Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 28 April 2026 | Depok, Jawa Barat – Dua siswa kelas XI jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) di SMK Taruna Bhakti, Rakha Hayya Ilhamsyah (16) dan Balqis Amanda (16), berhasil mengidentifikasi celah keamanan pada sistem milik Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA). Penemuan ini dipublikasikan melalui platform bug bounty internasional dan mendapat pengakuan dari komunitas keamanan siber global.
Rakha mengisahkan bahwa ketertarikannya pada dunia siber bermula dari rasa ingin tahu yang sederhana. Ia mulai bereksperimen dengan perangkat lunak dasar di rumah, kemudian melanjutkan ke program kompetisi lokal seperti Lomba Kompetensi Siswa (LKS). Sementara Balqis memaparkan bahwa ia terinspirasi oleh keberhasilan komunitas bug bounty di kota‑kota lain, sehingga memutuskan bergabung dengan platform resmi seperti Bugcrowd dan HackerOne.
Kedua pelajar tersebut berpartisipasi dalam program Vulnerability Disclosure Program (VDP) yang diselenggarakan NASA. VDP memberikan saluran pelaporan yang aman bagi peneliti keamanan untuk melaporkan temuan tanpa menjanjikan imbalan finansial, namun tetap memberikan penghargaan berupa sertifikat dan pencantuman nama dalam Hall of Fame.
Setelah melakukan serangkaian pengujian penetrasi (penetration testing) dengan menggunakan perangkat standar yang tersedia di laboratorium sekolah, mereka menemukan kerentanan tipe cross‑site scripting (XSS) pada salah satu portal publik NASA. Kerentanan ini memungkinkan penyisipan skrip berbahaya yang dapat mengakses data pengguna secara tidak sah.
Langkah‑langkah Penemuan Celah
- Registrasi pada portal VDP NASA dan mempelajari kebijakan pelaporan.
- Penggunaan tools open‑source seperti Burp Suite dan OWASP ZAP untuk melakukan pemindaian.
- Identifikasi titik masuk potensial pada formulir input publik.
- Eksploitasi XSS secara terbatas untuk membuktikan dampak.
- Penyusunan laporan detail beserta rekomendasi mitigasi.
Laporan tersebut dikirimkan melalui portal resmi NASA dan mendapatkan respons positif dalam waktu 48 jam. NASA mengakui temuan tersebut, menutup celah yang dilaporkan, dan menambahkan nama Rakha serta Balqis ke dalam daftar kontributor keamanan internasional.
Prestasi ini tidak hanya mengangkat nama mereka, tetapi juga memberikan sorotan pada SMK Taruna Bhakti sebagai lembaga pendidikan yang berhasil menghasilkan talenta siber berkualitas. Kepala Sekolah SMK Taruna Bhakti, Bapak Hadi Prasetyo, menyatakan, “Kami bangga karena siswa kami mampu bersaing di panggung global. Ini menjadi bukti bahwa pendidikan berbasis kompetensi dapat menghasilkan inovator yang siap menghadapi tantangan dunia digital.”
Keberhasilan dua remaja ini juga memicu antusiasme di kalangan pelajar Indonesia lainnya. Sejumlah sekolah di Jawa Barat kini berencana memperkuat kurikulum keamanan siber, mengintegrasikan modul bug hunting dan penetration testing secara lebih mendalam.
Selain pengakuan dari NASA, kedua siswa juga menerima sertifikat resmi dari platform bug bounty serta undangan untuk berpartisipasi dalam konferensi keamanan siber internasional yang akan diselenggarakan pada akhir tahun ini. Mereka berencana memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berbagi pengalaman dan memotivasi generasi muda lainnya.
Secara umum, temuan ini menegaskan pentingnya kolaborasi antara lembaga pendidikan, sektor teknologi, dan organisasi internasional dalam menciptakan ekosistem keamanan yang lebih kuat. Dengan dukungan yang tepat, generasi muda Indonesia dapat berperan aktif dalam menjaga integritas sistem kritis di tingkat global.
Ke depan, Rakha dan Balqis berambisi melanjutkan studi di bidang ilmu komputer dan keamanan siber, sambil terus berkontribusi pada program bug bounty. Mereka berharap cerita ini dapat menginspirasi lebih banyak pelajar untuk mengeksplorasi dunia siber dengan etika dan profesionalisme.











