- Peralihan ke pekerjaan dengan kebutuhan analitis dan interpersonal yang lebih sedikit.
Kombinasi antara peningkatan kemampuan militer AI dan ancaman penggantian tenaga kerja menciptakan tekanan ganda bagi kebijakan publik. Pemerintah AS harus menyeimbangkan antara memperkuat kemampuan pertahanan dengan memitigasi konsekuensi sosial ekonomi yang dapat memicu ketidakstabilan domestik. Di sisi lain, upaya China dalam mengembangkan manusia super menambah dimensi etika baru, memunculkan pertanyaan tentang hak asasi, regulasi bioteknologi, dan potensi perlombaan senjata biologis.
Para pengamat menilai bahwa tanpa kerangka kerja internasional yang kuat, persaingan ini dapat berujung pada eskalasi tak terkendali. Mereka menyerukan dialog multinasional untuk menetapkan batasan penggunaan AI dalam senjata serta standar etis bagi augmentasi manusia. Sementara itu, dunia kerja harus dipersiapkan melalui program reskilling dan kebijakan perlindungan sosial yang adaptif.
Kesimpulannya, Amerika Serikat sedang berupaya menutup kesenjangan melalui adopsi AI militer, namun China melangkah lebih jauh dengan menggabungkan AI dan bioteknologi untuk menciptakan “teknologi manusia super”. Kedua jalur ini menandai era baru persaingan strategis yang menuntut regulasi internasional, kesiapan ekonomi, dan pertimbangan etis yang matang.











